Vonis Percobaan Membuat Pihak Korban Kecewa

 

Matamatanews.com, TANGERANG – Ketua majelis hakim Mahmuryadin,SH berpendapat lain dengan jaksa penuntut umum(JPU) M.Ikbal, justru hakim memvonis 9 bulan dengan masa percobaan 1 tahun dan tidak perlu dijalani terdakwa, dengan pertimbangan selama menjalani persidangan terdakwa tidak berbelit belit dan sopan dan mengakui perbuatannya.

Demikian bunyi beberapa kalimat amar putusan ketua majelis tersebut, yang terkesan ketua majelis hakim tidak menghargai kinerja Jaksa yang bersusah payah membuktikan perbuatan pidana terdakwa Aliah alias Eli terhadap korban Rafika.

Sebelumnya, Jaksa menuntut 10 bulan penjara dan denda 50 juta rupiah subsidair 2 bulan penjara karena terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kekerasan terhadap anak seperti dalam dakwaan kesatu melanggar  pasal 80 ayat( 1) jo pasal 76 c Undang undang no.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Pertimbangan terhadap tuntutan,bahwa terdakwa dipersidangan berberlit- belit,tidak mengakui perbuatannya dan mengakibatkan korban mengalami luka.

Ikbal mengatakan bahwa tuntutan hukum segitu cukup untuk terdakwa.,”luka korban tidak parah,tidak menjalani perawatan dan masih bisa melakukan aktifitas”.

Ikbal juga menambahkan, bahwa terdakwa bukan tidak ditahan tapi merupakan tahanan kota. Ada perbedaan pertimbangan antara tuntutan jaksa dan vonis hakim.

Lengkap sudah kekecewaan orang tua korban AndiRafika, seakan tidak percaya dengan kenyataan akan Kinerja jaksa kejati kota tangerang dan hakim pengadilan negeri tangerang. Setelah mengalami rasa sakit dan beban metal akibat prilaku terdakwa Aliah, berharap  keadilan akan datang  namun semuanya hanya angan angan saja. Setelah jaksa tuntut rendah, sekarang hakim vonis percobaan.

”Ada apa dengan kinerja hamba hamba hokum, kenapa hakim memvonis begitu murahnya” terang Para Diba, ibu korban Rafika ketika diminta tanggapannya setelah vonis hakim  dengan nada sewot.

Sementara itu pada era pemerintahan presiden Jokowi sekarang ini, pemerintah sedang galak galaknya menginformasikan kepada publik perihal kekejaman pelaku kekerasan terhadap anak.

“Sudah sepantasnya pelaku kekerasan terhadap anak dihukum seberat beratnya. ini malah terbalik, dengan mudahnya hakim memvonis percobaan perbuatan terdakwa. sama aja hakim membebaskan terdakwa”, tambah Diba.

Mahkamah Agung diminta untuk memeriksa hakim yang menyidangkan perakara ini. Untuk diketahui, pada sebelumnya, Korban Andirafika kepada wartawan ketika sidang mendengarkan keterangan saksi saat itu, mengatakan,”Saya sudah lelah dan takut sama uwa Eli (terdakwa), saya tidak berani keluar rumah sendirian. Takut ketemu keluarga uwa Eli, masih teringat ketika dulu saya diseret uwa Eli, dipukul Fikram Zakia”.

“Saya masih merasa takut saat jaen menduduki umi di bangku. Umi dibekap lalu dilempar ke bangku dan didudukin. Saya masih ingat terus ” ,terang korban.

“Hakim dan jaksa tidak memahami dampak fisikis yang dialami anak kami dan keluarga akibat perbuatan terdakwa. Kami juga sudah melaporkan pengeroyokan yang dilakukan terdakwa ke polsek batu ceper. Saya benar-benar kecewa dan kesal, akan kami laporkan hakim itu kekomisi yudisial dan jaksa kekejaksaan Agung” ,terang Para Diba yang didampingi suaminya.

Penganiayaan ini terjadi pada tanggal 23 Agustus 2016 lalu, diperumahan pinang  griya Ciledug kota tangerang, dirumah terdakwa Aliah. Saat itu korban dengan kakaknya bermaksud mengambil vas bunga milik orang tuanya, namun tidak diperbolehkan karena terdakwa telah membeli dari penitipan sehingga terjadi cekcok mulut.

Karena merasa miliknya, korban berusaha untuk mengambil vas bunga tersebut hingga terjadi tarik menarik dan akhirnya vas bunga tersebut jatuh dan pecah. Pecahan vas bunga melukai jari kaki korban dan berdarah. Selain luka berdarah, terungkap dalam dakwaan jaksa penuntut umum, korban juga merasa sakit dibagian punggung akibat dipukuli terdakwa. (Tony gunawan)

sam

No comment

Leave a Response