Pasca Insiden Berdarah, Israel Dalam Tekanan Internasional

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Sejumlah kalangan dari komunitas internasional menekan Pemerintah Israel untuk melakukan pencegahan agar eskalasi kekerasan di kompleks Masjid al-Aqsa, Yerussalem tidak berlanjut. Pembatasan beribadah  bagi umat islam yang diterapkan  negara Zionis sejak minggu lalu itu dikhawatirkan akan memicu kekerasan yang lebih luas dan melebar ke wilayah lainnya.

Pembatasan  Israel di kompleks masjid al-Aqsa di Jerusalem yang memicu terjadinya pembunuhan tiga warga Palestina tewas itu, membuat Sekretaris Jenderal Perseritan Bangsa-bangsa (PBB) Antonio Guterres geram. Guterres mengutuk pembunuhan tersebut dan meminta dilakukan penyelidikan serius atas insiden tersebut.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan telah menjalin komunikasi via telepon dengen Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tellerson untuk meminta menekan  Israel agar menghentikan kekerasan.Self resstrain atau menahan diri harus dilakukan,kata retno seperti dikutip Republika pada Ahad (23/7/2017) kemarin.

Kepada Tillerson,Retno menegaskan bahwa isu terkait Masjid al-Aqsa sebagai situs dan tempat ibadah yang sangat dihormati adalah persoalan sensitif bagi umat Islam. Menurut Retno,Amerika Serikat telah berbicara dengan Yordania, Palestina dan Israel serta menekankan pentingnya dilakukan  deeskalasi dan tindakan menahan diri sesegera mungkin.

Hal senada juga dilontarkan  Antonio Guterres, Dia mendesak para pemimpin Israel dan Palestina untuk menahan diri dari tindakan yang dapat terus meningkatkan situasi yang mudah berubah di Kota Tua Jerusalem. Ia mengatakan bahwa situs keagamaan harus menjadi ruang untuk refleksi, bukan kekerasan.

Sejauh ini ,pihak Amerika Serikat telah mendesak Israel menghentikan penggunaan detektor logam pada pos-pos menuju Masjid al-Aqsa. Mereka menyarankan polisi Israel menggunakan tongkat pemindai logam,bukan senjata berpeluru tajam.Terkait permintaan itu, pihak Israel belum menggubris permintaan itu. “Kalau warga palestina tak mau memasuki masjid, biarlah mereka tak usah masuk,” kata Menteri Pembangunan Regional Israel Tzachi Hanegbi.

Seperti diketahui Pasukan keamanan Israel dengan represif menyerang demonstran, menembaki warga Palestina dengan peluru, gas air mata dan peluru karet. Warga Palestina melakukan demonstrasi menentang tindakan pembatasan, yang mencakup pembatasan laki-laki Muslim di bawah usia 50 tahun dari tempat suci dan instalasi detektor logam.

Israel memperketat cengkeramannya di kompleks tersebut pada 14 Juli setelah dua petugas keamanan Israel tewas dalam serangan yang diduga dilakukan tiga warga Palestina, yang dibunuh oleh polisi Israel setelah terjadi kekerasan. Sementara itu Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini juga mendesak Israel untuk mencari solusi guna memastikan keamanan setiap orang. Kepolisian Israel pun dikabarkan telah meminta Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu mengevaluasi penggunaan detektor logam di Masjid al-Aqsa.

Permintaan itu diajukan karena mereka khawatir akan adanya kerusuhan susulan yang lebih besar di Yerusalem dan tepi barat yang diduduki Israel. Sedangkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ,dilaporkan akan menggelar pertemuan tertutup guna membahas  konflik Israel-Palestina yang terus meningkat eskalasinya,pada Senin (24/7/2017). (samar/snd/republika/berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response