Penguatan Rupiah Dan Mata Uang Global Di Tengah Pandemi Covid-19

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO—Awal Juni 2020 media memberitakan bahwa penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat makin perkasa. Diantara penyebabnya adalah situasi di Amerika Serikat (AS) sendiri, angka pengangguran tercatat mengalami lonjakan tertinggi sepanjang sejarah Amerika Serikat, mencapai 20,5 juta orang. 

"Langkah pemerintah AS mengunci wilayah (lockdown) berdampak besar pada perekonomian dan berimbas pada lapangan pekerjaan, "ungkap Tim Promosi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Ir.Alief Einstein,M.Hum. didampingi alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed Rudi Sutanto, SE., MBA.

Rudi Sutanto yang juga praktisi profesional menjelaskan tentang kondisi AS dan IDX atau pasar modal Indonesia.

1. Kondisi Amerika Serikat

Rudi menjelaskan, dalam menghadapi pandemi, pemerintah AS telah menggelontorkan dana guna meringankan wajib pajak sebesar $2 triliun. 

"Totalnya mencapai 10,5% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB), dan pandemi memerlukan waktu 4 bulan, untuk mencapai tingkat pengangguran “serius”, " terang Rudi.

Menurutnya, data statistik USA (up dated 30 April 2020),  yaitu NonFarm Payrolls (NFP) menggambarkan posisi pembayaran gaji para pekerja di USA di luar sektor pertanian, memperlihatkan tingkat pengangguran akibat lock down cenderung menjadi 'resesi yang tak terhindarkan'. 

"Perubahan standar pembanding bulanan NPF melewati batas 20,5 juta, sementara tingkat pengangguran melonjak menjadi 14,7% (data terakhir), " katanya.

Tambah Rudi, NFP memetakan situasi ketenagakerjaan April 2020, sedangkan pasar mempertimbangkan data klaim pengangguran awal mingguan yang meluas dan menggambarkan 'keruntuhan monumental.

"Yakni suatu kondisi dimana sebelumnya menjadi andalan ekonomi, memperlihatkan penurunan yang signifikan dan dianggap sebagai variabel yang berpengaruh sebagai pertimbangan, gambaran kondisi pasar (modal, emas, dan mata uang). Data NFP tersebut melampaui prakiraan pasar, dan sangat berpengaruh terhadap Dolar AS. Selain itu instrumen yang terkait dengan saham-saham perusahaan di Amerika Serikat (ekuitas), maupun instrumen surat hutang berjangka di atas 5 tahun (obligasi), dan emas, "ujar Rudi.

Rudi menambahkan, disisi lain, kondisi keamanan dalam negeri Amerika Serikat (AS), dalam pantauan 'serius' oleh pelaku pasar.

2. IDX (Pasar Modal Indonesia / Bursa Efek Indonesia)

Pada perdagangan Rabu (03 Juni 2020), IHSG ditutup di level 4.941,01 dengan lonjakan 1,93% atau 93,50 poin dari kondisi sebelumnya. Reli kenaikan hari keenam beruntun sejak perdagangan Selasa (26 Mei 20), Indeks bahkan sempat menembus level 5.000 (batas psikologis). 

"Artinya situasi dalam negeri AS , menggambarkan kondisi yang tidak mampu mendukung "kegiatan ekonomi berjalan secara normal atau membaik". Perilaku investor yang agresif untuk membeli berbagai saham AS (agresifitas investor), melakukan mitigasi risiko dengan mempertimbangkan berbagai resiko yang terjadi di pasar modal global, seperti NYSE (AS), Hangseng (Hongkong), LSE (London), dan lain-lain, " jelas Rudi.

Termasuk Indonesia, dimana data gabungan banker di seluruh dunia (bank dunia / world bank) akan menentukan standar beroperasinya bank secara baik dan aman/prudent). Untuk memperkirakan laju pertumbuhan 0%, atau kemampuan bertahan pada tingkat survival (defensif), sedangkan banyak negara lain mengalami negative, " imbuhnya.

Apakah dapat dianggap sebagai peredaran uang yang sangat lukuid, dapat berpindah antar negara melalui penempatan bank dan pasar modal (hot money)?. 

"Belum tentu, karena investor asing sudah berani memborong saham properti berbentuk asset, misalnya rumah, mall, hotel, apartemen, contoh pada minggu ini (Pakuwon, Ciputra). Sedangkan investor lokal masih “wait and see”, bersifat menunggu, kemudian melihat investor lain akan melakukan sesuatu terlebih dahulu, kalau menguntungkan baru di ikuti, " tambah Rudi.

"Indikator tersebut yang mendorong penguatan IDX (Pasar Modal Indonesia / Bursa Efek Indonesia), sekaligus IDR (rupiah) terhadap $ US (dolar Amerika Serikat), " pungkasnya. (hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response