Saat Pandemi, Dosen Fakultas Biologi Unsoed Raih Gelar Doktor Di Jerman

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Covid-19 yang awalnya epidemi berubah menjadi pandemi sejak April 2020, sebagaimana dinyatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pandemi Covid-19 telah membawa dunia pendidikan berubah tidak hanya menjadi sistem Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) tetapi juga pola pikir mahasiswa harus ikut menyesuaikan. Hal tersebut diungkapkan Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum. saat mendampingi pemaparan Dosen Fakultas Biologi Unsoed Dr.rer.nat. Saefuddin Aziz,SSi.,MSi.

Einstein mengungkapkan masa pandemi Covid-19 ini menjadi tantangan sendiri bagi Aziz, sapaan akrab Dr.rer.nat.Saefuddin Aziz,S.Si.,M.Si. Saat pandemi muncul, Aziz sedang berada di Jerman dalam rangka kuliah S3 di Eberhard Karls Tuebingen University, Faculty of Science, Lehrnstuhl  Pharmazeutische Biologie.

Sementara itu Aziz memaparkan,  setahun lalu atau tepatnya 27 Januari 2020 lalu, Tuebingen,  kota kecil yang berjarak sekitar 44 km dari ibu kota negara bagian Badenwurttemberg, Sturgart, penduduknya terhenyak.  Pasalnya beredar berita via internet, surat kabar maupun TV, pasien Covid-19  pertama sudah ditemukan di Jerman tepatnya di kota dekat Munchen yang berjarak 3 jam perjalanan melalui transportasi darat.

Tidak terkecuali Aziz dan teman-teman yang berada di lantai 9 gedung B di Laboratorium Pharmaceutize Biology, Eberhard Karls Tuebingen Unversity, Jerman tempat dia mengambil program doktoral dengan beasiswa DAAD.

Hanya dalam waktu 27 hari, virus dari Wuhan ini menyebar  ke berbagai negara hingga memasuki Jerman.  Menurut Aziz, hari itu juga, mini market “Peni” dekat kos-kosannya mendadak dipadati oleh orang-orang yang memborong barang kebutuhan sehari-hari seperti masker, sabun, tisue, susu, sayur mayur dan lainnya, khawatir akan terjadinya lockdown seperti di Wuhan Cina. Saat itu Aziz berpikir, bagaimana kalau  Covid-19 ini pada akhirnya menjangkiti Indonesia.

Berungtung saat itu kantin universitas yang menjadi tempat makan siang belum tutup. Sehingga Aziz masih bisa makan bareng bersama profesor, sambil berdiskusi apa saja, termasuk Covid-19.

Namun kebebasan itu tak berselang lama, saat kondisi penyebaran virus corona kian menjadi, kantin di University Tuebingen ditutup. Tidak ada lagi tempat rileks sejenak di  siang hari di sela kesibukan penelitian sambil menikmati hidangan sehat, lengkap dengan harga bersahabat. Bis pun menjadi jarang lewat.  Restoran, tempat cukur, kolam renang, gedung bioskop, perpustakaan, museum bahkan tempat ibadah pun seperti masjid, gereja, dan sinagog akhirnya ditutup. 

Seluruh acara yang menimbulkan kerumunan seperti pesta kebun, konser musik, sirkus, pasar murah di bubarkan, dan si penyelenggara acara kena denda. Berbagai sekolah dari SD sampai perguruan tinggi ditutup. Bahkan, transportasi dari dan ke negara tetangga Jerman juga beberapa negara lainnya ditutup untuk sementara waktu.

Masih teringat saat lihat siaran TV, begitu susahnya polisi Jerman membubarkan kerumunan orang-orang di taman yang sedang menikmati matahari di hari libur. Masih teringat bagaimana marahnya para pemuda di Stutgart saat pesta Jum'at malam mereka di usik oleh polisi, hingga terjadilah kerusuhan dan penjarahan. Suatu hal yang belum pernah terbayang terjadi di Jerman, selayaknya kerusuhan di berbagai negara. Masih teringat bagaimana depresinya masyarakat dan para pejabat Jerman.

Keresahan Yang Menggelitik

Tidak terkecuali hampir semua laboratorium di seluruh Jerman terkena dampaknya. Ada beberapa negara bagian yang melarang laboratorium universitas dibuka sementara waktu. Ada pula yang diijinkan hanya untuk aktivitas penelitian S3 saja. Untunglah di Universitas Tuebingen, khususnya laboratorium biologi farmasi masih diperkenankan Aziz meneruskan projek S3 Aziz Biodiversity and Health – NaBaUnakt yang didanai oleh pemerintah Jerman tersebut.

Namun demikian dampak dari Covid-19, membuat Aziz harus menunggu lebih lama karena data dari kolaborator tidak bisa diperoleh disebabkan laboratorium mereka ditutup. 

Penelitian Aziz bertujuan mecari mikroba baru terutama dari golongan actinomycetes tanah asal Indonesia, yang mampu menghasilkan senyawa obat baru untuk melawan bakteri patogen resisten terhadap antibiotik. Penelitian tersebut hasil kerjasama dengan LIPI, Unsoed, Lembaga penelitian Eijkman, DSMZ, Tuebingen University, dan Institute Soil Biology Czech Republic.

Resah dan tergelitik dengan wabah ini, Aziz menggali berbagai informasi terdahulu maupun terkini dari populer hingga ilmiah tentang Covid-19 dan kerabatnya dari golongan corona virus. 

Pembicaraan dalam grup whatsapp, dengan sesama rekan Indonesia yang belajar di Jerman, bahkan sesama grup alumni Fakultas Biologi Unsoed angkatan 1996, terfokus pada What, Why, Where, Who and How, Covid-19. 

Siapa tahu ide-ide liar itu bisa jadi solusi atau membantu  penanganan Covid-19, terutama jika nantinya mewabah di Indonesia. Untunglah sedikit ilmu biologi Aziz yang ia timba mulai S1 sampai S3 ini, terutama di mikrobiologi sedikit banyak membantu dan bisa mengikuti apa kata para pakar dan dokter yang terus memeras otak mencari pintu “escape” wabah ini.

Dalam sebuah diskusi di grup whatsapp, seorang teman mengusulkan ide unik. Mengingat wabah corona ini lebih banyak berdampak pada orang yang lanjut usia dan orang yang memiliki riwayat penyakit, maka sebaiknya mereka “diungsikan” di sebuah pulau terpecil. Pulau itu “disulap” agar seluruh kebutuhan pendukung terjamin. 

Adapula ide dari teman untuk mengetes seluruh penduduk Indonesia sehingga nantinya diketahui dengan pasti berapa jumlah penderita Covid-19. Namun ada juga yang menyarankan cukupkah dengan menanti terbitnya vaksin sembari menerapkan protokol kesehatan/prokes (pakai masker, cuci tangan, jaga jarak) ditambah dengan do'a.

Pertanyaan besar pun bermunculan jika ide-ide itu diterapkan tentang berapa besar efektivitas dalam menekan kematian, berapa lama untuk mewujudkannya, kekuatan pendanaan, serta apa dampak selanjunya bagi individu yang terkena Covid-19 ataupun masyarakat luas. 

Terasa ada yang masih kurang dalam mencari solusi Covid-19, jika jati diri si virus itu tidak dibedah dengan baik.  Salah satu ide kemudian tertuang dalam coretan Aziz yang diterbitkan di salah satu media masa Indonesia berjudul “Menjinakkan Covid-19 Dengan Plasma".

Namun demikian munculnya gelombang Covid-19 berikutnya akibat mutasi virus, tentunya prokes perlu terus diterapkan bahkan jika perlu dilakukan “up grade” prokes seperti menyertakan upaya “membersihkan jalan” Covid-19 seperti kumur-kumur, sikat gigi, dan memberishkan saluran hidung dengan air agar virus tidak “bersemayam” di paru-paru.

Atas segala kebaikan serta support berbagai pihak baik yang berada di Jerman maupun Indonesia, Aziz dinyatakan lulus program doktoral dari Faculty of Science, Pharmaceutical Biology, University Tuebingen, tepat pada hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2021.

Kelulusan dari kampus biasanya menjadi suasana yang penuh dengan euforia bagi mahasiswa. Hanya kerja keras, ketekunan, dan sikap pantang menyerah yang menjadi modal Aziz untuk meraih dengan predikat Cum laude dengan gelaran Dr.rer.nat Safuddin Aziz, S.Si., M.Si. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response