Ternak, Bagian Tak Terpisahkan Bagi Masyarakat Sumba

 

Matamatanews.com, SUMBA - Pulau Sumba merupakan bagian dari wilayah Indonesia yang terletak di tenggara Pulau Jawa. Pulau ini terkenal dengan keindahan alamnya, pantai-pantai yang eksotis, dan keberagaman budaya yang kaya. Masyarakat Sumba dikenal memiliki tradisi adat yang kuat, seperti upacara adat dan rumah adat yang disebut "Ratenggaro". Selain itu, Sumba juga terkenal dengan tenun ikat tradisionalnya yang indah dan kuda Sumba yang merupakan simbol penting dalam kehidupan mereka, demikian pemaparan jarak jauh 

Wakil Dekan Bidang Akademik, Fakultas Peternakan, Unsoed Novie Andri Setianto,S.Pt.,M.Sc.,Ph.D, IPU., memaparkan bahwa Pulau Sumba memiliki 4 kabupaten, yakni Kab. Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya.  

"Sumba terletak di Propinsi NTT, untuk menjangkaunya  paling mudah menggunakan jalur penerbangan. Terdapat dua bandara yakni  Bandara Lede Kalumbang di Tambolaka, yang merupakan akses dari Barat, serta Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu untuk yang membutuhkan akses dari Timur," kata Novie, didampingi Ir.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com.

Alumni S3 dari the University of Queensland, Australia ini mengatakan bahwa Pulau Sumba memiliki potensi wisata yang khas, antara lain:1. Pantai Eksotis: Sumba memiliki pantai-pantai yang memukau seperti Pantai Tarimbang dan Pantai Weekuri. Pasir putih, ombak indah, dan tebing-tebing karang menambah pesona alamnya.

2. Tradisi dan Budaya: Upacara adat, tarian tradisional, dan arsitektur rumah adat seperti Ratenggaro menawarkan pengalaman budaya yang unik.

3. Tenun Ikat:Sumba terkenal dengan tenun ikat tradisionalnya. Wisatawan dapat mengunjungi desa-desa pengrajin tenun untuk melihat proses pembuatan dan membeli produk-produk khas Sumba.

4. Savana dan Perbukitan: Lanskap savana dan perbukitan di Sumba memberikan pengalaman berbeda dan menjadi daya tarik bagi wisatawan pecinta alam.

5. Kuda Sumba: Kuda Sumba yang eksotis dan gagah menjadi daya tarik tersendiri. Pusat pembiakan kuda di Wanokaka menjadi tempat menarik untuk dikunjungi.

Novie,PhD. yang juga dosen ahli Sistem Analisis dan Dynamic Modelling dari Unsoed ini menjelaskan bahwa Pemerintah dan masyarakat setempat terus mengembangkan potensi wisata tersebut untuk meningkatkan ekonomi lokal dan mempromosikan keindahan serta keberagaman budaya kepada dunia.

"Lanskap yang berbukit dengan padang rumput dan savana menjadi pemandangan khas yang segera kelihatan begitu menginjakkan kaki di Sumba,"kata Novie.

Budidaya ternak menurut Novie,PhD. merupakan bagian dari keseharian masyarakat Sumba. Kerbau, Babi, Kambing, dan Sapi merupakan ternak yang banyak dipelihara disamping Kuda yang merupakan icon Sumba. Lahan padang dan savana yang luas menjadi potensi pendukung utama yang mendorong pertumbuhan peternakan di Pulau Sumba. 

Untuk mempelajari lebih mendalam tentang keseharian masyarakat peternak di Sumba, di penghujung tahun 2023 ini  LPPM Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto  menandatangani kerjasama dengan LPPM Universitas Katholik Weetebula di Kabupaten Sumba Barat Daya.  

Ketua LPPM Unsoed, Prof. Dr. Ir  Ely Tugiyanti, MP., IPU menyampaikan bahwa Unsoed berkomitmen untuk ikut berkontribusi memajukan kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat di Pulau Sumba.

Langkah nyata yang langsung dilakukan adalah mengadakan penelitian tentang pengembangan sapi potong. Ketua tim peneliti, Ir. Novie Andri Setianto, S Pt., M.Sc., Ph.D., IPU menyampaikan bahwa penelitian ini merupakan survey untuk mengidentikasi keseharian masyarakat peternak, serta permasalahan yang dihadapi secara langsung oleh peternak. 

Untuk tahun berikutnya penelitian diharapkan dapat membuat pemodelan dinamik yang dapat digunakan untuk membuat simulasi strategi pengembangan peternakan. Penelitian ini melibatkan tim dari Unika Weeteebula yang dipimpin Wilhelmus Yape Kii, M.Phil yang sekaligus merupakan Rektor Unika Weetebula. 

Willy, panggilan akrab Rektor, menyampaikan bahwa ini merupakan penelitian kolaborasi yang mengawali kerjasama lebih luas di tahun depan. 

"Begitu diskusi, kami langsung nyambung. Mungkin karena kami sama-sama pernah studi di the University of Queensland," ujarnya.

Banyak hal yang dipelajari dari kecerdasan masyarakat Sumba dalam mengelola sumberdaya yang mereka miliki. Lahan luas misalnya, karena sebagian besar merupakan karang berlapis tanah sehingga didominasi rumput. Oleh karena itu masyarakat memilih menggunakan pemeliharaan digembalakan.  

"Berbeda dengan di Jawa yang selalu dipelihara dalam kandang, beternak di Sumba dilepas di padang penggembalaan. Ada yang dilepas pagi, kemudian sore digiring untuk dikandangkan, namun ada juga yang dibiarkan berbulan bulan berbiak alami di padang penggembalaan bersama," ungkap Novie.

Selanjutnya, Novie,PhD. menjelaskan bahwa kebiasaan ini bukan tanpa kendala, karena membutuhkan identifikasi ternak yang baik untuk menghindari konflik kepemilikan, kematian anakan yang relatif tinggi, bisa karena proses kelahirannya atau dimangsa predator, serta resiko dari pencurian ternak. Namun kearifan lokal, kebiasaan kerja keras, serta adat yang kuat mampu mengatasi kendala tersebut. 

Bagi masyarakat Sumba, ternak tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mereka. Kerbau, babi, dan terutama kuda mutlak diperlukan sebagai belis atau mas kawin dari pihak laki-laki yang diberikan kepada pihak perempuan. Jumlahnya pun tidak main-main, bisa sampai puluhan bahkan ratusan ekor. Demikian juga untuk acara acara adat lainnya, selalu melibatkan ternak untuk dipotong, dimasak, dan dimakan bersama-sama. Adat tersebut sudah turun temurun dari nenek moyang.  

"Ini menunjukkan kecerdasan nenek moyang dalam memastikan generasi penerusnya untuk memperoleh asupan protein hewani" ujar Novie,PhD. mengomentari kebiasaan pemotongan ternak dalam acara acara adat.

Berbeda dengan kerbau, babi, dan kuda yang banyak diperlukan untuk acara adat, sapi banyak digunakan sebagai buffer atau tabungan masyarakat.  Sapi Sumba Ongole (SO) berperawakan tinggi besar, berpunuk, dan berwarna putih merupakan andalan Pulau Sumba. Terbanyak dijumpai di Kabupaten Sumba Timur.

Novie,PhD. berharap, semoga peternakan di Sumba Timur semakin berkembang sebagai penopang ekonomi masyarakat. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response