Pemerintah Obama Dianggap Bersekongkol Hancurkan Bukti 9/11

Matamatanews.com,JAKARTA--Bukan lagi sebuah teori konspirasi bahwa pemerintah AS secara aktif bergerak untuk menghilangkan bukti, membungkam diskusi dan menutupi kebenaran mengenai peristiwa tragis yang berlangsung pada tanggal 11 September 2011 – mereka melakukannya di tempat yang terbuka.

Awal pekan ini, Free Thought Project melaporakan mengenai seorang jaksa pemerintah AS, Ed Ryan, yang mengumumkan bahwa pengadilan militer diminta untuk tidak merilis rekaman kotak hitam dalam pesawat yang dibajak dalam serangan teroris 11 September 2001 kepada publik, karena berisikan bukti-bukti yang dibutuhkan untuk ujicoba mendatang. Joanne Stocker yang melaporkan dari Guantanamo Bay menjelaskan:

“[Rekaman suara dari kotak hitam] menunjukkan peristiwa penting,” Ryan mengatakan kepada Hakim James Pohl. “Rekaman tersebut membuktikan peristiwa awal dari pembajakan. Membuktikan niat. Membuktikan pembunuhan-pembunuhan para kru di kokpit – suara-suara yang dapat didengar – dan, pada akhirnya, menunjukkan upaya untuk merebut kembali pesawat tersebut.”

Rekaman tersebut dari United Airlines Penerbagangan 93, yang jatuh di sebuah lapangan di Pennsylvania sebelum mencapai sasaran yang dimaksudkan. Rekaman Penerbangan 93 ini unik karena merupakan satu-satunya yang selamat dalam serangan 11 September.

Merahasiakan rekaman rahasia tersebut adalah sebuah pukulan bagi keluarga-keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai pada hari itu, terutama dari Penerbangan 93. Orang-orang yang diduga diadili berada di Gitmo, dan warga negara AS yang mendengarkan audio tersebut tidak memiliki dampak apapun pada hasil persidangan tersebut.

Seakan mengakui menjaga kerahasiaan bukti dalam tindakan teror terbesar yang dilakukan dalam negeri tidak cukup menganehkan, sebuah dokumen pengadilan disegel pekan ini, menunjukkan bahwa pemerintahan Obama bersekongkol untuk menghancurkan bukti-bukti yang berkaitan dengan persidangan Khalid Sheikh Mohammed, tertuduh dalang dari serangan teror tersebut.

Menurut sebuah laporan dari Guardian,

Hakim yang mengawasi pengadilan militer premier di Guantanamo Bay secara efektif bersekongkol dengan para jaksa untuk menghancurkan bukti terkait untuk membela dalang tertuduh seragan 9/11, menurut sebuah dokumen dari pengadilan.

Kolonel James Pohl dari pihak Militer, yang pekan ini berada di Guantanamo memimpin kembalinya sidang praperadilan dalam kasus yang sudah bermasalah ini, “dalam pertunjukan penuntutan, persidangan-persidangan rahasia yang dimanipulasi dan menggunakan perintah rahasia”, dokumen tersebut menuduh, mencegah tim pembela Khalid Sheikh Mohammed mengetahui bahwa Pohl telah mengijinkan pemerintahan Obama untuk menghancurkan bukti-bukti.

“Awalnya mereka mengatakan bahwa mereka tidak akan menunjukkan bukti tersebut kepada kita, tetapi mereka akan menunjukkannya kepada pengacara kami. Sekarang, mereka bahkan tidak menunjukkan pengacaranya. Mengapa mereka tidak membunuh kami saja?” Mohammed, yang menghadapi eksekusi dikutip dalam pengajuan tersebut.

Menurut pengajuan tersebut, tidak diketahui persisi bukti apa yang dihancurkan karena sifat dari informasi tersebut diklasifikasikan. Namun, jika kasus penuntutan tersebut cukup solid, keharusan untuk menghancurkan bukti tersebut tidaklah dibutuhkan.

Gagasan mereka untuk menahan atau menghancurkan bukti hanya menunjukkan keraguan dari versi resmi insiden pada hari itu. Jika kasus tersebut memang benar-benar nyata seperti yang diberitahukan kepada pihak publik, maka mengapa semua faktanya tidak diungkapkan?

Sayangnya, ini adalah pencegahan lain untuk mengetahui apa yang benar-benar terjadi pada hari itu. Namun satu hal yang kita tahu adalah bahwa pemerintah AS tampaknya akan melakukan segala cara agar rakyatnya tidak mengetahui kebenaran dari peristiwa ini.

Menghancurkan bukti diam-diam sementara memungkinkan tim pembela percaya bahwa bukti disimpan telah “memusnahkan” kredibilitas komisi militer dan “merugikan” kemampuan Mohammed untuk membela diri dalam kasus hukuman mati, para pengacara megatakan.

“Ini mungkin menjadi hal kecil yang berdampak sangat besar dalam menggarisbawahi ketidaklayakan komisi militer,” Karen Greenberg, direktur Pusat Fordham University Law School Keamanan Nasional, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Guardian.

“Ingat, alasan utama mereka tidak dapat mengadakan sidang ini di pengadilan federal adalah bahwa sidang ini menjadi seperti sirkus. Dan sekarang persidangan ini menjadi sebuah sirkus sepenuhnya.”(Justinn Gardener /ZE Journal/Samar)

 

sam

No comment

Leave a Response