Perjalanan Literasi Dr. Mohammad Sabri M.Ag

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Tahun 2020 tepatnya pada tanggal 26 November, Dr. Mohammad Sabri M.Ag resmi dilantik menjadi Direktur Pengkajian Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Ia pun harus meninggalkan jabatan lamanya sebagai Ketua Program Studi Dirasah Islamiyah (Islamic Studies) di Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.

Selain sebagai akademisi, ia juga dikenal sebagai "Penggiat Literasi", Ia menulis di sejumlah media di Makassar, bahkan menjadi kolumnis tetap di Harian Fajar, Tribun Timur dan Koran Tempo Makassar kala masih terbit. Kegilaanya pada kegiatan literasi bermula saat ia menjadi aktivis pers mahasiswa, semangat membaca dan menulisnya tidak pernah surut hingga kini.

Berawal dari Pers Mahasiswa 

Journalism is an exercise, Jurnalistik adalah latihan untuk menjadi cendekiawan, orang-orang yang menekuni kegiatan jurnalistik, berarti dia sedang menyiapkan diri untuk menjadi cendekiawan. Kurang lebih seperti itu ungkapan Nurkholis Majid. Ia merasa terpancing dan terpukau dengan ungkapan itu lalu muncul rasa keingintahuan mengenai kegiatan jurnalisme.

Setelah itu ia lalu mengikuti sebuah pendidikan jurnalistik tingkat Ujung Pandang yang digelar di Universitas Muslim Indonesia (UMI). Dari sinilah keinginannya untuk menekuni kegiatan jurnalistik dimulai. Selepas dari Pendidikan Pelatihan itu, ia pun bergabung dan menerbitkan Buletin Opini yang berada di bawah Badan Pelaksana Kegiatan Mahasiswa (BPKM).

Namun kondisi Buletin Opini masih dianggap lemah dan belum mampu bersaing dengan pers kampus lainnya, yang pada akhirnya membuat sejumlah aktivis BPKM memunculkan ide mendirikan lembaga pernerbitan kampus yang diberi nama Washilah. Mereka diantaranya Waspada Santing, Laode Arumahi dan Hasanuddin.

Sabri lalu mendaftarkan diri di Washilah sebagai pengelola. Ia kemudian menduduki jabatan sebagai sekretaris redaksi. Keinginannya untuk menekuni kegiatan jurnalistik membuatnya kembali mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan jurnalistik tingkat madya se-Indonesia Timur yang diselenggarakan di Sudiang yang diberi nama Ukhuwah. Disitulah modal awal Sabri menekuni dunia jurnalistik. Ia terinspirasi Cak Nur, karena ia berpendapat ada pesan yang kuat dari pernyataan Cak Nur. 

Selain aktif menulis di intern Washilah, ia juga rutin menulis di Pedoman Rakyat dan Harian Fajar. Kelebihan yang dimilikinya adalah dari buku-buku yang dibacanya dan film-film yang ia tonton dibuatnya dalam sebuah tulisan resensi di Pedoman Rakyat dan Harian Fajar sebagai sasaran berekspresi.

Hobi membaca dan menulis memang sudah ia miliki sejak masih berstatus mahasiswa. Namun yang banyak menpengaruhi adalah kondisi sosial politik kala itu, dimasa pemerintahan Orde Baru di era tahun 80-an memaksakan agar semua Organisasi Kemahasiswaan, Organisasi Masyarakat (Ormas) dan Partai Politik berazas tunggal yaitu azas pancasila. Akibatnya organisasi dan partai politik pun mau tidak mau harus menerima UU Nomor 3/1985 itu atau di ubarkan.

Namun tetap saja sejumlah organisasi yang berazaskan Islam tidak serta merta berdamai dengan keadaan waktu itu seperti HMI, IMM dan KAMMI. Golongan yang tidak setuju lalu membentuk klub-klub studi, hingga akhirnya klub studi kala itu menjamur di kampus-kampus. Akibatnya, mereka semakin kritis dan memaksa diri untuk membaca, mengkaji dan menulis. Tradisi inilah yang membantunya menulis dengan baik..

Tradisi kajian semakin ramai, hampir semua organisasi kampus rutin menggelar kajian. Begitu pula yang terjadi pada pers kampus saat itu yang memang dikelola dari tangan-tangan aktivis kampus yang pada akhirnya membawa pers kampus semakin berwibawa. Pers Mahasiswa memiliki keistimewaan tersendiri lantaran disebut sebagai penerbitan khusus.

Saat itu, setiap penerbitan pers harus mengantongi surat ijin terbit yang berbentuk SIUP (Surat Izin Usaha Penerbitan) dari Kementerian Penerangan. Hal ini merupakan cara orde baru mengontrol media. Jika kritis, dibungkam dengan pencabutan SIUP, seperti yang dialami oleh majalah Tempo, Editor dan Detik. Sementara Pers kampus yang disebut penerbitan khusus tak harus memiliki itu. Akhirnya pers kampus menjadi sasaran bagi kalangan aktivis untuk meluapkan ekspersi. Ini pun tak lepas dari peran Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI). Sejalah dengan itu, di era 80-an juga menjadi masa lahirnya penerbitan-penerbitan besar seperti Mizan, Hidayah dan penerbitan lainnya. 

Hal itu menambah gairah keilmuan sehingga tradisi membaca, tradisi kajian dan tradisi kepenulisan ibarat sesuatu yang bersenyawa memiliki bobot tersendiri dari produk jurnalisme pers kampus, tuturnya.

Menulis Merupakan Dakwah Diluar Mimbar

Bagi Sabri, menulis adalah pengabdian kepada masyarakat, apalagi dengan statusnya sebagai akademisi untuk memberi pandangan akademis terhadap fenomena sosial yang terjadi ditengah masyarakat. Karena seorang akademisi itu harus menjadi cendekiawan sementara salah satu ekspresi seorang cendekiawan adalah menulis.

Namun, cendekiawan itu jauh lebih luas dari akademisi lantaran akademisi sangat dekat dengan urusan dosen, sementara cendikiawan lebih luas dari itu, yaitu merupakan terjemahan dari intelektual publik yang memberi pemahaman pemikiran kepada masyarakat, ujarnya.

Kemampuannya menulis dijadikan sebagai jalan dakwah di luar mimbar, lantaran dirinya tidak terdaftar sebagai Muballigh di berbagai lembaga dakwah seperti IMMIM yang berhak untuk berdiri di mimbar-mimbar masjid sehingga menulis menjadi jalan yang dipilihnya untuk berdakwah.

Begitu pula saat mendaftarkan diri sebagai Direktur Pengkajian Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), ia menganggap ini sebagai "Jihad Intelektual", karena ia merasa terpanggil kesana agar bisa berkontribusi secara perseorangan dan secara kolektif.

Tantangan Yang Dihadapi Generasi Milenial

Ia ingin mengkaji sila-sila dalam Pancasila ini dengan berbasis agama, budaya, dan etnisitas di Indonesia. Namun ia menyadari saat ini masyarakat hidup di era Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan perkembangan telekomunikasi dan digitalisasi. Menurutnya, kondisi ini sangat berbeda dengan kondisi masyarakat 10 atau 20 tahun yang lalu, apalagi Revolusi Industri 4.0 tumbuh bersamaan dengan generasi milenial yang sangat akrab dengan dunia maya dan digitalisasi. Kondisi ini menjadi tantangan bagi BPIP untuk memberikan pemahaman makna sila dalam Pancasila.

Sabri mengatakan, bila pemerintah tidak menyadari hal itu maka akan  terjadi anomalis dan kegagapan lantaran cara berfikir generasi milenial ini sangat jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. 

Gaya indoktrinasi sudah tidak laku lagi sehingga kita harus memahami karakteristik generasi milenial, mungkin model pemaparan materinya dibuat dalam bentuk game, talk show, atau art show, karena inilah yang betul-betul mewakili karakter mereka, ucapnya. 

Dengan menyadari jejak masa lalu, pihaknya  akan membuka ruang kerjasama dengan Universitas, Organisasi Masyarakat  (Ormas) yang mempunyai minat di bidang kajian Pancasila atau Kebudayaan untuk didorong di tengah masyarakat sehingga gagasan kepancasilaaan langsung muncul di tengah masyarakat.

Ia memberi gambaran kolaborasi riset dengan ormas nantinya terkait bagaiman pemahaman Ketuhanan Yang Maha Esa dalam perspektif agama-agama lokal di Sulawesi seperti agama Tolotang di Sidrap, Tupatuntung di Kajang atau Binanga Benteng di Selayar. Ormas tersebut melakukan riset sehingga riset ini bisa menemukan pemahaman Ketuhanan Yang Maha Esa dari perspektif yang berbeda. Agama Lokal Nusantara menurutnya adalah sesuatu yang ilahi, tidak hanya dari agama mainstream saja, sehingga agama-agama lokal pun menurutnya patut untuk diapresiasi.(Javi, berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response