Untidar Magelang Lantik Dr.Ir.Noor Farid .Msi Sebagai Warek

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO—Alief Einstein selaku Koordinator Sistem Informasi Unsoed menjelaskan, salah satu Wakil Rektor Universitas Tidar (UNTIDAR) Magelang Jawa Tengah yang dilantik adalah Dr.Ir. Noor Farid, M.Si. yang juga Ketua Jurusan/Program Studi Agroteknologi Fakultas PertanianUniversitas Jenderal Soedirman / UNSOED Purwokerto Jawa Tengah. “ Dr. Ir. Noor Farid, M.Si. juga dikenal peneliti bawang merah yang dapat menekan penyakit jantung, " ungkapnya.

 Seperti diketahui Universitas Tidar Kota Magelang, Jawa Tengah  selama ini berstatus swasta, alih status menjadi perguruan tinggi negeri dengan sebutan Untidar, mulai Rabu (02 April 2014). Peresmiannya di Istana Negara dengan prasasti yang ditandatangani  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 

Menurut Dosen Fakultas Pertanian Unsoed Dr.Eni Sumarni, STp.,M.Si. yang mendampingi suaminya Dr.Ir. Noor Farid, M.Si. saat pelantikan Wakil Rektor Universitas Tidar (UNTIDAR) Magelang, menyatakan, Rektor Universitas Tidar (UNTIDAR) Magelang Jawa Tengah, Prof. Dr. Ir. Mukh Arifin, M.Sc. melantik 3 (tiga)wakil rektor periode 2019-2023 pada hari Jumat  01 Maret 2019. 

"Acara pelantikan dilaksanakan di ruang multimedia UNTIDAR disaksikan jajaran pimpinan di lingkungan fakultas dan universitas serta perwakilan mahasiswa. Ketiga wakil rektor yang dilantik adalah Dr. Ir. Noor Farid, M.Si. dari Universitas Jenderal Soedirman sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik (WR I) menggantikan Prof. Dr. Joko Widodo, M.Pd. dari Universitas Negeri Semarang, Dr. Jaka Isgiyarta, M.Si., CA, Akt dari Universitas Diponegoro sebagai Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan (WR II) menggantikan Drs. Heri Suroso, S.T., M.T. dari Universitas Negeri Semarang, Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si. dari Universitas Sebelas Maret sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WR III) menggantikan Dr. Bambang Kuncoro, M.Si. dari Universitas Jenderal Soedirman, "ungkapnya. 

Inilah Diantara Karya Produktif Dr.Ir. Noor Farid, MSi Yang Fenomenal

1.   Perakitan Jeruk Tanpa Biji Kultivar Lokal Dengan Mutasi Sinar Gamma untuk Peningkatan Hasil Lahan Kering dan Efisiensi Hara pada Dataran Rendah (2018). Tim Peneliti adalah Noor Farid, Eni Sumarni dan Agus Sarjito.

 Dalam rangka meningkatkan daya saing jeruk lokal, maka penelitian ini bertujuan untuk perakitan jeruk tanpa biji pada kultivar lokal dengan mutasi fisik/radiasi sinar gamma. Pengembangan pertanian jeruk tanpa biji di lahan kering ini sejalan dengan renstra Unsoed yang mengembangkan perdesaan berbasis sumberdaya lokal dan berkelanjutan serta pada lahan marginal.

Metode yang dilakukan adalah perlakuan mutasi dengan sinar gamma  5 dan 7 Krad pada entres jeruk kultivar lokal (Lokal Tawangmangu, Siam Madu, Siam Pontianak).  Selanjutnya mutan tersebut disambung pada pohon produktif untuk dievaluasi.  Peningkatan produksi jeruk dengan penambahan modifikasi pupuk cair dengan diterapkan lewat daun dan tempat tanam.  Hasil yang telah diperoleh adalah jumlah mutan hidup sebanyak 260 mutan; 2. mutan S517 tergolong efisien hara, dan mutan T514 tidak tumbuh, karena kultivar ini kurang sesuai untuk dataran rendah.

 2.  Perakitan Bawang Merah dengan Kandungan Sulfur Tinggi untuk Mencegah Penyakit Jantung  (2013-2015) Tim peneliti adalah Noor Farid, Agus Sarjito dan Hidayah Dwiyanti.

 Produksi bawang merah belum mencukupi kebutuhan Indonesia dan produktivitasnya tergolong rendah. Hasil penelitian persilangan setengah dialel dengan 7 tetua diperoleh genotip bawang merah dengan kandungan Sulfur, fenol, antosianin tinggi. Manfaat kandungan S yang tinggi dapat digunakan untuk mencegah penyakit jantung. Unsur tersebut tergolong sulfurorganoprotein. Penelitian ini bertujuan tahun untuk: (1) Mendapatkan genotip bawang merah hasil tinggi dan kandungan S tinggi, (2) mendapatkan genotipe bawang merah yang dapat menekan penyakit jantung (tekanan darah tinggi)

 Percobaan  efektivitas bawang merah yang dapat menekan penyakit jantung digunakan dulu pada tikus putih yang dibuat hipertensi. Percobaan menggunakan tikus putih yang telah berumur 30 hari dengan berat 95-188 g. Penyakit hipertensi dipacu dengan pemberian 0 mg NaCl/200g berat badan (kontrol normal), 30 tikus putih sebagai kontrol diberi 2 mg NaCl/200 g berat badan (10 sebagai kontrol tekanan darah tinggi; dan 10 tikus putih diberi 80 mg bawang genotipe A (G0781)/200 g berat badan, 10 tikus putih diberi 80 mg bawang genotipe A (G0579)/200 g berat badan). Perlakuan bawang merah diberikan sebanyak: 0 (kontrol); 80 mg/200 g berat badan/hr dan genotipe bawang merah ada 2 (G0781, G0579). Makanan tikus putih menurut standar Lab (karbohidrat 420, protein 240, lemak 60, serat 70, vitamin dan mineral) dalam g/kg. Setiap hari diamati bobot berat badan tikus, tekanan darah dan setelah 2 minggu setelah investasi diamati SOD dan MDA serum.

 Hasil penelitian adalah : (1) Genotipe bawang merah G0579 mampu menekan tekanan darah tinggi (-16.05 mmHg) dibandingkan G0781 (-9,06 mmHg), (2) Genotipe bawang merah G0579 lebih besar dalam menekan stress oksidatif dari pada genotipe G0871, (3) Karakter tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah umbi dari tidak dipengaruhi oleh penambahan unsur S, (4) Ada perbedaan tanggap genotipe bawang merah pada pemberian unsur sulfur pada karakter panjang daun serta bobot umbi, (5) Genotipe bawang merah yang menghasilkan umbi tertinggi pada pemberian unsur sulfur 30 ppm adalah G5 dan G12, tetapi pada penambahan unsur sulfur 90 ppm genotipe yang hasil umbi tertinggi yaitu G10 dan G9, (6) Penambahan unsur sulfur pada nutrisi dapat meningkatakan hasil pada genotipe bawang merah G7, G8, G9 dan G10, (7) Penambahan unsur sulfur pada nutrisi dapat meningkatkan kandungan sulfur umbi pada genotipe bawang merah Bima Juna dan G5

 3.  Perakitan Klon Bawang Merah Hasil Tinggi dan Tahan Penyakit Bercak Ungu (Desertasi).

Kegiatan penelitian menyilangkan/mengawinkan 7 varietas bawang merah (Tiron, Bima, Kuning, Sibolangit, Timor, Philipine, Maja) selanjutnya diuji ketahanannya terhadap penyakit bercak ungu dan daya hasil.  Diperoleh 2 genotipe bawang merah tahan penyakit bercak ungu dan 5 genotipe hasil tinggi dibanding kontrol.

 5.  Pemulia kedelai Slamet dan Sindoro yang hasil tinggi dan toleran tanah masam (Sunarto, Suwarto, Noor Farid)

 6.  Pemulia padi Inpari Unsoed 79 Agritan yang sesuai lahan sawah dan lahan salin (Suprayogi dan Noor Farid). Telah disebarkan di Jawa Tengah dengan Program Hilirisasi Ristekdikti dan sekarang telah ditanam di Sumatra, Irian Jaya. Saat ini padi ini akan jadi programTeaching Industry bersama padi Inpago Unsoed 1, dan Parimas (program Ristekdikti).*(hen/berbagai sumber)

 

 

 

 

 

sam

No comment

Leave a Response