"Toxic Positivity" Covid-19 Pasca PPKM Dan Jateng Di Rumah Saja

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Masa pandemi Covid-19 tak hanya menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi, tetapi juga merupakan momen yang tepat bagi semua orang untuk dapat berperilaku hidup sehat. Kecepatan pengembangan vaksin memberikan harapan untuk keluar dari pandemi Covid-19. 

"Vaksin hanya salah satu tameng untuk melindungi manusia dari Covid-19. Langkah-langkah epidemiologi lain untuk mengendalikan wabah, di antaranya melalui penguatan tes, lacak, isolasi, membatasi pergerakan manusia, dan mencegah kerumunan," ungkap Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein, M.Hum.

Sementara Dosen Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Yudhi Wibowo,MPH memaparkan bahwa PPKM jilid 1 dan 2 serta program “Jateng di rumah saja” telah dilaksanakan di seluruh daerah di Jawa Tengah. Saat kebijakan PPKM disoundingkan menurut Yudhi, muncul terminology Banyumas Raya yang ternyata meliputi daerah Banjarnegara, Purbalingga,, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen dan daerah sekitar meliputi Kab. Wonosobo dan Purworejo. Lalu, bagaimana data Covid-19 di daerah tersbut setelah pelaksanaan PPKM jilid 1, jilid 2 serta program “Jateng di rumah saja”?. 

KASUS COVID-19

dr.Yudhi Wibowo menjelaskan paska penerapan kebijakan PPKM, per tanggal 12-02-2021 tercatat jumlah kasus terkonfirmasi positif tertinggi 7.453 orang (Banyumas) dan terendah 1.933 orang (Banjarnegara), sedangkan Kab. Cilacap belum diperoleh datanya karena web.site mengalami error. 

Jumlah kasus sembuh tertinggi yaitu 6.398 orang atau 85,8% (Banyumas) dan terendah 1.563 orang atau 80,9% (Banjarnegara). Persentase kesembuhan tertinggi yaitu 90,7% di Kab. Purworejo. Kasus kematian karena Covid-19 tertinggi 378 orang atau Case Fatality Rate (CFR) 5,07% (Banyumas) dan terendah 91 orang atau CFR 4,71% (Banjarnegara). CFR tertinggi di Kab. Wonosobo yaitu 5,53%. 

Semua kabupaten memiliki CFR di atas CFR Nasional yaitu 2,72% dan CFR Global 2,19%. Untuk data kasus aktif dan tingkat keterisian tempat tidur di RS belum diperoleh dari situs resmi masing-masing kabupaten tersebut, termasuk jumlah orang yang diperiksa swab dan yang positif harian, hal ini penting untuk melihat tingkat positivity rate harian atau mingguan.

FENOMENA TOXIC POSITIVITY

Menurut ahli Epidemiologi Lapangan/Field Epidemiology Fakultas Kedokteran Unsoed ini bahwa tingkat kesembuhan sering kali disampaikan oleh pemerintah, seolah-olah permasalahan Covid-19 merupakan hal yang biasa saja karena angka kesembuhan meningkat, sehingga merasa aman. Hal ini yang disebut sebagai toxic positivity yaitu sikap positif yang berlebihan, merasa seolah-olah baik-baik saja di tengah krisis pandemi Covid-19 ini. 

Informasi ini bisa memunculkan anggapan masyarakat bahwa pandemi Covid-19 sesuatu hal yang biasa-biasa saja sehingga disikapi dengan biasa saja bahkan mulai ada kecenderungan mengabaikan bahaya pandemi Covid-19. Apalagi saat ini banyak isu tentang bagaimana menyelamatkan perekonomian, ekonomi harus jalan, dan tidak boleh berhenti serta seterusnya. Jika sikap toxic positivity dan isu penyelamatan ekonomi selalu yang digaungkan, sudah pasti akan kontraproduktif dalam rangka pencegahan dan penanggulangan Covid-19.

Informasi lain adalah terkait tingkat keterisian di RS yang menurun, hal ini harus dilihat apakah karena ada penambahan TT sampai dengan 30% dari kapasitas tempat tidur di RS tersebut. Karena jika kapasitas TT sudah ditambah dan ini sebagai pembagi, tentunya tingkat keterisian di RS menurun. Belum lagi bagaiman jumlah orang yang diperiksa swab dan rasio kasus-lacak apakah sudah sesuai standart WHO. 

Justru, informasi dari masalah utama atau penyebab utama pandemi Covid-19 belum dapat dikendalikan yang harus disampaikan, agar bisa mengevaluasi diri atas kemampuan sumber daya yang ada, kemudian melakukan upaya perbaikan secara terus-menerus. 

"Misal menyampaikan tingkat kematian yang masih tinggi di atas tingkat kematian nasional dan global, kapasitas di fasyankes terkait sarpras dan SDM Kesehatan yang kurang, tingkat kedisiplinan terhadap prokes yang menurun, mobilitas penduduk yang masih tinggi dan kapasitas testing dan tracing yang rendah, dan upaya karantina dan isolasi mandiri yang belum sesuai standar. Informasi ini harus diungkap secara terbuka dan transparan kepada masyarakat," rincinya. 

PPKM BERBASIS MIKRO

dr.Yudhi yang juga Tim Ahli Satgas Covid-19 PemKab Banyumas ini menambahkan bahwa satu point yang bagus dalam kebijakan ini yaitu ada upaya peningkatan kapasitas 3T dan isolasi terutama di level mikro (RT) meskipun disisi lain ada pelonggaran mobilitas dengan alasan ekonomi tidak boleh berhenti. Kebijkan ini sebaiknya bukan hanya memetakan zonasi saja di level RT, tapi justru upaya tracing, testing, karantina, isolasi mandiri, isolasi terpusat, segera merujuk jika gejala sedang-berat/kritis serta upaya skrining yang harus menjadi perhatian utama. 

Agar kebijakan ini berjalan optimal, sangat dibutuhkan kerja sama semua lintas sektor dan dukungan sumber daya yang harus berkelanjutan. Hal lain jangan sampai melupakan bantuan sosial bagi warga yang sakit apalagi tidak mampu secara sosial. 

Sangat diperlukan keterlibatan masyarakat dengan penuh kesadaran bahwa pandemi Covid-19 adalah nyata dan sangat berbahaya terutama bagi mereka yang masuk kelompok risiko tinggi meskipun ada beberapa kasus kematian ternyata masih relatif muda dan tanpa komorbid. Harus bisa diwujudkan desa tangguh melawan Covid-19 secara mandiri agar pandemi ini segera berakhir, tentunya tetap dengan dukungan penuh dari pemerintah.(hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response