Pemulia Unsoed Dampingi Petani Pemulia Desa Wonolelo Murnikan Varietas Lokal Sri Kawung

 

Matamatanews.com, WONOSOBO -Dosen Fakultas Pertanian Unsoed Dr.Dyah Susanti,SP.,MP. memaparkan bahwa kebutuhan masyarakat akan ilmu pengetahuan dan teknologi tak hanya pada aspek hilirisasi yang menjadi muara hasil-hasil penelitian untuk digunakan, akan tetapi di hulu, yang menjadi awal hadirnya suatu teknologi baru.

Dr.Dyah, maraknya informasi petani dari berbagai sumber tentang bagaimana menghasilkan varietas baru menjadikan petani di berbagai daerah mencoba berkreasi dengan menyilangkan tanaman padi yang sudah ada.

Dr.Dyah yang juga Kepala Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi

Fakultas Pertanian Unsoed ini menjelaskan bahwa sangat disayangkan apabila informasi yang didapat petani tersebut sepotong-sepotong, sehingga belum memberikan gambaran utuh dan pemahaman yang komprehensif terkait metode yang semestinya dilakukan, termasuk bagaimana melakukan seleksi dan pengujian setelah persilangan berhasil dilakukan.

Pak Tukijap, petani pemulia di Dusun Sribit Desa Wonolelo Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo bersama pengurus dan anggota Kelompok Tani Sidodadi mengembangkan padi Sri Kawung dari hasil persilangan varietas Mentik Wangi yang nasinya enak dan beraroma wangi dengan padi lokal Ketan Emas yang berkarakter sangat pulen tetapi daya hasilnya rendah. 

"Beras Sri Kawung selama tiga tahun ini mulai dikenal dan mendapat permintaan tinggi dari masyarakat Kabupaten Wonosobo, saat ini mengalami perubahan karakter, berasnya menjadi tidak lagi beraroma wangi, karakter agronomiknya menjadi tidak seragam, terutama umur panen dan bentuk gabahnya. Kondisi ini disebabkan belum sesuainya metode seleksi yang dilakukan dalam perakitan varietas Sri Kawung dengan kaidah ilmiah yang semestinya," ujar Dr.Dyah dipandu Ir.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapret-unsoed.com. Jumat(36/4/24).

Menyikapi permasalahan yang dihadapi kelompok tani Sidodadi serta Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) terkait perubahan sifat padi Sri Kawung, Dinas  Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo melalui Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) "Sri Handayani" Kecamatan Wonosobo, Erna Yuliyanti,SP., beserta Tim Pengabdian kepada masyarakat Fakultas Pertanian Unsoed melaksanakan pendampingan bagi petani pemulia melalui fasilitasi program Penerapan Ipteks LPPM Unsoed. 

Tim Pengabdian kepada masyarakat Fakultas Pertanian Unsoed sendiri diketuai oleh Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,MP.,PhD., beranggotakan Dr.Ir.Ponendi Hidayat,MP., dan Dr.Dyah Susanti,SP.,MP.

"Kegiatan diawali diseminasi ipteks dan karakterisasi yang dilaksanakan selain lahan di BPP Sri Handayani juga pada lahan produksi padi Sri Kawung yang dikelola KTNA Kecamatan Wonosobo," kata Dr.Dyah.

Khusus diseminasi ipteks pada hari Sabtu, 20 April 2024, Prof.Totok menyampaikan gambaran metode pemuliaan tanaman padi serta hal-hal yang perlu dilakukan dalam menghasilkan varietas unggul baru padi. Adapun karakterisasi dilakukan bersama di lapang untuk memastikan karakter ideal yang diharapkan oleh petani.

Dr.Dyah menjelaskan bahwa karakter unik dari padi Sri Kawung yang diperoleh di lapang, dalam satu malai ada beberapa gabah yang berbulu di bagian ujung malai, meski gabah di bagian pangkal dan tengah malai tidak berbulu. Akan tetapi malai yang lain ada yang semuanya tidak berbulu. 

Hasil karakterisasi ini nantinya menjadi dasar seleksi lebih lanjut untuk pembentukan galur murni. Sebelum dilaksanakan seleksi untuk pembentukan galur murni, petani, dan penyuluh akan mendapatkan bimbingan teknis (bimtek) untuk mendapatkan wawasan dan teori dasar metode pemuliaan padi dan seleksi galur murni, yang kemudian dipraktekkan bersama pemulia Unsoed.

"Program Penerapan Ipteks ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani pemulia dalam pembentukan galur murni Sri Kawung sebagai beras unggulan Dusun Sribit Desa Wonolelo, Kabupaten Wonosobo," kata Dr.Dyah.

Dikatakan, pemulia dari Fakultas Pertanian Unsoed mempunyai rekam jejak dalam menghasilkan varietas unggul tanaman pangan. Diantaranya adalah 2 varietas unggul kedelai (Slamet dan Sindoro) dan 5 varietas unggul padi (Inpago Unsoed 1, Inpari Unsoed 79 Agritan, Inpago Unsoed Parimas, Inpago Unsoed Protani dan Inpari Unsoed P20Tangguh).

"Varietas itu menjadi salah satu kekuatan dalam mengupayakan diseminasi dan pendampingan ipteks tentang perakitan varietas baru bagi masyarakat yang memiliki minat dalam bidang pemuliaan tanaman, termasuk bagi para petani pemulia," jelasnya.

Dr.Dyah menambahkan bahwa pendampingan petani pemulia menjadi sumbangsih akademisi Unsoed untuk mendukung berkembangnya kreativitas petani pemulia dalam menghasilkan varietas-varietas unggul yang dapat dimanfaatkan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response