Pelatihan Budidaya Ikan Dalam Ember (BUDIKDAMBER) Di Pelataran Masjid Agung Baitussalam

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Seperti kita ketahui bahwa masyarakat dunia saat ini tengah mengalami pandemi penyakit virus corona 2019 atau lebih dikenal dengan nama Covid-19. Begitupun masyarakat di Banyumas dan sekitarnya juga mengalami imbasnya. "Dapat dikatakan saat ini semua orang  sedang prihatin, terutama rakyat miskin  terdampak ekonominya akibat pandemi Covid-19 tersebut, "ungkap Humas Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, Ir.H.Alief Einstein;M.Hum.

Sementara Ketua Diklat Pelatihan Ikan di Masjid Agung Baitussalam Prof.Ir.H.Totok Agung,DH.MP.PhD. mengatakan karena produktivitas yang menurun, diprediksi krisis pangan akan terjadi bulan Desember 2020. Menurutnya kelaparan akan menyebar ke mana-mana, jika tidak diantisipasi maka dampak sosial seperti kriminalitas dan kerusuhan akan merebak luas. 

"Upaya yang perlu dilakukan adalah menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat miskin secara langsung dengan bantuan sembako dan sekaligus  memproduksi pangan di semua lahan yang ada, baik tanaman maupun ternak dan ikan. Penyaluran sembako adalah satu model bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini sangat bagus,  terbukti bermanfaat dan sudah banyak dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak yang menunjukkan adanya kepedulian sesama. Hampir semua masjid  melakukan kegiatan ini, pembagian sembako dan masker,  termasuk Masjid Agung ini, " jelasnya.

Prof.Totok menambahkan, kita tidak tahu sampai kapan kondisi pandemi Covid-19 ini akan berlangsung.  Maka timbullah pertanyaan mendasar, sampai kapan pemerintah dan masyarakat bisa menyalurkan bantuan sembako ini? Kalau bisa terus menerus tentulah kita bersyukur dan alhamdulillah. Model penyaluran sembako ini jelas perlu amunisi banyak. Peserta tinggal menerima sembako di rumahnya. 

"Model penyaluran sembako ini tidak substain dalam jangka panjang. Uang sumbangan umat dan dana dari Allah memang tidak terbatas. Tapi, kemampuan pemerintah dan masyarakat untuk menggalangnya tentu terbatas, "kata Prof.Totok Agung,PhD.

Menyikapi hal itu Takmir Masjid Agung Baitussalam menurut Prof.Totok perlu membantu masyarakat terdampak ekonomi dengan pemberdayaan. Jika bantuan Masjid Agung disalurkan dalam bentuk alat produksi menurutnya, maka Masjid Agung sudah menciptakan lapangan kerja sesuai situasi dan kondisi masyarakatnya, selain bersedekah juga beramal jariyah. 

"Bentuknya sangat bervariasi, tergantung ketersediaan sumber daya yang dimiliki.  Diantaranya melalui Pelatihan BUDIKDAMBER atau budidaya ikan dalam ember, " tambah Prof.Totok. 

Menurutnya model pelatihan ini melengkapi dari model memberi ikan menjadi model memberi kail. Ada usaha dari menerima ikan langsung dikonsumsi menjadi berlatih merawat ikan dan memanen ikan. 

"Kita ingin melibatkan 60 sampai 100 peserta yang betul-betul tidak punya pekerjaan, dan  siap mempraktekkannya. Minimal berkeinginan belajar tehniknya. 

Kita juga melibatkan  pakar perikanan, agar mereka juga bisa ikut ber amal jariyah.  Metodenya adalah learning by doing, makanya panitia juga bisa menjadi peserta. Setelah selesai pelatihan, peserta dapat mempraktekkan budidaya ikan dalam ember ini," jelasnya.

 

Peserta menurut Prof.Totok adalah masyarakat yang terdampak ekonomi akibat pandemi Covid-19, masyarakat yang tidak punya pekerjaan, kehilangan pekerjaan, kehilangan kesempatan bekerja atau yang membutuhkan pelatihan dan berniat untuk mempraktekkan hasil pelatihan.Satu paket pelatihan peserta dibatasi 15 orang. Mereka diseleksi berdasarkan prioritas kebutuhan.

Materi yang disampaikan adalah teknik budidaya ikan dalam ember dipadukan dengan sayuran, aspek budidaya dan aspek ekonominya. Pemateri adalah Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsoed, yakni Agung Cahyo Setyawan, S.Pi., M.Si, Taufik Budhi Pramono S.Pi., M.Si, Joni Johanda Putra, S.Kel., M.P, dan Ren Fitriadi,  S.S.T.PI., M.P.

"Sistem pelatihannya adalah ceramah dan diskusi langsung antara pemateri dan peserta di halaman Masjid Agung, dengan menerapkan protokol standar kesehatan. Peserta wajib mengenakan masker dan sarung tangan plastik. Tempat duduknyapun berjarak 2 m kiri dan kanan. Peserta akan mempraktekan hasil pelatihan di rumah masing-masing,

satu minggu berikutnya panitia memonitor ke rumah peserta untuk melihat keberhasilan dan kendala yang dihadapi dalam mempraktekkan hasil pelatihan, "jelas Prof.Totok Agung,PhD.

Salah seorang Tim Pelatih dari FPIK Unsoed Agung Cahyo Setyawan menjelaskan, setiap peserta pelatihan mendapatkan satu paket bantuan berupa ember ukuran 70 liter, 10 buah gelas plastik, 1,5 m kawat, 1 kantong arang kayu, 40 ekor benih lele, 1 kantong bibit kangkung, dan 1 kg pakan ikan. 

"Follow up kegiatan pelatihan berupa pendampingan secara online melalui grup WA Budikdamber BMS. Grup ini dikawal oleh staf pengajar dari FPIK Unsoed dan terbuka untuk umum, "kata Agung Cahyo Setyawan.

Sementara Prof.Totok menambahkan pelatihan tahap 1 sudah dilaksanakan pada hari Jum'at 15 Mei 2020 dengan jumlah peserta 15 orang, 9 laki-laki dan 6 perempuan, mereka berasal dari berbagai kecamatan di Banyumas.  Petatihan tahap 2 dilaksanakan pada hari ini Senin 18 Mei 2020 dengan jumlah peserta 15 orang terdiri dari 9 perempuan dan 6 laki-laki.

Prof.Totok Agung, PhD. yang juga Dosen Fakultas Pertanian Unsoed menambahkan bahwa untuk pelatihan tahap 3 dan 4 akan dilaksanakan bulan Juni 2020. Jumlah peserta menurutnya ditargetkan 60 orang. 

"Sampai saat pelaksanaan pelatihan tahap satu, sudah ada lebih dari 200 pendaftar, " pungkasnya. ( hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response