Standar Ganda dan Jati Diri

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Terkadang, kita berharap dapat meningkatkan pengetahuan generasi ini tentang standar ganda, terutama di Indonesia, tentang bagaimana hal itu dapat mempengaruhi identitas kita, membatasi kita untuk menjadi diri kita sendiri. Bukankah akan menyenangkan jika generasi ini peduli dengan kesejahteraan masing-masing individu secara psikologis?Kita tidak bisa membiarkan standar ganda membuat kita kehilangan diri sejati kita. Karena tumbuh dewasa melihat semua standar ganda ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa ada krisis identitas.

Tumbuh dalam berbagai jenis budaya, belajar tentang budaya, terutama belajar tentang perbedaan secara umum, seiring berjalannya waktu kita cenderung bingung pada jalan mana kita ingin ambil, karena semua standar yang telah ditetapkan. Mari kita mulai dengan sesuatu yang sederhana, "Saya ingin memiliki rambut pendek", tetapi ibu mengatakan anak perempuan harus berambut panjang, skenario semacam ini memicu salah satu standar ganda yang ada. Sekarang hal sederhana itu juga dapat menyebabkan krisis identitas, di mana kita ingin melakukan sesuatu itu berkaitan dengan karakter kita tetapi sulit karena ada standar yang perlu “dipenuhi” dengan suatu cara.

Bukankah kita seharusnya mengekspresikan diri? Bukankah kita punya hak? Saya berharap begitu. Standar ganda tidak boleh membatasi itu, tetapi di sisi lain itu juga bisa dimaklumi, setiap keluarga bahkan masing-masing individu memiliki kepercayaannya sendiri tetapi jangan sampai karena standar ganda ini menghambat proses pencarian jati diri.

Setiap individu berbeda, mengapa mengandalkan standar ganda ketika kita masing-masing berbeda? Kita harus membela hak kita untuk siapa yang kita inginkan. Menjadi egois bukan berarti kita harus mementingkan diri sendiri dan tidak mementingkan diri sendiri tidak berarti kita harus mengorbankan diri sendiri untuk masuk ke "masyarakat".

Dalam masyarakat kita ada hal-hal yang dilihat orang sebagai hal yang dapat diterima oleh laki-laki tetapi tidak perempuan, dan sebaliknya. Dampak dari hal itu telah membuat sebagian besar dari kita tertekan dan menjadi seseorang yang tidak kita inginkan. Selain jender, kita bisa menjadi apa saja. Maskulin feminin. Sporty, dan apa saja. Itu adalah hak kita sejak lahir.*(Lorena Patricia Relouw, mahasiswi London School of Public Relations)

 

 

 

redaksi

No comment

Leave a Response