Talk Show dan Launching buku Gotong Royong Bangun Sekolah Inklusi Bejalan Sukses

 

Matamatanews.com, Cilacap - Talk Show dengan tema “Anak Berkebutuhan Khusus adalah Berkat” merupakan Launching dari buku Gotong Royong Bangun Sekolah Inklusi; Kisah Inspiratif Tumbuh Bersama ABK/Anak Berkebutuhan Khusus yang ditulis oleh alumni S1 Fakultas Peternakan Unsoed angkatan 1990 Sutriyono Robert. Buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit Obor, Jakarta. Cetakan pertama Desember 2023 dengan jumlah halaman 124.

Menurut Robert, buku ini disusun dengan pendekatan jurnalistik. Sebagai penulis dia sudah bertemu dengan puluhan narasumber terutama dari TK, SD, dan SMP Maria Immaculata, Cilacap. Mereka adalah para siswa reguler, siswa ABK, para guru, dan orangtua siswa.

Robert mendengarkan cerita orang tua ABK, bagaimana berjuang memahami anak mereka, menemani berangkat dan pulang sekolah, meminta maaf kepada guru dan orang tua teman anaknya ketika anaknya yang berkebutuhan khusus “berulah”, dan seterusnya.

Dia juga mendengarkan cerita siswa-siswi reguler. Bagaimana mereka berteman dan bersahabat dengan ABK di kelasnya. Bagaimana satu anak pernah disakiti tetapi mencoba memaafkan, menerima, malah membela. Demikian juga bagaimana para guru jatuh bangun belajar mendampingi ABK di kelas sembari tetap mengajar anak-anak reguler mengikuti kurikulum yang ada.

Menurut Robert, para guru bukanlah guru yang disiapkan secara khusus menjadi guru ABK. Mereka berjuang, belajar secara mandiri, bagaimana menyusun materi pelajaran khusus bagi ABK sementara juga harus menyiapkan materi pelajaran secara umum untuk anak reguler; pada hari dan jam yang sama di kelas yang sama.

Selain mengumpulkan cerita di lapangan, buku tersebut juga mencatat sejarah perkembangan pendidikan inklusi. Baik sejarah nasional maupun di tingkat dunia.

1. Tentang Sekolah Inklusi

Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya (Pasal 1; Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa).

"Walaupun terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan RI No. 70 tahun 2009 tersebut menjadi acuan “kemunculan” pendidikan inklusi secara nasional, namun perguruan Immaculata Cilacap telah mempraktikkannya jauh lebih awal," kata Robert.

SD Maria Immaculata menerima siswa anak berkebutuhan khusus (ABK) sekitar tahun 1998/1999. Pada tahun 2004, saat memasuki masa ujian kelas 6, sekolah dikunjungi pejabat Kanwil Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. 

"Pejabat tersebut kaget dengan keberadaan ABK, dan mendorong agar sekolah memberikan laporan ke Dinas Pendidikan Kabupaten untuk mendapat dukungan," ungkap Robert.

Keberanian SD Maria Immaculata menerima siswa ABK bertolak dari kebijakan Direktur Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS), yayasan yang menaungi perguruan Immaculata, Rm Carolus Burrows OMI. 

Dalam satu masa penerimaan siswa baru, terdapat siswa ABK yang mendaftarkan diri ke SD Maria Immaculata Cilacap. Pada saat sekolah melaporkan hal itu ke Rm Carolus, beliau mendorong agar siswa tetap diterima. 

"Romo Carolus memiliki pandangan bahwa siswa berkebutuhan khusus akan lebih berkembang ketika berinteraksi dengan teman-teman sebayanya di sekolah reguler. Bagi Rm Carolus, anak-anak berkebutuhan khusus adalah berkat, hanya saja kita sering belum dapat memahaminya," ujar Robert.

Bagi para guru lanjutnya, pada awalnya tidak mudah untuk mengajar di kelas dengan di dalamnya ada siswa berkebutuhan khusus. Mereka jatuh bangun belajar bagaimana mendampingi ABK sekaligus siswa reguler dalam satu kelas.

"Dalam satu kelas, bisa terdapat 2-4 siswa ABK di antara 25 - 30 siswa. Pernah dalam satu kelas sampai ada 6 siswa ABK," terangnya.Pada awalnya para guru juga tidak mudah membuat orangtua siswa reguler (bukan ABK) menerima kehadiran siswa ABK. Mereka ada yang tidak rela anaknya berteman dengan siswa ABK. Perlahan-lahan penerimaan itu terbangun. Bahkan para orangtua siswa reguler juga melihat perkembangan positif dalam diri anak-anak mereka saat berinteraksi dengan siswa ABK.

2. Talkshow dan Launching

Pada hari Selasa, 27 Februari 2024 berlangsung talkshow dan launching Buku Gotong Royong Bangun Sekolah Inklusi; Kisah Inspiratif Tumbuh Bersama Anak Berkebutuhan Khusus. Kegiatan berlangsung di Aula Yuniorat, Jalan Kendeng, yang juga satu kompleks dengan sekolah TK - SD Maria Immaculata, Cilacap.

a. Host

Talkshow dipandu Andy F Noya. Andy Noya berbincang-bincang dengan empat narasumber mengenai perjuangan mereka membangun model pendidikan inklusi pada sesi 1. Dua orang mewakili siswa yaitu Nacha Nagazah Putra dan Girty Shima Sasmitha. Mereka siswa siswi SMA Yos Sudarso Cilacap kelas XII IPS. Nacha penyandang tunarungu dan Girty adalah teman sekelas Nacha juga teman seklub Taekwondo.

b. Perwakilan Guru

Ibu Maria Tukilah mewakili guru pernah menjadi Kepala Sekolah SMP Maria Immaculata. Selepas jabatan kepala sekolah selesai, ia memilih fokus mendampingi siswa ABK di SMP Maria Immaculata,

c. Orang Tua Siswa

Robert mengatakan bahwa Ibu Mei Kuswati sebagai narasumber lain, adalah orangtua siswa. Tiga anaknya bersekolah di perguruan Maria Immaculata sejak TK hingga SMP. Anak-anak Ibu Mei bukan ABK. Ia menceritakan bagaimana anak-anaknya berkembang lebih matang dan oleh karena berinteraksi dengan siswa ABK.

d. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Robert mengungkapkan, Narasumber lain, pada sesi 2, adalah Kepala Dinas Pendidkan dan Kebudayaan Cilacap.

e. Komisioner Komnas Disabilitas

Komisioner Komnas Disabilitas Kikin Purnawirawan Tarigan yang datang dari Jakarta memaparkan situasi dan kebijakan pemerintah terkait anak berkebutuhan khusus dalam tingkatan lokal kabupaten dan nasional,.

f. Peserta

Robert menambahkan tamu-tamu yang hadir sekitar 200 orang dalam kegiatan talkshow dan peluncuran buku tersebut. Pejabat Bupati Cilacap Awaluddin Muuri membuka rangkain acara. Jajaran Forkopimpda Kabupaten Cilacap juga hadir, selain Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cilacap dan jajarannya. 

Dari Jakarta, selain Komisioner Komnas Disabilitas Kikin Tarigan, hadir juga Direktur Penerbit OBOR Rm FX Sutanto dan sejumlah staf. 

"Tamu-tamu lain adalah guru-guru dari sekolah di bawah YSBS, guru-guru dari sekolah di dekat perguruan Immaculata, perwakilan tokoh agama dalam FKUB Kabupaten Cilacap, juga para pemerhati pendidikan, jelas Robert yang juga Kordinator Kegiatan Nasional Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias ini mengakhiri. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response