Pengakuan Trump Atas Yerusalem Berdampak Buruk bagi Perdamaian

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel bukan saja dikecam para pimpinan negara-negara Arab dan Timur Tengah, Perdana Menteri Inggris Theresa May, Kanselir Jerman Angela Markel, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Presiden Joko Widodo juga ikut mengecam keputusan Trump. Bahkan pimpinan tertinggi umat Katolik, Paus Fransiskus meminta Yerusalem dijaga status quonya seperti sebelumnya.

Mantan duta besar Amerika Serikat periode 2001-2005, Daniel Kurtzer mengatakan ada banyak dampak buruk atas pengakuan Trump tersebut. “Ada banyak dampak buruk, baik secara diplomatik maupun terkait keamanan serta upaya perdamaian di Timur Tengah (kebijakan Trump). Ini tidak untungnya,” kata Daniel Kurtzer,seperti dilansir Times of Israel pada, Jum’at (8/12/2017) lalu.

Di bagian lain Direktur New International Project di Institute Washington, Phyllis Bennis menyatakan, pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel mengakhiri peran Amerika Serikat sebagai broker maupun sponsor pembicaraan perdamaian. Benni menegaskan, pengakuan Trump memiliki efek dramatis sekaligus mematikan. Menurut dia, ada harga mahal yang harus dibayar oleh Palestina, yang telah terjual demi pendudukan Israel dan apartheid selama lebih dari 70 tahun.

Sementara itu Pengamat Dunia Islam dan pegiat bisnis urusan Timur Tengah serta Eropa, Imbang Jaya mengungkapkan bahwa langkah yang dilakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kali ini merupakan tindakan gegabah dan ceroboh. Secara diplomatik maupun terkait keamanan maupun perdamaian di Timur Tengah akan berdampak buruk.

“ Pada tataran politik, langkah yang dilakukan Trump akan menyulut sentimen politik dan agama dalam sekejap, karena  status Yerusalem baru akan ditentukan jika sudah tercapai kesepakatn perdamaian antara Palestina dan Israel yang dibarengi dengan pendirian negara Palestina. Apalagi Palestina sudah mengklaim bahwa kawasan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina yang akan dibentuknya. Dan pada akhirnya Trump menunjukkan  tabiat aslinya sebagai seorang pedagang yang rakus akan kekuasaan, bukan seorang pemimpin,” papar Imbang Jaya kepada Matamatanews.com di kediamannya, kemarin,Minggu (9/12/2017).

Meski Trump mengatakan keputusan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota akan membawa Palestina dan Israel semakin dekat dengan rekonsiliasi damai, namun hal itu dianggap lelucon semata. Pengakuan Trump atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel sama halnya mengakui kejahatan Yahudi Zionis dari masa ke masa, karena kekejaman Israel atas rakyat Palestina melebihi kaum Nazi. Ismail Haniyeh, Pemimpin Hamas sendiri dalam pernyataannya  pada Jum’at (8/12/2017) lalu menegaskan bahwa keputusan Trump merupakan deklarasi perang melawan orang-orang Palestina.

“ Kami menegaskan Yerusalem bersatu, bukan timur atau barat, dan akan tetap menjadi ibu kota Palestina, seluruh Palestina,” kata Ismail Haniyeh. Di kalangan Israel sendiri ada yang mengkritiknya,seperti harian ‘Haaretz’, tapi semua kritikan itu tidak bisa menghentikan langkah Trump,” tegas Imbang Jaya. Inilah pidato paling ceroboh dan gegabah sepanjang sejarah yang dilakukan seorang pemimpin Amerika Serikat di tengah derasnya desakan komunitas internasional yang menyerukan perdamaian atas Palestina dengan Israel. (sma)

 

 

sam

No comment

Leave a Response