Saat Ini, Banyumas Zona Orange Covid-19

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Pandemi Covid-19 tak hanya menjadi sebuah tantangan yang harus dihadapi, tetapi juga merupakan momen yang tepat bagi semua orang untuk berperilaku hidup sehat. Semakin banyak yang belum mematuhi protokol kesehatan, akan semakin banyak pula yang masuk ke rumah sakit. Kita hanya bisa berharap agar masyarakat sungguh-sungguh dalam menghadapi pandemi Covid-19. 

Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum mengungkapkan, kesehatan diri harus dijaga dan protokol kesehatan juga harus dipatuhi. Saat ini, upaya terbaik adalah memutus rantai penularan melalui tes, lacak, dan isolasi. 

"Di level individu, Covid-19 ini sebenarnya penyakit yang bisa dicegah, melalui penerapan disiplin 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun)," ujar Ir.Alief Einstein,M.Hum.

Sementara Dosen Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Yudhi Wibowo, M.PH memaparkan bahwa pandemi Covid-19 di Kab. Banyumas telah berlangsung lebih dari 46 minggu sejak ditemukan kasus positif pertama kali tertanggal 16 Maret 2020 yang lalu. Menurutnya, upaya pencegahan dan penanggulangan telah dilakukan secara maksimal, mulai dari pembuatan regulasi, pencegahan dengan 3M dan peningkatan kapasitas 3T dan I. Pantauan pandemi Covid-19 dilakukan oleh tim satgas daerah maupun pusat melalui laporan data secara on-line setiap hari. 

Dari hasil pantauan pada hari Jum'at (20/11/2020) lanjut dr.Yudhi, Kab. Banyumas  masuk zona oranye atau risiko sedang. Hasil pantauan ini berdasarkan evaluasi data mingguan yang masuk ke Kemenkes dan sangat dinamis. 

"Secara umum di Jawa Tengah terjadi kemunduran dalam pengendalian Covid-19 karena saat ini terdapat 10 kabupaten zona merah (Kota Tegal, Banjarnegara, Pemalang, Tegal, Sukoharjo, Kendal, Brebes, Boyolali, Pati, dan Sragen), 25 kabupaten masuk zona oranye termasuk Kab. Banyumas. Penilaian suatu daerah masuk zona tertentu berdasarkan indikator kesehatan masyarakat menuju masyarakat produktif dan aman Covid-19 berbasis data yang dibuat oleh Satgas Pusat Covid-19," terangnya.

Dikatakannya, terdapat 14 indikator dan 1 indikator pelengkap atau triangulasi. Dari ke 14 Indikator tersebut terbagi ke dalam domain epidemiologi (10 indikator), surveilans kesehatan masyarakat (2 indikator), dan pelayanan kesehatan (2 indikator). Sedangkan indikator pelengkap atau triangulasi adalah angka reproduksi (Rt), ini yang kurang sesuai dengan ketentuan dari WHO bahwa indikator utama dari domain epidemiologi adalah Rt.

"Indikator epidemiologi yang berkontribusi terhadap kenaikan zona menjadi oranye adalah 1). Penambahan jumlah kasus positif, 2). Penambahan jumlah kasus meninggal, Penambahan 15 kasus MD per tanggal 19 November 2020, 3). Penambahan jumlah kasus positif yang dirawat di RS, 4). Laju insidensi cenderung meningkat, dari data diperoleh bahwa semakin cepat  penambahan setiap 50 kasus positif terkonfirmasi dan 5). Mortality rate cenderung meningkat dengan CFR 3,36," rincinya.

Berdasarkan indikator surveilans kesehatan masyarakat, ungkap dr.Yudhi didapatkan bahwa jumlah pemeriksaan specimen cenderung menurun dan positivity rate cenderung meningkat. Sementara dari indikator pelayanan kesehatan untuk jumlah Tempat Tidur di Rumah Sakit kritis, namun ada keterbatasan ruang ICU, ventilator.

Berdasarkan pemantauan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penularan di komunitas cenderung tinggi, artinya upaya pencegahan atau memutusan rantai penularan di komunitas belum maksimal. Hal ini sangat terkait erat dengan kedisiplinan masyarakat terhadap upaya 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak minimal 2 m dan mencuci tangan pakai sabun minimal 20 detik. Selain itu dipengaruhi oleh mobilitas penduduk, karena virus ini dibawa oleh orang yang sakit (positif terkonfirmasi) atau mungkin yang bersangkutan tanpa gejala (OTG). 

OTG sangat potensial menjadi super spreader atau penyebar/penular tercepat kepada orang lain. Oleh karena itu, dalam rangka memutus rantai penularan, dihimbau kepada masyarakat untuk tetat disiplin terhadap 3M, dan ke luar rumah jika benar-benar penting saja dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Di sisi lain, upaya menemukan kasus positif melalui penemuan kasus secara aktif (active case finding) maupun penelusuran kontak erat harus ditingkatkan sesuai standar WHO. Upaya testing dan tracing serta treatment ini dalam rangka menemukan kasus positif secepat mungkin dan melakukan upaya isolasi. Hal ini dilakukan dalam upaya memutus rantai penularan dan menata sedini mungkin untuk memperpendek masa klinis, mencegah perburukan, dan kematian. 

"Pada aspek treatment maka dipastikan bahwa RS mampu menampung lonjakan kasus pada masa adaptasi kebiasaan baru dan menghadapi liburan akhir tahun. Sangat urgent penambahan ventilator dan ruang ICU serta obat-obatan line ke-2 untuk menekan angka kematian," kata dr.Yudhi.

Sebagai Tim Ahli Satgas Covid-19 PemKab Banyumas, dr.Yudhi Wibowo, menjelaskan bahwa daerah dengan zona oranye, bentuk implementasi sektornya adalah 1). Masyarakat disarankan tetap berada di rumah, 2). Tetap jaga jarak jika di luar rumah di semua aspek, 3). Pembatasan penumpang atau protokol ketat di transportasi publik, 4). Masyarakat bekerja dari rumah kecuali untuk fungsi-fungsi tertentu, 5). Tempat umum ditutup, 6). Perjalanan dengan protokol kesehatan diperbolehkan, 7). Aktivitas bisnis dibuka terbatas selain keperluan esensial, 8). Fasilitas pendidikan ditutup sementara dan 9). Kelompok rentan tetap tinggal di rumah.

dr.Yudhi menambahkan bahwa Kab. Banyumas menjadi zona oranye, maka pembukaan sekolah harus ditunda. Hal ini sesuai dengan revisi SKB 4 menteri Nomor 03/KB/2020, Nomor 612 tahun 2020, Nomor HK.01.08/Menkes/502/2020, Nomor 119/4536/SJ tentang Perubahan atas Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Nomor 01/KB/2020, Nomor 516 Tahun 2020, Nomor HK.03.01/Menkes/363/2020, Nomor 440-882 Tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Dengan demikian sangat jelas apa konsekuensi bagi Kabupaten Banyumas yang masuk zona oranye. Upaya pencegahan dan penanggulangan harus ditingkatkan dan agresif. Hal ini sangat diperlukan kerja sama semua pihak termasuk masyarakat agar tetap patuh dan disiplin terhadap protokol kesehatan. 

"Sekali lagi tugas pemerintah adalah meningkatkan dan memfasilitasi layanan dengan 3T dan I, sementara masyarakat disiplin secara ketat terhadap protokol kesehatan melalui 3M, tetap di rumah atau ke luar rumah jika memang sangat diperlukan dengan tetap disiplin terhadap protokol kesehatan," pungkasnya. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response