Unsoed Berupaya Kembangkan produksi Purwoceng di Sentra Pariwisata Dieng-Banjarnegara

 

Matamatanewsa.com,PURWOKERTOAlief Einstein selaku Koordinator Sistem Informasi Unsoed menerangkan bahwa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto Jawa Tengah melalui Skema Pengabdian Bagi Masyarakat Hi Link tahun 2017 melakukan transfer teknologi dalam rangka mendukung pengembangan purwoceng disektor hilir (produksi simplisia, ekstrak, dan suplemen minuman), melalui  pengembangan sektor hulu, yaitu teknologi budidaya yang baik, sehat, dan kontinyu.Einstein berharap program pengabdian ini mendapat dukungan dan semangat dari kelompok tani.

Budidaya Purwoceng di lahan terbuka memiliki kendala faktor iklim yang fluktuatif akibat hujan dan angin. Kondisi tersebut bisa menyebabkan hasil panen purwoceng tidak seragam tiap  tanamannya. Curah hujan yang tinggi di lahan terbuka dengan kualitas  air yang banyak dapat mengakibatkan sebagaian atau seluruh tanaman rusak, dan memicu hama serta penyakit.Selain itu, setiap tahun di sentra produksi purwoceng mengalami musim kemarau dapat menyebabkan cekaman lingkungan hingga dapat berdampak negatif bagi tanaman purwoceng itu sendiri.Oleh karena itu perlu upaya untuk pengembangan tanaman purwoceng sekaligus mendukung pariwisata  daerah di Banjarnegara.

Upaya peningkatan produksi purwoceng di Sentra Banjarnegara dilakukan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Hi-Link (Kemenristekdikti) antara Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan Kelompok Tani Grend Potato. Program Hi-Link ini mendorong produksi purwoceng secara terencana, terkendali, bebas pestisida dan memperhatikan konservasi lahan. Produsen/sentra-sentra produksi purwoceng akan tumbuh dengan adanya transfer teknologi dari Universitas Jenderal Soedirman, rancang bangun greenhouse terkendali untuk iklim tropika basah seperti Indonesia, konservasi lahan akan mendorong kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pengusahaan purwoceng dalam rangka mengurangi status kepunahan purwoceng.

Berdasarkan penelusuran data, Indonesia memiliki ketergantungan yang besar terhadap obat impor, sehingga perlu alternatif substitusi produk dalam negeri. Produk ekstrak herbal seperti ginseng memiliki pasar terbesar di dunia. Berdasarkan klaim terhadap khasiat yang dimiliki, prospek pengembangan sertatrend investasi kedepan, dipilih komoditas tanaman obat potensial yaitu purwoceng. Purwoceng dapat dikembangkan untuk komplemen dan substitusi ginseng impor. Namun, purwoceng memiliki permasalahan, yaitu status kelangkaan (endangered species). Saat ini purwoceng ± 90% digunakan untuk keperluan domestik, sedangkan penggunaan untuk industri farmasi masih terbatas. Industri jamu kekurangan bahan baku dan beralih ke ginseng impor.

Tim pengabdi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang diketuai oleh Dr.Eni Sumarni, STP.,M.Si. (bidang keahlian Teknologi Pertanian) dan anggota tim Dr.Ir.Noor Farid,M.Si (bidang keahlian Pemuliaan dan Bioteknologi), Hanif Nasiatul Baroroh,S.Farm.,Apt,M.Sc (bidang keahlian Farmasi). dan Prof.Ir.Loekas Soesanto,M.S.,PhD (bidang keahlian Hama dan Penyakit Tumbuhan). melalui skema pengabdian Hi Link Kementrian Ristekdikti melakukan pengabdian kepada masyarakat dengan membina kelompok tani purwoceng  serta bermitra dengan Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Banjarnegara untuk membantu peningkatan produksi purwoceng dan olahanya.

Dari penelusuran data, Dr.Eni Sumarni,S.TP,M.Si. mengatakan, Populasi purwoceng saat ini sudah langka karena mengalami erosi genetik secara besar-besaran. Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh kegiatan eksploitasi berlebihan tanpa upaya konservasi. Perusahaan obat tradisional (jamu) sebagian besar memanen purwoceng secara langsung dari habitatnya tanpa usaha peremajaan. Bahan utama tanaman purwoceng yang dipanen adalah akarnya, maka tindakan pemanenan secara otomatis merusak tanaman secara keseluruhan. Permasalahan lain adalah mahalnya harga bibit purwoceng yang mencapai Rp 4.000-Rp 10.000 per batang, bahkan harga benih dapat mencapai jutaan rupiah setiap ons.

Fluktuasi produksi tanaman obat purwoceng menjadi salah satu kendala pemenuhan permintaan. Oleh karena itu itu perlu penerapan teknik budidaya yang baik dan pengembangan sentra produksi purwoceng dalam rangka peningkatan produksi dan alternatif substitusi produk untuk mengurangi ketergantungan yang besar terhadap obat impor. Hal tersebut dapat dilakukan dengan penanaman yang terkontrol di dalam greenhouse. Sampai mulai 40 Hari setelah tanam nampak perbedaan pertumbuhan antara tanaman yang dikontrol di dalam greenhouse dengan purwoceng yang ditanam di luar greenhouse. Teknik irigasi yang diberikan di dalam greenhouse menggunakan irigasi drip.

Irigasi tetes adalah metode pemberian air pada tanaman secara langsung, baik pada areal perakaran tanaman maupun pada permukaan tanah melalui tetesan secara kontinu dan perlahan. Efisiensi penggunaan air dengan sistem irigasi tetes dapat mencapai 80%. Nutrient FilmTehnique (NFT) merupakan metode budidaya tanaman dimana akar tanaman tumbuh di dalam larutan nutrisi sangat dangkal yang membentuk lapisan tipis nutrisi (nutrient film) dan tersirkulasi. Dengan demikian, tanaman dapat memperoleh unsur hara, air, dan oksigen yang cukup.

Beberapa keuntungan sistem aeroponik dan NFT yaitu kemudahan panen (akar dapat dipanen sesuai ukuran dan dapat dilihat melalui slab/talang), kontrol nutrisi, efisien dalam penggunaan lahan sehingga menguntungkan. Teknologigreenhouse dan penanaman secara irigasi drip dan NFT menghasilkan sayuran yang bebas pestisida setelah diuji di Laboratorium Sucofindo (Sumarni, 2015) dan untuk purwoceng tahun 2017. Dari hasil tersebut maka pengembangan sentra produksi purwoceng dengan aplikasi irigasi drip dan NFT melalui program Hi-Link dapat mendukung ketersediaan obat unggulan daerah dan mencegah kepunahan di sentra pariwisata Dieng Banjarnegara.

Penggunaan greenhouse dengan Irigasi tetes telah berhasil untuk budidaya kembang kol dan sayuran lainya dengan hasil panen mencapai tanaman 58 g/tanaman. Irigasi drip juga telah diaplikasikan pada stroberi dan bunga krisan, selada, bawang putih, tomat, jagung, dan penggunaanya terus meningkat di Amerika Serikat. Irigasi drip juga dianjurkan dan telah diaplikasikan untuk tanaman lavender, tanaman purwoceng di dataran medium karena dapat membantu pengendalian gulma.

Dr.Eni Sumarni,S.TP,M.Si. dan tim masih terus melakukan monitoring terhadap transfer teknologi yang dilakukan, semoga kedepannya teknologi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan petani purwoceng khususnya.

Rencana kegiatan tahun selanjutnya adalah penyempurnaan olahan purwoceng, kemasan purwoceng dan diversifikasi produk purwoceng. Produk purwoceng berupa minuman, keripik daun purwoceng. Produk khas purwoceng  dengan campuran sidat merupakan produk untuk stamina dan vitalitas pria. Produk ini juga mendapatkan perhatian dalam program pengabdian ini, yaitu untuk label komposisi atau kandungan secara jelasnya dan selanjutnya perlu dilakukan pendaftaran sertifikasi halal dalam rangka persiapan pemasaran dan juga perbaikan kemasan agar berdaya saing. Produk purwoceng perlu ditingkatkan lagi, yaitu penambahan varian rasa untuk produk minuman, seperti purwoceng rasa stroberi, vanilla, atau coco pandan.(Alief E,hen)

 

 

 

 

 

 

sam

No comment

Leave a Response