Pembunuh dan Pemerkosa Bocah 4 tahun di Tembak AK-47 lalu Digantung

 

Matamatanews.com, SANAA—Untuk menciptakan efek jera terhadap pemerkosa ,baik dibawah umur maupun kalangan dewasa, pemerintah Yaman, Senin (14/8/2017) lalu menghukum seorang pria pelaku pemerkosa bocah perempuan empat tahun dengan cara sadis di depan publik. Pria itu di eksekusi dengan lima tembakan menggunakan senapan AK-47, lalu jasadnya digantung menggunakan derek atau crane.

Pria yang dieksekusi itu bernama Hussein al-Sakit merupakan pria kedua dalam kasus pemerkosaan yang dihukum tembak lalu digantung di depan publik. Pria itu dinyatakan bersalah karena menculik, memperkosa dan membunuh seorang bocah empat, yang kemudian dia kuburkan.

Pria berusia 22 tahun itu, cerita paman korban ikut mencari gadis cilik yang dibunuh sebelum akhirnya penyelidikan polisi mengungkap dialah pelakunya. Hukuman atau eksekusi di depan publik bertujuan sebagai pencegah kejahatan, katapaman korban.

Eksekusi yang berlangsung hari Minggu di Tahrir Square, Sanaa itu banyak dirilis media lokal pada Senin (14/8/2017) lalu, bahkan Reuters pun mempublikasina foto Hussein al-Sakit saat diseret ke Tahrir Square menjelang dieksekusi.

Sejumlah media setempat menyebut, petugas polisi memaksa Hussein untuk telungkup sebelum ditembak mati dengan senapan AK-47. Mayat yang bersimbah darah itu lalu digantung menggunakan derek agar bisa disaksikan warga kota.

Eksekusi ini berselang dua minggu setelah pria lain, Muhammad al-Maghrabi, dieksekusi di lokasi yang sama karena memperkosa dan membunuh gadis tiga tahun. Muhammad al-Maghrabi juga ditembak mati dengan senapan serbu AK-47.

Kedua eksekusi tersebut telah dilakukan sebagai usaha kelompok Houthi yang berkuasa di Sanaa untuk memerangi kejahatan di wilayah tersebut. Sistem hukum Yaman sebenarnya mengadopsi kombinasi hukum syariah Islam, hukum Mesir dan UU Arab lainnya. Hukum sipil Prancis juga pernah berlaku di negara itu selama era kolonial.

Di Yaman, pembunuhan, pemerkosaan dan terorisme termasuk di antara pelanggaran yang dapat menyebabkan hukuman mati. Negara tersebut pada saat ini berada dalam perang saudara antara pasukan pemberontak Houthi dengan pasukan loyalis Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi.

Perang semakin meluas, setelah Presiden Hadi meminta Arab Saudi dan koalisi Arab-nya untuk intervensi militer di negaranya guna memerangi pasukan Houthi. (bar/snd/berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response