Perubahan Definisi Kasus Covid-19 Menurut WHO

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum mengungkapkan, kegagalan tes dan pelacakan, picu melonjaknya kasus baru Covid-19. Tes yang masif, pelacakan, dan isolasi menurutnya, sangat krusial bagi pengendalian pandemi, selain penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Sementara Dosen Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Yudhi Wibowo,MPH memaparkan per 16 Desember 2020, WHO telah merelease ketentuan definisi kasus Covid-19 terbaru. Perubahan ini menurutnya, akan sangat membantu dalam pencegahan dan penanggulangan pandemi Covid-19, karena cukup dengan pemeriksaan Rapid Antigen (Ag), hasilnya dapat keluar maksimal 15 menit saja. 

"Rapid Antigen ini mendeteksi protein virus yang ada pada bagian kulit SARS-CoV2 dengan sampel berupa lendir dari hidung," ungkapnya.

 Dikatakannya, Rapid Ag selain hasilnya cepat keluar, harga juga relatif murah dibandingkan Rt-PCR. Batasan Tarif Tertingi (BTT) Rapid Ag juga sudah ditentukan berdasar SE Dirjen Yankes Nomor: HK.02.02/I/4611/2020 tertanggal 18 Desember 2020. Disebutkan dalam SE tersebut bahwa BTT yaitu Rp 250.000,- di Pulau Jawa dan Rp 275.000,- di luar Jawa. 

Hal ini tentunya dapat menghemat biaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19 di Indonesia dan relatif terjangkau oleh masyarakat umum. Hanya masa berlaku yang cukup singkat yaitu 3 hari. 

Satgas Covid-19 telah merelease SE Nomor 3 tahun 2020 dan adendumnya tentang protokol kesehatan perjalanan orang selama libur hari raya Natal dan menyambut tahun baru 2021 dalam masa pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19). Dalam SE tersebut telah diatur bagaimana pelaku perjalanan orang untuk diwajibkan melakukan pemeriksaan Rapid Ag. 

Ahli Epidemiologi Lapangan (Field Epidemiology) FK Unsoed ini menjelaskan definisi kasus Covid-19 menurut WHO per tanggal 16 Desember 2020 sebagai berikut:

A. Kasus Suspek

1. Seseorang yang memenuhi kriteria klinis dan kriteria epidemiologi

a. Kriteria Klinis:

1) Onset akut gejala panas dan batuk; atau,

2) Onset akut dari 3 atau lebih gejala dan tanda sebagai berikut: panas, batuk, kelemahan/fatik general, sakit kepala, nyeri otot, nyeri tenggorok, peradangan mukosa dalam hidung (coryza), sesak nafas, anoreksia/mual/muntah, diare, perubahan status mental.

b. Kriteria Epidemiologi:

1) Bertempat tinggal atau bekerja di daerah risiko tinggi penularan virus: setting pemukiman tertutup, setting kemanusiaan seperti kamp dan setting seperti kamp untuk pengungsian, kapan pun dalam 14 hari sebelum onset gejala; atau,

2) Bertempat tinggal atau perjalanan ke daerah dengan penularan komunitas kapan pun dalam 14 hari sebelum onset gejala; atau,

3) Bekerja di setting layanan kesehatan, baik di dalam fasilitas kesehatan atau di komunitas, kapan pun dalam 14 hari sebelum onset gejala.

2. Pasien dengan sakit pernafasan akut berat (Severe Acute Respiratory Illness=SARI): infeksi pernafasan akut dengan riwayat panas atau suhu ≥ 38◦C; dan batuk; dengan onset kurang dari 10 hari; dan memerlukan perawatan di RS.

3. Orang Tanpa Gejala yang tidak memenuhi kriteria epidemiologi dengan pemeriksaan Rapid Ag positif.

B. Kasus Probable

1. Pasien yang memenuhi kriteria klinis dan kontak dengan kasus probable atau kasus konfirmasi, atau terkait dengan kluster Covid-19.

2. Kasus suspek dengan pencitraan dapat menunjukkan temuan sugestif Covid-19.

3. Seseorang dengan onset anosmia baru-baru ini (kehilangan bau) atau ageusia (kehilangan rasa) tanpa adanya penyebab lain yang teridentifikasi.

4. Kematian, tidak dijelaskan sebaliknya, pada orang dewasa dengan gangguan pernapasan sebelum kematian dan merupakan kontak dari kasus probable atau konfirmasi atau terkait dengan kluster Covid-19.

C. Kasus Konfirmasi

1. Seseorang dengan Tes Amplifikasi Asam Nukleat (NAAT) / Rt- PCR positif,

2. Seseorang dengan Rapid Antigen positif dan memenuhi baik definisi kriteria kasus probable?

3. Orang Tanpa Gejala dengan Rapid Antigen positif yang merupakan kontak dari kasus probable atau kasus konfirmasi.

dr.Yudhi Wibowo menambahkan bahwa perubahan definisi kasus dari WHO tersebut sudah sangat jelas bahwa seseorang yang memenuhi kriteria kasus probable dan Orang Tanpa Gejala yang merupakan kontak dari kasus probable atau kasus konfirmasi dapat ditegakkan menjadi kasus konfirmasi, cukup dengan pemeriksaan Rapid Ag yang menunjukkan hasil positif. 

"Hal ini sangat menguntungkan baik secara waktu karena hasil pemeriksaan Rapid Ag lebih cepat keluar dalam waktu 15 menit, disamping dapat mempercepat penanganan terhadap pasien. Keuntungan lainnya adalah harga yang relatif lebih murah dibandingkan Rt-PCR," pungkasnya. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response