Tulis Data Kasus Corona Berbeda, Mesir Usir Wartawan Harian Inggris “ The Guardian”

 

Matamatanews.com, KAIRO—Pemerintah Mesir dikabarkan mengusir  seorang wartawan harian Inggris “The Guardian”,Ruth Michaelson, atas laporannya yang mengutip hasil penelitian bahwa jumlah resmi kasus virus corona di negara berpenduduk terbesar di jazirah Arab tersebut jauh lebih tinggi dari angka yang dipublis kemasyarakat.

Ruth Michaelson seperti  dikutip kantor berita Associated Press (AP)  dari The Guardian telah meninggalkan negara itu setelah diplomat Barat mengabarkan bahwa dinas keamanan Mesir menginginkan dirinya pergi  dalam waktu cepat.

Dalam laporannya Michaelson menulis diperkirakan Mesir memiliki lebih dari 19.000 COVID-19 kasus pada awal maret lalu, yang pada saat itu pihak berwenang mengumumkan jumlah kasus resmi  hanya tiga.Michaelson yang asal Jerman, dikabarkan telah meninggalkan Mesir menggunakan penerbangan khusus yang membawa khusus turis yang terlantar dan warga negara asing.

Sebenarnya laporan yang ditulis Michaelson pada 15 Maret lalu itu merupakan hasil studi ilmiah sekelompok ahli penyakit menular dari Universitas Toronto , Kanada (University of Toronto) dan data kesehatan masyarakat serta  berita.

Kamis (26/3/2020) kemarin, menurut Kementerian Kesehatan setempat menyebutkan, bahwa jumlah keseluruhan kasus di Mesir meningkat menjadi 546 setelah 54 kasus baru terdeteksi.Menurut data yang dihimpun John Hopkins University yang berbasis di Amerika Serikat menyebutkan, kasus virus corona pertama kali muncul dan mencuat di Wuhan, Cina, pada Desember 2019 lalu,setelah itu menyebar ke sedikitnya 175 negara dan wilayah.

Dalam pernyataannya pada Kamis kemarin,Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa otoritas Mesir mengancam akan menutup biro The Guardian di Kairo,Mesir, jika surat kabar itu menolak untuk menarik tulisan dan meminta maaf  secararesmi.Pihak Mesir mengatakan ada sekitar 495 kasus virus corona baru di negara tersebut, termasuk 24 orang meninggal.

Pihak The Guardin menyatakan bahwa pihaknya menawarkan untuk memuat bantahan  otoritas Mesir dari studi ilmiah yang dilakuak Universitas Toronto, namun sayang tawaran tersebut ditolak Mesir.

"Kami menyesal bahwa pihak berwenang Mesir telah memilih untuk mencabut akreditasi dari seorang reporter yang bekerja untuk organisasi media independen yang tepercaya seperti Guardian," kata juru bicara surat kabar itu.(bar/berbagai sumber)

redaksi

No comment

Leave a Response