Satu Persatu Mesin Pencari Uang Itu Kandas

 

Matamatanews.com, JAKARTA— Seusai pertemuan dengan Pertamina, sahabat saya menceritakan bahwa situasi Pertamina sekarang sangat jauh berbeda dibanding sebelum ada COVID-19. Saat ini Pertamina tidak tampaknya tidak mudah untuk mendapatkan investor dan salah satu yang sedang diharapkan adalah investor untuk proyek Refinery Tuban, kerjasama Pertamina dengan Rosneft, Rusia. Proyek bernilai investasi $ 15 miliar itu sejauh ini masih belum memiliki investor yang akan mendapat saham 60% jika mendanai proyek tersebut.

BUMN lain yang awalnya diharapkan menjadi mesin pencetak uang justru terancam bangkrut atau diambil alih asing.Anehnya BUMN-BUMN tersebut diisi oleh para pejabat yang tidak pernah menjadi pebisnis, padahal BUMN adalah perusahaan bisnis yang memiliki Profit Oriented dan Strictly Business. Maka dari itu, sampai kiamatpun jika BUMN  itu tidak dijalankan oleh para pebisnis yang handal jangan harap akan maju apalagi untung. Saat ini yang dibutuhkan adalah pebisnis handal bukan profesional yang hanya mengandalkan gaji semata atau komisaris yang tidak mengerti apa-pun.

BAGAIMANA MENCARI DANA STIMULUS UNTUK MENYELAMATKAN NEGARA ??

Memang tidak bisa dipungkiri, orang Indonesia yang ahli keuangan dan perbankan cukup banyak dan mereka sangat ahli dibidangnya masing-masing, tetapi mereka tidak tahu bagaimana cara mencari uang atau mencari pemilik uang yang jumlah besar.

Awalnya saya heran ketika bertemua dengan para pejabak bank yang begitu ahli aturan perbankan dari A hingga Z, namun mereka tidak tahu bahwa uang yang mereka kelola ada pemiliknya yang tidak mau bertemu dengan sembarang orang.Contoh kasarnya adalah uang hasil kejahatan, para penjahat pemilik uang tidak akan pernah mau ke bank, tapi mereka punya Proxy atau Fund Manager yang mengelola uang tersebut dan sekaligus berhubungan dengan pihak bank.

Para pemilik Casino Besar, Kartel Narkoba, Mafia berbagai Minuman Keras Ilegal, Human Traficking, Penyelundup Besar, Pedagang Senjata, Crude Oil negara-negara yang di Embargo dan berbagai kejahatan lainnya, uangnya dikelola oleh bank yang sama dengan bank yang mengelola dana dari berbagai kelompok agama, baik dana dari Vatikan, Anglikan, Budha, Hindu, Islam, Shinto, Kong Hu Cu dan sumber-sumber dana Halal lainnya. Para pejabat bank tidak mengenal pemilik dana yang sesungguhnya.

Saya tampaknya ditakdirkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat akrab dengan para sahabat, keluarga, Proxy dan Fund Manager para pemilik dana raksasa tersebut. Jadi dalam keadaan serba terpuruk ini saya tergerak untuk memanfaatkan dana-dana dari kelompok yang halal saja.

Saya kenal dengan kelompok Halal ini melalui orang-orang yang menjadi keluarga dan sahabat mereka, jadi saya diberi baragam bukti yang nyata bahwa orang-orang kaya tersebut memiliki dana yang sangat besar. Mereka ada yang sudah komitmen meminjamkan dananya, ada yang bersedia menjadi investor, bahkan ada yang ikhlas ingin menjadi penjamin pinjaman,  sehingga saya leluasa untuk memilihnya.

MENGAPA PEMERINTAH SANGAT SULIT MENDAPATKAN DANA BESAR ??

Saya teringat beberapa bulan lalu ketika Presiden Jokowi menegur Menteri Luhut Panjaitan dan Bahlil Lahadalia karena gagal membuktikan ucapan mereka terkait dana $ 30 miliar dari Uni Emirat dan $ 100 miliar dari Softbank Jepang yang ternyata tidak pernah masuk ke NKRI sampai detik ini. Airlangga Hartarto menyatakan ada 133 triliun rupiah dana siap masuk dari Amerika, Erick Thohir mengumumkan ada dana $ 10 miliar akan masuk ke SWF dari Uni Emirat Arab, sampai saat ini pun semuanya belum ada yang terealisasi.

Sedihnya para investor yang katanya akan berinvestasi di NKRI ternyata membatalkan niatnya karena menurut  Menkeu Sri Mulyani mereka takut dengan pejabat- pejabat yang korup. Dengan kondisi tersebut maka Pemerintahan Presiden Jokowi ini tidak bisa mendapatkan investor atau pinjaman.

Jika penanganan korupsi masih seperti ini dimana koruptor masih bisa dibebaskan dan hukuman yang dijatuhkan  sangat ringan, maka dana yang diharapkan kemungkinan tidak akan pernah datang.

APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH PEMERINTAH ?

Para pengurus organisasi pengusaha termasuk Ketua Umum Kadin, Asosiasi Pedagang Kaki Lima, Persatuan Pengusaha Hotel dan Restauran dan Organisasi-Organisai Bisnis lainnya meminta "Dana Stimulus Besar" kepada pemerintah, namun sampai dengan detik ini permintaan tersebut belum bisa dipenuhi. Padahal kita adalah negara yang berlimpah sumber daya alamnya, semua itu seharusnya bisa dikonversi menjadi dana cash yang tak ternilai besarnya. Tetapi karena ketidak tahuan akan ilmu-ilmu bisnis yang khusus, maka pengelolaan harta pusaka kita sangat tidak bermutu, dangkal dan amatiran. Padahal banyak sekali ahli-ahli bisnis kita yang paham bagaimana membuat aset menjadi cash dan merekayasa keuangan serta masuk dalam rolling program yang fenomenal sehingga negara-negara besar bisa mendanai proyek-proyek yang tidak mungkin didanai dengan cara-cara konvensional, sebagai contoh pendanaan program ruang angkasa, penelitian senjata-senjata khusus seperti Haarp, Kimia serta Biologis dan sejenisnya.

Jika kita mengelola negara dengan cara-cara yang tidak cerdas, bisa dipastikan kita tidak akan pernah menjadi negara nomor satu di dunia.Alangkah bijaknya bila semua dispora Indonesia yang memiliki kemampuan dan kecerdasan yang berlebih dirangkul, lalu posisikan mereka dijabatan yang sesuai dengan kemampuan mereka.

Dan bagi para pejabat yang tidak memiliki memampuan untuk mengelola BUMN , terutama yang dianggap tidak mengerti apapun bahkan terkesan hanya menjadi benalu dan menguras keuangan negara, sudah selayaknya diganti atau di persona non gratakan dari jabatanya, entah itu Komisaris maupun jabatan lainnya.** (Imbang Djaja, Ketua Lembaga Ekonomi Islam)

 

 

redaksi

No comment

Leave a Response