Program Magister Penyuluh Pertanian Unsoed Sukses Gelar International Webminar “Membangun Ketahanan Masyarakat Pedesaan Pasca Covid-19”

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO –Sudah 4 bulan lamanya Covid-19 merubah tatanan sosial ekonomi masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan. Pandemi penyakit virus corona 2019 (Covid-19) telah memunculkan berbagai larangan di tengah masyarakat diantaranya larangan berkerumun dalam keramaian, larangan bepergian, dan larangan wisata. Berbagai larangan tersebut secara sosial telah merubah pola interaksi manusia (masyarakat). 

"Berbagai larangan juga berdampak pada penurunan konsumsi masyarakat, sehingga mengganggu proses produksi, " ungkap Humas Dies Natalis ke-54 Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Ir. Alief Einstein, M.Hum. saat mendampingi pemaparan Dosen Fapet Unsoed yang juga Ketua Penyelenggara Webinar Internasional Moch.Sugiarto, PhD.

A. Pembicara Webseminar Internasional

Moch.Sugiarto,PhD yang juga Alumni Program S3 Community Development, University of the Philippines at Los Banos, mengatakan angan-angan dan harapan selesainya pandemi Covid-19 perlu disertai keinginan baru tentang ketahanan masyarakat di masa yang akan datang. Untuk itu, Program Magister Penyuluhan Pertanian Unsoed menggelar International webseminar melalui Google Meet pada hari Kamis (28/05/2020) yang menghadirkan pembicara dari beberapa negara Asia (Vietnam, Bhutan, Philippines, Thailand,  Timor Leste, dan Indonesia), menyoroti upaya-upaya strategies membangun masyarakat pedesaan ke depan.

1. Dr. Han Quang Hanh

Dr. Han Quang Hanh dari Vietnam memberikan insight pentingnya menguatkan produksi ternak lokal yang dipelihara dengan skala usaha terbatas. Menurutnya masyarakat pedesaan di Vietnam yang berbasis pada peternakan tetap me-maintain usaha peternakan walaupun tidak dilakukan secara komersial. Hal tersebut dikarenakan memelihara ternak merupakan budaya (cara hidup) dan terbukti mampu meningkatkan ketahanan pangan keluarga. Ternak lokal yang dipelihara masyarakat pedesaan telah memberikan multiplier effect yang sangat signifikan untuk pembangunan ekonomi keluarga. Keluarga-keluarga tersebut mampu bertahan (survive) secara ekonomi dari serangan Covid-19. Keluarga di wilayah pedesaan yang memiliki diversifikasi usaha selain pertanian tanaman pangan dalam pola integrasi peternakan-perikanan dan tanaman pangan mampu mempertahankan diri secara ekonomi di tengah pandemi corona. Masyarakat akan mampu lebih bertahan dan lebih kokoh secara ekonomi bilamana memiliki usaha tani yang lebih terdiversifikasi.

2. Dil Maya Rai,MSc.

Dil Maya Rai, MSc (Bhutan) memberikan gambaran bahwa Bhutan merupakan negara kecil yang pendapatan negaranya sebagian besar dari Gas Alam dan Wisata. Namun di tengah pandemi seperti ini, pendapatan negara turun salah satunya karena penjualan wisata dan gas alam yang menurun. Namun demikian, negara yang berbentuk kerajaan demokratik tersebut tetap focus dalam mendukung masyarakat untuk bertahan dari serangan Covid-19. Kunci utama perlindungan masyarakat adalah kepemimpinan negara yang kuat. Selain itu, ketersediaan sumberdaya manusia yang professional di kabinet pemerintahan mendorong upaya-upaya sistematis mengatasi Covid-19 dilakukan secara professional juga. Dalam situasi genting, masyarakat dan pemerintah perlu memiliki kebersamaan, karena hal tersebut merupakan modal sosial yang penting untuk membangun negara dan masyarakat. Rasa emphati, solidaritas, dan respect harus terus dibangun dan dikuatkan setelah wabah Covid-19 untuk menghasilkan masyarakat yang lebih kokoh. Nilai-nilai penting tersebut tidak boleh pudar dalam membangun ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat.

3. Dr. John Perez

Dr. John Perez (Philippines) menegaskan bahwa penguatan masyarakat setelah wabah Covid-19 harus dilakukan secara sistematis dan prudent. Arah pembangunan masyarakat ke depan perlu disesuaikan dengan identifikasi kebutuhan masyarakat setelah pandemi corona. Hal tersebut untuk mengurangi ketidak efisienan anggaran pembangunan dan meningkatkan efektifitas rencana pembangunan masyarakat. Recovery masyarakat harus dilakukan dengan data yang valid dan terukur, serta diharapkan tidak muncul rencana pembangunan masyarakat yang tidak sesuai kebutuhan dan karakter masyarakat. Dr.John Peres mengintroduksi pentingnya menggunakan Post Disaster Need Assessment (PDNA) untuk memberikan arah dan strategi recovery masyarakat setelah wabah Covid-19.

4. Dr. Watchara Laenoi

Dr. Watchara Laenoi (Thailand) mengintroduksi perubahan model bisnis yang harus dilakukan masyarakat pedesaan yang sebagian besar adalah petani. Petani skala kecil dalam arti umum harus mampu mengadopsi cara-cara baru dalam mengakses pasar yang lebih luas. Munculnya petani-petani muda dan cerdas diharapkan mampu meningkatkan dinamika ekonomi masyarakat pedesaan. Selain itu, mahasiswa memiliki peran penting untuk menggelorakan kewirausahaan berbasis pertanian di pedesaan setelah wabah Covid-19. Kepemilikan pengetahuan, hard, softskill, dan inovasi mahasiswa mampu lebih berperan dalam memperkuat masyarakat menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang.

5. Natalino Babo Martin, M.Sc.

Natalino Babo Martin,MSc (Timor Leste) menggambarkan pertanian di Timor Leste belum memberikan kontribusi GDP yang signifikan. Masyarakat masih banyak yang menyandarkan kehidupan ekonominya pada sektor pertanian, namun permasalahan produktifitas lahan, degradasi lingkungan, perubahan iklim, dan kepemilikan lahan menjadi penghambat untuk mendorong sektor pertanian tumbuh lebih kuat. Peningkatan kapasitas sistem pertanian menjadi hal penting untuk menguatkan masyarakat pada masa-masa setelah pandemi corona. Peningkatkan teknologi, sumberdaya manusia, infrastruktur, dan kebijakan pemerintah diyakini dapat meningkatkan daya tahan dan daya saing masyarakat di masa masa yang akan datang.

6. Moch.Sugiarto, PhD

Ketua Program S2 Magister Penyuluhan Pertanian Unsoed, Moch.Sugiarto,PhD (Indonesia) memberikan insight bahwa esensi masyarakat adalah relationship. Ketiadaan hubungan/interaksi antar anggota masyarakat akan mengaburkan makna masyarakat. Demikian halnya pada konteks kelompok peternak, interaksi, dan relationship menjadi esensi perkumpulan antara lebih dari 2 manusia untuk mencapai tujuan bersama. Komunikasi menjadi hal strategis dalam memperkuat interaksi antar anggota masyarakat yang selama masa pandemi corona agar terhambat karena social distancing. Kehadiran modal sosial ditengah masyarakat harus di bangun dan diperkuat untuk meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi. Masyarakat yang kuat setelah pandemi corona akan mampu diwujudkan apabila modal sosial selalu dipertahankan dan ditingkatkan. Namun demikian salah satu aspek modal sosial yang sangat perlu dicermati adalah trust (saling percaya) antar anggota masyarakat. Selama riset yang dilakukan di kelompok peternak sebagai bagian masyarakat pedesaan, skor terendah dalam komponen modal sosial adalah aspek saling percaya (trust) antar anggota masyarakat. Oleh karena itu, kepemimpinan yang kuat di masyarakat ataupun kelompok peternak sangat diharapkan hadir untuk meningkatkan trust khususnya dan modal sosial pada umumnya untuk mengkonfigurasi masyarakat yang lebih kuat secara sosial dan ekonomi.

7. Dr. Siwi Gayatri

Dr. Siwi Gayatri (Undip, Indonesia) menyatakan isu keberlanjutan sangat relevan dalam pembangunan masyakarat setelah wabah Covid-19 usai. Mewujudkan keberlanjutan masyarakat dapat dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan ketiga aspek sustainability yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan. Masyarakat harus diarahkan untuk melakukan kegiatan ekonomi yang secara sosial mampu menumbuhkan kesetaraan, secara ekonomi layak, dan menguntungkan, serta secara lingkungan mampu mempertahankan keseimbangan kondisi lingkungan. Keberlanjutan masyarakatpun harus ditopang oleh keberadaan bisnis yang layak dan menguntungkan, ketersediaan atmosfer sosial yang menjamin kesetaraan dan ketersediaan lingkungan yang ramah. Oleh karena itu, membangun dan memperkuat masyarakat khususnya pedesaan harus memperhatikan "locally available resources, local skill and local knowledge".

B. Overall Summary

Ringkasan secara umum Webinar Internasional menurut Moch.Sugiarto,PhD yang juga Sekjen PERSEPSI (Perhimpunan Ilmuwan Sosial Ekonomi Peternakan) dan Ahli Agribisnis dan Pemberdayaan Masyarakat:

1. Wilayah pedesaan yang selama masa wabah Covid-19 menjadi buffer akibat PHK yang berlebihan di wilayah perkotaan cukup mengalami perubahan pola interaksi.

2. Beberapa gerusan dan kikisan nilai sosial perlu diperkuat melalui social capital dan social network.

3. Terdampaknya ekonomi masyarakat perlu untuk kembali menengok potensi sumberdaya lokal.

4. Kegiatan ekonomi lokal seperti peternakan, pertanian, dan perikanan terbukti mampu menahan gempuran ekonomi yang diakibatkan oleh Covid-19 di pedesaan.

5. Penguatan kembali nilai nilai sosial dan kegiatan ekonomi lokal di masyarakat pedesaan khususnya diyakini akan mampu mengembalikan esensi bermasyarakat, menguatkan masyarakat untuk memiliki daya tahan (resistance) terhadap wabah dan bencana.

6. Kemampuan mewujudkan masyarakat yang memiliki daya tahan sangat berdampak pada meningkatkan kekuatan (power) yang dimiliki masyarakat.

7. Pada tinjauan Symbolic Interactionism, wabah ini mengingatkan kembali nilai-nilai solidaritas, membangun kebersamaan yang merupakan nilai penting membangun masyarakat masa depan yang lebih kuat dan bermartabat.*(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response