Waspadai Dampak Psikososial Pada Anak Selama Pandemi Covid-19

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Bagi pelajar, pandemi Covid-19 menyebabkan meningkatnya rasa kecemasan dan kesepian. Mereka cemas akan masa depan. Mereka tidak tahu harus melakukan apa. Dulu, mereka bisa melepaskan ketegangan dengan berkomunikasi sesama teman. Sekarang, ke kantin sekolah saja tidak bisa. 

Seiring waktu, para pelajar mengalami kejenuhan setelah sekian lama mengekang diri di rumah. Salah satu jalan keluarnya adalah mereka bisa belajar dengan tetap bersosialisasi antar sesama pelajar di berbagai kota dan antar negara dengan memanfaatkan teknologi, diantaranya dengan  mengikutsertakan mereka di pertukaran pelajar antar negara secara online. 

Pandemi Covid-19 membuka peluang baru yang selama ini tak terpikirkan yaitu dengan keikutsertaan pertukaran pelajar. Mereka memperoleh dua manfaat yakni manfaat secara sosial dan kesehatan. Diharapkan bersosialisasi sambil belajar antar negara bisa membuat pelajar senang dan bahagia serta berkesempatan berbicara secara bebas tanpa rasa malu. Hal tersebut diungkapkan Koordinator Sistem Informasi Unsoed, Ir.Alief Einstein,M.Hum. saat mendampingi pemaparan Dosen Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan (FIKes) Unsoed Dr. Endang Triyanto, S.Kep.Ns.M.Kep.

Menurut Dr. Endang Triyanto pandemi Covid-19 di Indonesia masih terjadi sampai hari ini. Pandemi ini berlangsung hampir 1,5 tahun. 

"Coronavirus sebagai penyebabnya saat ini masih berbahaya dan mengancam kesehatan manusia. Dampak pandemi Covid-19 yang lama telah mengakibatkan berbagai perubahan di segala sektor. Sektor  perekonomian dan pendidikan merupakan sektor yang paling banyak dikeluhkan masyarakat. Pada sektor pendidikan terjadi perubahan dalam aktivitas pembelajaran yaitu mengharuskan anak-anak belajar secara daring dari rumah," kata Endang Triyanto.

Lebih jauh Endang Triyanto memaparkan bahwa berdasarkan tahap tumbuh kembang manusia, perkembangan otak (kognitif) anak belum terbentuk secara sempurna. Perkembangan kognitif ini menurutnya, terjadi sangat pesat pada saat masa anak-anak. 

"Mereka ingin mengetahui tentang hal-hal baru yang terjadi di sekitarnya. Keingintahuan hal-hal baru ini dilakukan dengan cara yang beragam. Belum sempurnanya perkembangan kognitif pada anak, ketika harus belajar dari rumah dalam jangka waktu yang lama dapat membuat anak jenuh. Suasana belajar dari rumah dibandingkan dengan sekolah tentunya jauh berbeda. Oleh karena itu, sangat mungkin terjadi daya serap anak terhadap materi pelajaran tidak seoptimal ketika belajar tatap muka di sekolah," terangnya.

Disisi lain Endang Triyanto menjelaskan bahwa anak memiliki kebutuhan bersosialisasi. Pembatasan sosial berskala besar yang mengharuskan anak untuk stay at home menurutnya, membuat mereka jenuh. 

"Kebutuhan anak bermain dengan teman-temannya tidak dapat mereka penuhi. Anak mencari hiburan melalui smartphone/gadget dengan bermain game. Tidak jarang berdampak pada kecanduan anak terhadap gadget ataupun smartphone. Keluhan ini banyak dirasakan atau dialami para orangtua selama pandemi Covid-19," ungkapnya. 

Berdasarkan kondisi-kondisi di atas lanjutnya, strategi pembelajaran harus dirancang secara kreatif dan inovatif agar mencapai kompetensi yang diharapkan sekaligus terpenuhi kebutuhan tumbuh kembangnya. 

"Semangat belajar dapat ditumbuhkan oleh guru dan orang tua dengan merancang rutinitas membaca 15 menit serentak di rumah secara virtual. Aktivitas ibadah bersama antara siswa dan guru secara virtual. Untuk menjalin kedekatan antara siswa, orang tua dan guru dapat dilakukan kegiatan family gathering secara virtual. Guru dan siswa dapat merancang kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, menyegarkan, dan saling menyemangati satu sama lain," jelasnya. 

Dr. Endang Triyanto menambahkan bahwa proses pembelajaran hendaknya dilakukan secara menarik, informatif dan komunikatif. Misalnya menggunakan media video pembelajaran, media pertemuan daring yang fleksibel dan juga melalui media sosial. 

"Saat ini, beberapa media sosial telah menyediakan menu untuk mengopload file jpeg, gif, mp3, mp4 sebagai sumber belajar siswa. Guru dapat membuat media pembelajaran dan menguploadnya secara gratis," tambahnya. 

Lebih jauh lagi kata Endang, dapat  dilakukan dengan pertukaran pelajar secara daring, baik lingkup nasional maupun internasional. 

"Siswa dapat melakukan proyek bersama teman-teman dengan memanfaatkan teknologi. Apabila hal tersebut dilakukan, anak akan termotivasi untuk bersaing secara positif dan semangat belajarpun akan  meningkat. Mereka akan berusaha tampil yang terbaik di hadapan teman-teman sebayanya," pungkasnya. (Hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response