Rusia Siap Bertemu Dengan AS Meski Sanksi Tetap Berjalan

 

Matamatanews.com, MANILA – Diplomat Rusia menyatakan bahwa negaranya sudah sangat siap untuk bertemu dengan Amerika Serikat (AS) membahasa masalah Korea Utara, Suriah, Ukraina dan masalah-masalah lainnya yang sangat mendesak. Selain itu, Moskow juga tengah bersiap untuk menghadapi sanksi baru dari pemerintahan Trump.

Setelah pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson untuk pertama kalinya karena hukuman yang dikenakan AS terhadap Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov mengatakan bahwa Rusia dan AS telah sepakat akan menangguhkan jalur diplomatik pada tingkat tinggi dan Washington pun akan mengirim utusan Ukraina ke Moskow untuk melakukan negoisasi.

Lavrov sangat optimis, karena diplomatik AS berada pada titik terendah dan tidak terlihat sejak akhir perang dingin.

Namun pihak AS tidak melihat kejelasan dalam pertemuan dengan Lavrov. As pun tidak mengomentari perihal tawaran tentang bahasan diplomatik yang diberikan Rusia, dan Tillerson juga tidak merespon pertanyaan-pertanyaan wartawan yang ditujukan pada dirinya sebelum acara pertemuan di Filipina dimulai.

Sementara itu Lavrov mengatakan, “Kami merasa bahwa AS perlu menjaga dialog terbuka” ujarnya.

“Ada alternatif untuk pembahasan tersebut” tambah Lavrov.

Dalam pernyataannya Lavrov mengatakan bahwa Tillerson memintanya untuk merincikan rencana Moskow untuk mengusir diplomat AS dan menutup sarana rekreasi AS dipinggiran kota Moskow. Lavrov juga menjelaskan kepada Tillerson bagaimana cara Rusia akan meresponnya, mengungkapkan rincian-rincian tersebut namun tidak secara terbuka.

B ulan lalu, Kremlin mengatakan bahwa AS harus mengeluarkan 755 orang staff Kedutaan dan Konsulatnya di Rusia. Satu langkah balasan atas tindakan mantan Presiden Barack Obama pada tahun lalu, yang mengeluarkan diplomat Rusia karena ikut campur dalam pemilihan di Amerika tahun 2016 silam. Pengumunan Rusia itupun langsung membuat pemerintah AS kebingunan, karena diperkirakan sekitar 755 orang staf Kedutaan dan Konsulat ada dinegeri Beruang tersebut.

Perwakilan khusus AS, Kurt Volker yang berencana untuk mengunjungi ibukota Rusia merupakan tanda bahwa, Washington memberikan perhatian baru untuk menyelesaikan konflik Ukraina. AS memutuskan hubungan militer dengan Rusia yang menerobos Moskow, dan menuduh Kremlin kerusuhan di Ukraina Timur dengan cara mensuplai senjata, mendukung bahkan mengarahkan kelompok separatis untuk menggoyahkan Kiev.

Dalam beberapa hari yang lalu, pemerintahan Trump telah menyediakan unit persenjataan ke Ukraina untuk membantu mempertahankan diri melawan agresi Rusia.

Ketika intelijen, mantan duta besar NATO akan pergi ke Moskow, Lavrov tidak mengatakannya. Justru dalam pertemuan, Lavrov mengatakan bahwa Tillerson setuju untuk melanjutkan dialog antara Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov dengan pejabat dibawah Sektretaris Negara AS, Thomas Shannon. Pertemuan tersebut diharapkan bisa mengatasi gesekan antara AS dan Rusia, dan menjadikan hubungan kedua negara menjadi lebih baik.

Pertemuan Lavrov dan Tillerson dilakukan disela-sela acara regional Asia di Filipina, yang merupakan percakapan tatap muka pertama mereka sejak kongres pengesahan undang-undang baru pada bulan Juli yang lalu. Undang-undang yang ditanda tangani oleh Trump itupun membuatnya lebih sulit untuk meringankan hukuman pada Rusia.

Dilain sisi, Gedung Putih pun mengatakan bahwa oposisi Trump berawal dari kegagalan RUU yang memberikan fleksibilitas Presiden dalam memberikan sanksi. Kritikus melihat keberatan Trump sebagai satu tanda bahwa Trump melakukan manuver untuk membuat ikatan yang lebih dekat ke Rusia, atau melindungi mantan musuh perang dingin dari hukuman yang ditujukan pada Moskow atas tindakkannya di Ukraina, campur tangan pemilihan dan masalah lainnya.

Tak hanya itu, Departemen Kehakiman AS pun melakukan pemeriksaan hingga ke Rusia dan mempertanyakan apakah Trump melakukan kolusi pada saat kampanye?. Namun Trump menyangkal hal tersebut meski intelijen AS berulang kali menanyakan keterlibatan Moskow.

Disaat yang bersamaan, pemerintahan Trump berpendapat ada alasan yang jauh lebih baik bagi AS untuk menjalin hubungan yang lebih produktif. Dikutip dari pernyataan Tillerson yang mengatakan bahwa kemajuan bagi AS di Syria yakni dimana AS dan Rusia baru-baru ini telah melakukan gencatan senjata dalam perang yang memporak-porandakan negara barat daya tersebut.

Gencatan senjata di Suriah dianggap sebagai refleksi kembalinya kerjasama AS-Rusia untuk meredam tindak kekerasan diwilayah itu. AS melihat serangkaian zona aman di Suriah yang telah di negoisasikan oleh Rusia, Turki dan Iran, namun tidak dengan AS.

Sementara itu, Lavrov pun menyatakan jika pada pembicaraan mendatang yang melibatkan Rusia, Iran dan Turki akan membahas bagaimana untuk memastikan gencatan senjata dapat dilaksanakan dalam zona aman, disekitar wilayah utara dan barat Kota Idlib. Lavrov menyimpulkan kesulitan untuk merinci pembicaraan tersebut, namun kesepakatan itu bisa dicapai jika semua pihak termasuk AS untuk menggunakan pengaruh mereka di Suriah untuk membujuk kelompok bersenjata disana mematuhi perintah mereka. [Did/Milty/Berbagai Sumber]

sam

No comment

Leave a Response