Teka Teki Di Balik Penemuan Wajan Raksasa di Purworejo

 

Matamatanews.com, PURWOREJO - Beberapa waktu lalu tepatnya 26 April 2016 masyarakat Purworejo digemparkan dengan penemuan wajan kuno berukukuran raksasa di kawasan pecinan Kotoarjo, Kab. Purworejo.  Dikatakan raksasa karena ukurannya tak wajar dengan diameter 270 cm, kedalaman cekungan mencapai 90 cm dan berat mencapai 400 kg. Kala itu pemilik rumah Widodo Hadi Pranoto tengah menggali tanan di ruko miliknya, tak disangka pekerja yang menggali menemukan benda logam yang berukuran jumbo tersebut.

Teka teki seputar sejarah asal muasal wajan raksasa tersebut sampai saat ini belum terungkap. Namun Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan UGM mencoba meneliti materi lain di sekitar penemuan wajan yakni berupa benda padat transparan atau "gondorukem". Para peneliti mencoba mencuplik benda padat tersebut dan mengidentifikasikan baik secara karakter fisik, warna benda, kerapuhan, struktur patahan yang membentuk pola benda hingga disimpulkan benda tersebut gondorukem kuna.

Berdasarkan penelitian secara visual dari segi warna dan kecerahan gondurukem tersebut kualitas rendah. Hal ini telah dilakukan penelitian di laboratorium milik Pabrik Gondorukem dan Terpentin di Ponorogo, Sapuran, Cimanggu dan Pemalang yang kesemuanya dikelola oleh perhutani.  

Dari penelitian tersebut memicu pertanyaan tentang industri apa yang dilakukan kala itu. Mereka membagi dalam tiga konteks perspektif yakni pertama, pemahaman adanya mata rantai pengolahan gondorukem, kedua gondorukem yang ditemukan berkualitas rendah, ketiga gondurukem yang ditemukan dalam jumlah sedikit dan tidak ditemukannya bahan lain di sekitaran penemuan wajan raksasa tersebut.

Kesimpulan sementara para peneliti mengerucut pada industri pengolahan getah pinus menjadi gondorukem. Alasan ini diperkuat dengan ditemukannya gondorukem didalam wajan raksasa tanpa ditemukannya barang lainnya. Disamping itu gondorukem kuna yang ditemukan dalam kondisi murni tanpa bahan campuran meskipun telah terpendam ratusan tahun, dan kualitas gondorukem rendah. Dukungan data dan informasi baik secara ontologi ilmu pengetahuan, data dari penelitian maupun informasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah telah menguatkan alasan tersebut. Para peneliti hanya menyimpulkan sementara karena pengumpulan informasi dan data data terkait gondorukem kuna tengah diteliti terus menerus untuk menelaah kegiatan apa yang tengah dilakukan pada peradaban masa lalu itu. *(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response