Saat Bermukim Di Kanada, Heny Mustikasari Berinovasi Agar Bisa Adaptasi

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Tak sedikit orang merasa takut dan cemas ketika pandemi Covid-19 melanda. Ada yang mengaku takut setiap mendengar mobil ambulans meraung-raung. Ada yang cemas setiap usai keluar rumah ataupun cemas karena merasa masa depannya tidak pasti. 

Pandemi Covid-19 yang belum selesai ini, ternyata mengharuskan alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed Heny Mustikasari,SE.,MM. untuk beradaptasi. Heny sapaan akrab sehari-hari Heny Mustikasari tak mau menyerah dan terus berupaya untuk berubah. Gemblengan selama dirinya menetap di Kanada, menjadikan dia mampu menikmati setiap keadaan. Adaptasi sepertinya menjadi menu rutin sehari hari karena dia merasa masalah tidak bisa dihadapi dengan hanya mengeluh. Berbagai cara ia lakukan  agar bisa berubah. 

Sebelum pindah ke Kanada, Heny memegang jabatan sebagai Vice President Human Resources salah satu perusahaan di Jakarta.Dua tahun lalu Heny menetap di Kanada. Dua tahun dia harus berfikir untuk mengambil keputusan tinggal di sana, 2 tahun lagi untuk mempersiapkan diri dan 2 tahun dia di menetap Kanada. 

Kenapa memilih Kanada?. Karena kesempatan migrasi dia ke Kanada terbuka lebar, jadi bisa dia lakukan sendiri tanpa melalui agen ataupun konsultan. Tugas belajar menjadi alasan Heny tinggal di negara itu. Heny lulus Vancouver Community College jurusan Canadian Business Management pada bulan Juni 2021. Program studi ini ditempuhnya selama 2 tahun. Selama sekolah ia sempatkan kerja paruh waktu 20 jam per minggu, diantaranya sebagai barista di Kedai Kopi Indonesia, tenaga panggilan bersih-bersih rumah dan di call center lululemon athletica, sebuah perusahaan terkemuka di Vancouver Kanada.

Setelah lulus, Heny mendapatkan PGWP (Post Graduate Work Permit). Tidak semua sekolah bisa memberikan PGWP, ijin kerja tipe ini hanya diberikan 1 kali seumur hidup. Lama Ijin kerja ini sama dengan panjang masa sekolah, apabila masa sekolah 2 tahun atau lebih maka ijin kerjanya akan diberikan maksimal 3 tahun.

Setelah mendapat ijin kerja, ia berkeinginan memperoleh PR (Permanent Residency). Salah satu jaminan untuk bisa mendapatkannya adalah dia harus mengumpulkan skor CRS (Canada Ranking System) tinggi. Beberapa faktor penting untuk mendapatkan skor yang tinggi diantaranya kemampuan Bahasa Inggris, usia, pendidikan di Kanada, dan tawaran kerja di Kanada.

Pemerintah Kanada berkeinginan mendatangkan 3 juta imigran dalam beberapa tahun ke depan, namun karena Covid-19 proses ini terhambat. Imigran berpengaruh besar terhadap ekonomi Kanada.

Kondisi Covid-19 juga berdampak pada perekonomian di sana. Kanada termasuk negara besar, situasi penanganan Covid-19 berbeda dari satu propinsi ke propinsi lain. Di sana Heny tinggal di British Columbia (BC) tepatnya di kota Vancouver. 

Saat ini BC sudah masuk fase ke 3 dalam penanganan Covid-19. Di fase ini masker sudah tidak wajib, namun masih disarankan. Restauran juga boleh beroperasi dengan kapasitas penuh, pertemuan pribadi tidak dibatasi dan pertemuan bisnis dalam ruangan juga diperbolehkan. Target selanjutnya bila situasi terkendali, di bulan September tidak ada larangan ataupun pembatasan lainnya.

Saat ini Heny telah lulus dan bekerja sebagai Administrative Coordinator. Saat menjadi imigran Heny merasakan dukanya satu diantaranya adalah semua dimulai dari nol. Pengalaman kerja selama 16 tahun di Indonesia tidak bisa dikonversikan dan karir harus dimulai dari awal. Kebanyakan para imigran akan mentok dengan kurangnya Canadian Experience atau pengalaman kerja di lingkungan Kanada, hal itu sebagai batu sandungan. Setelah rencana berjalan lancar, dia akan memulai aplikasi untuk Permanent Residency. (Hen)

redaksi

No comment

Leave a Response