Serbuan Buruh Asal Cina Mengusik Kesenjangan Ekonomi

 

Matamatanews.com-JAKARTA—Derasnya pekerja kasar  asal Cina di sejumlah proyek yang mereka kerjakan sungguh merupakan ironi. Dengan jumlah penganggur di Tanah Air sekitar  7 juta orang, sebagian besar berkualitas pekerja”kerah biru” atau lazim disebut buruh tanpa keahlian.Pekerja asing itu jelas telah merebut kesempatan bagi pekerja lokal di level yang sama. Harusnya pemerintah tak membiarkan hal ini. Penyerapan  pekerja di sektor infrastruktur  adalah salah satu instrumen pemacu pertumbuhan ekonomi sekaligus penyerapan tenaga kerja. Itu sebabnya negara menggenjot pembangunan infrastruktur. Namun,celakanyapenyerapan pekerja di sektor infrastruktur  direcoki masuknya pekerja asal Cina .Bahkan, belum lama ini terungkap lima orang pekerja ilegal Cina dalam proyek pembangunan kereta cepat Jakarta – Bandung.

Kekhawatiran akan serbuan pekerja Cina sebenarnya sudah mengemuka ketika pemerintah berencana menjalin kerjasama dengan Cina dalam proyek pembangunan kereta cepat jakarta- Bandung.Kekhawatiran itu,pada akhirnya menjadi  kenyataan ketika proyek mulai berjalan. Kini jumlah  pekerja Cina meningkat tajam.Mereka sibuk bekerja di berbagai proyek yang pendanaannya dari Cina , kini sekurang-kurangnya ada  5.000 pekerja asal Cina. Soalnya berapa mereka dibayar, jawabnya relatif dan masih simpang siur.
Pekerja atau buruh Cina kini menjadi momok bagi bangsa ini,terlebih sebelum terungkap adanya pekerja ilegal asal Cina di pembangkit Listrik Tenaga Uap Mpanu,Palu, Sulawesi Tengah , dan sejumlah perusahaan di Cilegon , Banten. Keberadaan pekerja asing jelas ironi bagi Indonesia di tengah masih tingginya tingklat pengangguran, terseoknya pertumbuhan ekonomi, serta masih lebarnya jurang kesenjangan ekonomi.

Dari penelusuran  matamatanews.com ,para pekerja asing asal Cina kini berada di Lebak (Banten),Buleleng  (Bali), Manokwari (Papua),Singkawang  (Kalimantan Barat), Palu (Sulawesi Tengah),Cilegon  I(Banten), Cirebon (Jabar), dan Cikarang (Bekasi Timur). Ironinya, di Buleleng  saat acara peresmian proyek tersebut, mereka tampak dominan di antara hadirin.Tak seorang pun dari mereka yang paham isi pidato pejabat Indonesia, yang berbicara di panggung dengan hiasan mentereng bertuliskan aksara Cungkuo!. Para pekerja Cina di Buleleng merupakan pekerja  yang mengoperasikan Pembangkita Listrik Tenaga Uap Celukan Bawang.

Kebanyakan dari pekerja Cina itu datang sebagai pelengkap”paket”proyek yang pendanaan dan pengerjaannya dipercayakan kepada Cina. Proyek itu berupa pembangunan pembangkit listrik. Tapi menurut Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri,para pekerja asing itu dibawa dengan izin yang sangat selektif. Batas waktunya sendiri paling lama enam bulan,bergantung pada model proyeknya. Tapi dalih Menteri Hanif gampang ditepis. Di kertas, tampaknya jumlah mereka bisa dikendalikan, tapi praktiknya kemungkinan besar jumlah pekerja asing diam-diam akan terus bertambah . Hal ini sulit dihindarkan karena adanya kemudahan bagi mereka masuk ke negeri ini,bahkan Presiden Jokowi Widodo,misalnya ,beberapa waktu lalu meminta penghapusan kewajiban bisa berbahasa Indonesia bagi mereka. Dan kehendak itu  segera diikuti dengan penerbitan Peraturan Menteri  Tenaga Kerja Nomor 16 tahun 2015.

Rasanya tak ada negara di dunia ini yang sengaja membuka ngablak pintu bagi pekerja asing rendahan, kecuali memang sedang kekurangan . Kebijakan membuka keran masuknya buruh asing yang sangat dibutuhkan itu sebenarnya  hanya berlaku di sejumlah negara yang selama ini menjadi tujuan tenaga kerja Indonesia,semisal  Malayasia,Arab Saudi dan Hongkong yang memang  realitanya kekurangan. Kita apresiasi pihak Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia yang mengambil langkah legal terhadap para pekerja ilegal asal Cina itu. Dan kita apresiasi juga Kementerian Ketenagakerjaan yang telah memblokir perusahaan yang mempekerjakan lima pekerja Cina di proyek kereta cepat Jakarta – Bandung. Di masa mendatang pengawasan oleh Imigrasi dan Kementerian Tenagakerjaan sangat di butuhkan, dan wajib. Pembatasan bagi masuknya tenaga kerja rendahan dari luar negeri,terutama dari Cina tampaknya perlu dipercepat. Selain untuk memastikan adanya kesempatan bagi pekerja lokal, juga untuk menghindari kecemburuan sosial.Kenapa? Karena dalam keadaan ekonomi serba sulit  seperti sekarang,masuknya para pekerja asing asal Cina yang begitu masif sangat berpotensi memantik konflik rasial,terlebih trauma psikis masa lalu terkait tragedi ‘G30S PKI” masih melekat. (Samar khan)

 

sam

No comment

Leave a Response