Tunisia Diguncang Kerusuhan Ditengah Tingginya Angka Kemiskinan

 

Matamatanews.com,  TUNISIA—Aksi protes yang berujung kerusuhan pada akhir pekan di berbagai kota di Tunisia dan kota pesisir Sousse itu disebabkan akibat semakin sempitnya perekonomian hingga  menimbulkan kemarahan rakyat.Demonstrasi yang terjadi pada Sabtu (16/1/2021) malam itu menandai ulang tahun ke-10 revolusi penggulingan presiden Zine El Abidine Ali hingga memicu pemberontakan Musim Semi Arab yang menggulingkan para diktator di Afrika dan Teluk.

Kepada Reuters, juru bicara Pasukan Keamanan Dalam negeri Walid Hkima mengatakan abahwapolaisi anti huru hara menangkap sedikitnya 250 orang, kebanyaakan remaja, yang telah merusak properti dan mencoba merampok toko dan bank.

Aksi protes yang dimulai pada hari Jum’at (15/1/2021) di sedikitnya 15 kota itu menimbulkan keprihatinan banyak pihak, dimana dalam postingan video yang diunggah di media sosial menunjukkan polisi mendorong gembala yang dombanya telah memasuki markas pemerintah setempat.

Para saksi mata di Sousse mengatakan bahwa ratusan pengunjuk rasa yang marah dan memblokir jalan serta membakar ban , dibubarkan pasukan keamanan dengan tembakkan gas air mata.Sumber keamanan mengatakan, tembakkan gas air mata dilepaskan karena para pengunjuk rasa  menjarah toko.

Seperti di lansir Al Mujtamaa Magazine, aksi protes  berujung kekerasan juga terjadi di beberapa bagian ibu kota Tunis. Para pengunjuk rasa yang di dominasi remaja itu memblokir jalan dan melempari polisi dengan batu yang dibalas dengan tembakkan meriam air dan gas air mata untuk membubarkannya.

Sejak revolusi melawan pengangguran, kemiskinan, korupsi dan ketidakadilan, Tunisia telah mengalami kemajuan dalam demokrasi, tetapi situasi ekonominya kini telah memburuk dan negara itu  di ambang kebangkrutan.

Aksi protes itu menjadi tantangan bagi pemerintah Hicham Mechichi yang telah memberlakukan lockdown selama empat hari yang dimulai pada hari Kamis (14/1/2021) untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Namun rupanya lockdown dan larangan aksi protes anti pemerintah tidak mengurangi para demonstran untuk terus melakukan kritik maupun aksinya di berbagai daerah.

Banyak warga Tunisia mempertanyakan waktu empat hari penguncian (lockdown)

Musim Semi Arab 2010 dipicu oleh seorang penjual buah berusia 26 tahun, Mohammed Bouazizi, yang membakar dirinya pada Desember tahun itu untuk memprotes penghinaan polisi di Sidi Bouzid, sebuah kota di pedalaman Tunisia yang terabaikan.

Kematian Bouazizi menimbulkan ketidakpuasan yang membara dan demonstrasi massa melawan kemiskinan, pengangguran dan penindasan yang menyebar ke seluruh dunia Arab, memberi anak-anak muda yang tertindas masa harapan singkat.(cam/berbagai sumber)

redaksi

No comment

Leave a Response