Persalinan Dengan Metode ERACS Tengah Menjadi Trend Di Masyarakat

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -ERACS yakni metode baru yang diterapkan dalam tindakan operasi caesar pada ibu melahirkan. Metode ini ramai diperbincangkan di kalangan ibu hamil, sebab metode persalinan operasi caesar ini lebih aman dengan proses pemulihan lebih cepat dibandingkan proses caesar pada umumnya.  Tujuannya adalah agar proses penyembuhan pasca operasi dapat dipercepat dengan hasil maksimal, sehingga ibu yang baru saja melahirkan bisa cepat pulih dan dapat berfokus untuk merawat bayi. Bahkan mereka bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan normal tanpa merasakan efek dari operasi. 

"Saat ini beberapa rumah sakit di Indonesia telah menerapkan metode melahirkan ERACS sebagai pilihan ibu hamil," kata Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir. Alief Einstein, M.Hum. kepada Matamatanews.com

Dosen Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Wisnu Budi Pramono,Sp.An. mengatakan, akhir-akhir ini persalinan metode ERACS sedang menjadi "tren" di kalangan masyarakat, terlebih lagi setelah para selebritas tanah air menjalani proses persalinan. 

Metode ERACS kata dr.Wisnu merupakan kepanjangan dari Enhanced Recovery After Caesarean Surgery dimana proses melahirkan dilakukan dengan tindakan operasi Caesar dengan tujuan mempercepat masa pemulihan dan mempersingkat masa perawatan pasien sesudah operasi. Sebelum diterapkan pada operasi Caesar, metode ERACS ini sebetulnya sudah diterapkan lebih dulu pada tindakan operasi bedah umum kurang lebih sekitar tahun 2010 di Inggris.

"Tindakan operasi baik operasi caesar maupun operasi yang lain tentunya akan menimbulkan rasa nyeri pada pasien  terutama pasca operasi atau pemulihan. Dengan metode ERACS ini rasa nyeri yang ditimbulkan jauh lebih minimal, sehingga pasien merasa lebih nyaman dalam menjalankan aktifitas seperti menyusui dan merawat bayi. Selain itu mobilisasi pasien mulai dari duduk, berdiri dan berjalan juga lebih cepat,"kata dr.Wisnu Budi Pramono.

Lebih lanjut Anggota PERDATIN/perhimpunan dokter anestesi dan terapi intensif, Jawa Tengah ini menjelaskan bahwa metode ERACS  melibatkan kerjasama berbagai disiplin bidang ilmu, mulai dari dokter spesialis kebidanan, dokter spesialis anestesi, bidan, serta perawat yang merawat baik sebelum pasien menjalani rawat inap, maupun di ruang rawat inap setelah menjalani operasi.

Dosen di Prodi Spesialis Anestesiologi Fakultas Kedokteran Unsoed ini memaparkan bahwa ada serangakaian proses medis yang harus dijalani pasien dalam penerapan motode ERACS. Serangkaian proses tersebut meliputi persiapan pra operasiproses operasi itu sendiri, dan perawatan pasca operasi.

1. Persiapan Sebelum Operasi

Pada tahapan persiapan pra operasi ini, pasien diberi edukasi mengenai konsep ERACS itu sendiri, termasuk evaluasi oleh dokter yang merawat karena tidak semua ibu hamil yang akan menjalani persalinan dapat menggunakan metode ERACS. Berbeda dengan metode operasi secara konvensional pasien pada umumnya menjalani puasa 6 sampai 8 jam sebelum operasi. Pada metode ini pasien diminta minum minuman karbohidrat berkalori tinggi pada 2 jam sebelum operasi. Kadar Hemoglobin (Hb) sebelum operasi juga dipersiapkan dalam keadaan optimal karena kadar Hb yang rendah (anemia) menjadi faktor yang signifikan memicu terjadinya anemia pasca melahirkan yang dikaitkan dengan morbiditas seperti kelelahan dan depresi.

2. Proses Saat Operasi

Pada tahapan ini ada beberapa proses yang membedakan dengan metode operasi Caesar konvensional. Pada tahapan pemberian antibiotik profilaksis, pemberian antibiotik ini direkomendasikan untuk diberikan 60 menit sebelum dilakukan Irisan pada kulit karena lebih signifikan dalam mengurangi kejadian infeksi postpartum. 

Berikutnya adalah menejemen pemberian cairan dan pengendalian tekanan darah, cairan yang diberikan harus cukup dan diimbangi penggunaan obat vasopressor supaya tekanan darah dalam keadaan normal dan stabil. Karena tekanan darah yang rendah atau hipotensi memicu terjadinya mual dan muntah saat proses operasi berlangsung dan menurunkan aliran darah uteroplasenta yang mengganggu oksigenasi janin. 

Menejemen suhu selama proses operasi harus dilakukan supaya pasien tetap dalam keadaan normotermia, dapat diimplementasikan dengan memberikan selimut hangat, penggunaan alas atau mesin penghangat serta pemberian cairan intravena yang dihangatkan lebih dulu. Hal ini dikarenakan hipotermia menyebabkan perlambatan untuk pasien keluar dari ruang pemulihan pasca anestesi. 

Teknik anestesi atau pembiusan ERACS yang dilakukan oleh dokter anestesi tidak berbeda jauh dengan metode operasi yang konvensional. Yang membedakan adalah dosis dan tambahan obat yang digunakan, yang memungkinkan untuk pemulihan lebih cepat dan efek anti nyeri pasca operasi yang lebih efektif. 

Pemberian obat anti mual dan muntah secara kombinasi juga diberikan sebelum insisi kulit untuk mencegah mual dan muntah selama proses operasi. Disamping hal itu semua komunikasi dengan dokter spesialis kebidanan harus terjalin dengan baik, terutama dalam mengkondisikan untuk proses operasi yang tidak terlalu lama, metode irisan dan penjahitan rahim serta penggunaan obat kontraksi rahim dosis rendah. Secara umum dari sisi pembedahan yang dilakukan oleh dokter spesialis kebidanan hampir tidak ada perbedaan jika dibandingkan dengan metode operasi Caesar yang konvensional.

3. Perawatan Sesudah Operasi

Pada perawatan pasca operasi dengan metode ERACS ini pasien diberikan asupan oral lebih awal guna mendorong kembalinya fungsi usus, menurunkan resiko infeksi dan memperpendek lama rawat inap. Pemberian antinyeri setelah operasi direkomendasikan menggunakan regimen analgesik multimodal dengan kombinasi obat dengan mekanisme yang berbeda dengan tujuan mengoptimalkan efek antinyeri dan meminimalkan efek samping. 

Analgesik pasca operasi yang efektif ini juga merupakan faktor kunci keberhasilan mobilisasi dini pasca operasi sehingga dapat meningkatkan fungsi paru, oksigenasi jaringan dan memperpendek rawat inap. Pelepasan kateter urin dalam protokol ERACS ini juga dilakukan lebih awal yaitu 7 jam setelah prosedur operasi.

dr.Wisnu Budi Pramono,Sp.An. yang juga Anggota Dewan Pengawas RSUD. Goeteng Taroenadibrata, Purbalingga ini menambahkan bahwa metode persalinan secara ERACS ini juga dapat menimbulkan komplikasi seperti pusing, mual, muntah hingga perdarahan. 

Ketika pasien pulang ke rumah kata dr.Wisnu, juga diberikan edukasi untuk segera menghubungi atau pergi ke rumah sakit jika terjadi masalah,. Disarankan pada 24 jam setelah kepulangan pasien, pihak fasilitas pelayanan kesehatan menghubungi pasien untuk memonitoring kesejahteraan ibu dan bayi. 

Selain tingkat pemulihan yang lebih cepat, dengan metode ERACS ini pasien operasi Caesar yang biasanya membutuhkan perawatan selama 3 sampai 4 hari, dengan metode ini bisa 2 hari dengan rasa nyeri yang minimal.

dr.Wisnu Budi Pramono,Sp.An. menambahkan bahwa hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak semua ibu hamil bisa dilakukan operasi Caesar dengan konsep ERACS tersebut.

Melahirkan dengan metode operasi harus berdasarkan indikasi yang ditentukan oleh dokter ahli kebidanan. 

"Kasus kehamilan yang bersifat gawat darurat, kandungan hemoglobin yang tidak optimal, penyakit diabetes merupakan beberapa kontra indikasi untuk dilakukannya operasi Caesar dengan metode ERACS," kata dr.Wisnu  yang juga dokter spesialis anestesi di RSUD. Prof.Dr.Margono Soekarjo, Purwokerto, RSU. St.Elisabeth, Purwokerto, RSIA. Budhi Asih, Purwokerto. (hen)

redaksi

No comment

Leave a Response