Waspadai Makanan Penutup Berbahaya

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Kita semua tahu, narkoba adalah zat adiktif yang sangat berbahaya untuk dikonsumsi, tapi apa jadinya jika kita mengkonsumsi makanan yang ternyata mengandung bahan terlarang? Beragam cara dilakukan oleh para pengedar narkoba untuk memasarkan produk berbahaya mereka tersebut, salah satunya dengan makanan. Berikut adalah contoh kasus yang menjadikan makanan sebagai objek dari pemasaran narkoba.

1.Brownies Berisi Ganja

Sejak tahun 2015, brownies berisi ganja diungkap saat ada laporan seorang anak tidak bangun dalam tidurnya selama 2 hari seusai menkonsumsi sepotong brownies yang ketika diperiksa brownies tersebut mengandung ganja.

Modus baru ini dilakukan oleh pengedar selama 6 bulan untuk memasarkan produknya. ia memasarkan produknya dengan mengemas ganja dalam adonan brownies. Brownies ganja dijual dengan harga Rp 200 ribu per boks, tiap boks berisi 20 potong brownies. dan dipasarkan lewat website atau bisa dipesan melalui telepon atau sms. tidak hanya dipasarkan di Jakarta saja, juga di beberapa kota besar di Indonesia.

Hal yang sama terjadi pada tahun 2019, sejumlah orang lanjut usia berasal dari Kanada dilarikan ke rumah sakit setelah menyantap kue brownies yang di hidangkan di sebuah acara. Setelah diselidiki, kue yang dikonsumsi oleh sejumlah lansia itu adalah kue yang mengandung ganja.

2.Cookies

Baru baru ini masyarakat dihebohkan dengan kasus kue yang mengandung  narkoba. kue ini berbahan dasar terigu yang dicampur alkohol dan beberapa bahan kimia agar  dapat menghasilkan efek pusing dan fly seperti mengkonsumsi narkoba. Cookies dipasarkan dengan harga Rp 100 ribu per kepingnya dan dapat digunakan sebanyak 15 kali.

Bedasarkan dari contoh kasus-kasus yang telah dipaparkan diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Pengedar Narkoba memiliki cara unik lain yang dapat dilakukan oleh mereka untuk membuat masyarakat lengah dalam menghindari narkoba.

Dengan semakin cerdiknya Pengedar tersebut dalam menjual narkoba kepada golongan demografik yang lengah, maka masyarakat secara umum harus lebih mewaspadai makanan-makanan yang mereka konsumsi. Hal ini dapat dicapai dengan lebih kritis mengenai makanan yang mereka konsumsi, seperti menanyakan apakah makanan ini didapat dari sumber yang terpercaya. (Ghea Putri Damayanti, London School of Public Relations Jakarta)

redaksi

No comment

Leave a Response