PBB Kembali Desak Myanmar Akhiri Konflik Rohingya

 

Matamatanews.com, MANILA – Ratusan ribu warga muslim Rohingya telah keluar dari Myanmar demi menyelamatkan diri mereka dari keganasan militer negara tersebut. Setelah berbulan-bulan lamanya, kini PBB kembali mendesak pemerintah Myanmar untuk segera mengakhiri konflik di Rakhine. Sekjen PBB, Antonio Guterres meminta pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi untuk mempersilahkan minoritas muslim Rohingya menginjakkan kaki kembali di kampung halaman mereka.

Selasa (14/11/2017) Guterres menyampaikan hal tersebut pada Suu Kyi saat bertemu di Manila. Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson juga dijadwalkan akan bertemu Suu Kyi di Manila sebelum bertolak ke Myanmar.

Seperti dilansir Channel News Asia, pihak PBB memberi pernyataan bahwa, “Sekretaris Jenderal menekankan penguatan akses kemanusiaan, keamanan, harga diri, martabat serta rekonsiliasi antar masyarakat.”

Dihadapan pemimpin negara anggota ASEAN, Guterres mengungkapkan kekhawatiran terhadap Rakhine. Dirinya mengatakan bahwa keluarnya ratusan ribu etnis Rohingya merupakan eskalasi yang sangat mengkhawatirkan dalam sebuah tragedi yang berkepanjangan.

Guterres pun mengatakan, konflik tersebut sangat berpotensi menjadi awal ketidakstabilan dan radikalisasi di kawasan. Dalam mengemukakan keinginan PBB tersebut, Guterres menyampaikannya secara hati-hati agar tidak menyalahkan dan menyudutkan Suu Kyi secara langsung. Dia menekankan pada perilaku militer Myanmar dalam konflik tersebut.

Sejak operasi militer pada 25 Agustus lalu, PBB sudah mengungkapkan kasus kekerasan hingga pemerkosaan yang dilakukan militer Myanmar pada pengungsi etnis muslim Rohingya di Rakhine. Hal itu terungkap saat PBB mendapatkan fakta usai mengunjungi kamp pengungsian Rohingya di Cox Bazar, Bangladesh. PBB mendapati wanita muslim Rohingya secara sistematis menjadi target kekerasan oleh militer Myanmar. Kekerasan seksual yang dilakukan pada wanita muslim Rohingya sudah diatur, dan dilakukan oleh angkatan bersenjata Myanmar. Tidak hanya itu, korban pun dipaksa untuk telanjang, dihina bahkan diperbudak secara seksual di pengkalan militer Myanmar. [did/republika/berbagai sumber]

sam

No comment

Leave a Response