Webminar "Prospek Peternakan Di Era Normal Baru Pasca Pandemi Covid-19" Sukses Digelar

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Humas Dies Natalis ke-54 Fapet Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum mengungkapkan Seminar Teknologi dan Agribisnis Peternakan (STAP) 7 yang di gelar Fakultas Peternakan (Fapet) Unsoed sukses dilaksanakan dengan sistem jarak jauh mengandalkan jaringan internet. Hal ini dilakukan untuk menghindari kontak langsung antar peserta di tengah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Alumnus Fapet Unsoed Ajeng Wirachmi mengatakan, saat ini pandemi virus corona (Covid-19) memasuki bulan ke-4, dia berharap sektor peternakan tanah air harus terus bangkit, meskipun, semua komoditi peternakan terkena imbasnya.

Menyikapi hal tersebut, Fapet Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) membahasnya dalam sebuah seminar nasional STAP7 dengan tema ‘Prospek Peternakan di Era Normal Baru Pasca Pandemi Covid-19’ (27/6) yang diikuti lebih dari 200 peserta dari beragam instansi di seluruh Indonesia. "Acara dilangsungkan dalam jaringan online melalui aplikasi Zoom, " ungkap Einstein.

Salah seorang narasumber Prof. Dr.Ir Budi Santoso,MP. Dosen Nutrisi Ruminansia Universitas Papua menuturkan, seperti halnya sapi potong, pada bulan Maret lalu mengalami penurunan permintaan. 

“Penutupan tempat wisata dan pembatasan kegiatan sosial membuat daya beli masyarakat menurun,” kata dia. 

Budi Santoso menambahkan, sebanyak 130 kawasan sapi potong di Indonesia yang tersebar di 160 kabupaten tengah dikembangkan, diharapkan kembali menunjukkan eksistensinya saat pandemi usai. 

"Integrasi sapi dan sawit yang lama digaungkan dapat menjadi salah satu strategi menolong sektor sapi potong. Pola ranch juga dapat digunakan, tentunya harus  melibatkan peternak rakyat, " katanya.

Sementara, Peneliti Balitbangtan Kementerian Pertanian (Kementan) RI, Dr.Ir.Bees Tiesnamurti menyampaikan bahwa kemungkinan yang terjadi adalah pandemi berlangsung selama lebih dari 2 tahun. 

"Pemerintah pusat dan pemerintah daerah hendaknya menggerakkan semua pihak guna menghasilkan pangan hewani yang lebih baik, dengan  memanfaatkan sumber daya genetik ternak yang tersedia di berbagai daerah," saran Bees. 

Sementara itu, Pemimpin Redaksi majalah Infovet, Ir. Bambang Suharno menyebut jika dampak yang dihadapi peternakan di masa pandemi ini adalah penurunan pasar. Senada dengan Budi, Bambang juga mengatakan bahwa hal ini terjadi akibat daya beli masyarakat yang anjlok. 

"Kabar baiknya, penjualan daging beku meningkat. Tentunya hal ini harus dibiasakan, mengingat produk dalam bentuk beku belum begitu familiar di masyarakat, " kata Bambang.

“Saran saya adalah, sebaiknya infrastruktur untuk pendingin harus diperbaiki. Ini dilakukan demi mengurangi penjualan ayam dalam bentuk hidup dan fluktuasi harga. Pengembangan ekonomi digital, pengaturan pasokan-permintaan dengan ketegasan sanksi juga harus diterapkan,” tambah dia.

Tantangan saat ini menurut Bambang  adalah fluktuasi harga ayam pedaging atau broiler yang kian tajam. Peternak broiler mandiri pun semakin sedikit, berbanding terbalik dengan populasi ayam yang terus meningkat. 

"Pertumbuhan konsumsi lambat akibat adanya isu negatif yang beredar, seperti penyuntikan ayam dengan hormon dan telur penyebab kolesterol, " imbuh Bambang.

Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Prof.Dr.Ismoyowati,MP. menambahkan, bahwa memang benar telur mengandung kolesterol. Namun, kolesterol yang ada merupakan kolesterol baik dari asam lemak tak jenuh. Wanita yang juga Dosen Perunggasan di Fakultas Peternakan Unsoed ini pun menjabarkan jika telur menjadi salah satu bahan pangan yang paling dicari untuk meningkatkan stamina dan kekebalan tubuh selama pandemi. 

“Dari beberapa media, saya ketahui kalau pasien Covid-19 dianjurkan untuk memakan telur. Karena, kaya akan vitamin seperti A, E, B12, dan selenium yang notabene baik untuk imunitas. Tetaplah mengkonsumsi telur 1 – 2 butir demi kebaikan tubuh, " pungkas Ismoyowati. (hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response