Olahraga Jalan Nordic Diperkenalkan Di Hari Bebas Kendaraan Bermotor Soedirman – Thamrin

 

Matamatanews.com, JAKARTA - Alief Einstein pria kelahiran Kebayoran Baru Jakarta Selatan 60 tahun yang lalu sudah terbiasa olah raga jalan kaki semenjak duduk di bangku SMP. Saat dirinya sekolah di SMA Negeri di kawasan Jalan Bulungan Jakarta Selatan pecinta Tae Kwon Do ini masih semangat berjalan kaki menyusuri kawasan Menteng, Jalan Teuku Umar, kemudian dilanjutkan gerakan senam ringan di Taman Surapati dan berakhir di rumah orang tuanya yang asri. Tak lupa sesekali melakukan gerakan "pukulan dan tendangan dasar " beladiri Tae Kwon Do nya.Ketertarikan Einstein jalan kaki berawal dari seringnya membaca rubrik konsultasi di salah satu harian yang terbit di Jakarta. Einstein yang saat ini bekerja di luar kota Jakarta, pada saat hari liburpun ia sempatkan jalan kaki menyusuri ibukota.

Di Jakarta sendiri tiap hari Minggu diadakan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di sepanjang Jalan Sudirman - MH Thamrin, bertujuan untuk memulihkan kualitas udara di Jakarta. Di samping memberikan edukasi kepada masyarakat akan arti pentingnya udara bersih juga sebagai ajakan untuk menghindari penggunaan kendaraan bermotor atau disarankan naik kendaraan umum bila perjalanan jauh. Kegiatan HBKB ini juga dapat dimanfaatkan oleh lapisan masyarakat disamping berolahraga juga sebagai ajang pertunjukkan seni budaya.

Penyelenggara HBKB adalah Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan aparat kepolisian. Acara biasanya dimulai pukul 06.00 - 10.00 dengan terlebih dahulu menyiapkan lahan bagi warga untuk melakukan segala aktivitas di ruang publik oleh petugas. Sepanjang Jalan MH Thamrin hingga Jalan Sudirman kendaraan dilarang melintas di jalur itu, terkecuali kendaraan ramah lingkungan dan angkutan publik. Harapannya warga Jakarta agar semakin sadar dan menjadikan kebiasaan HBKB sebagai gaya hidup sehat dan daya tarik pariwisata.Salah seorang alumni Universitas Indonesia Dian Kurniasarie mengatakan bahwa tiap hari minggu di kawasan HBKB warga Jakarta dengan leluasa berolahraga di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin entah berjalan kaki, berlari, ataupun bersepeda. 

"Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyediakan jalur khusus bagi pejalan kaki, pelari dan pengendara sepeda, " kata Dian.

Hasil pantauan Dian saat kegiatan HBKB pada hari Minggu (24/11/19), terlihat beberapa petugas dari Dinas Perhubungan dan Satpol PP berjaga sepanjang kawasan tersebut. Mereka memberikan arahan bagi warga Jakarta untuk menggunakan jalur jalan kaki dan lari serta jalur bersepeda dengan semestinya.Bahkan salah seorang guru di Jakarta Selatan Mumtaz Sardewi, ST. memanfaatkan layanan pajak keliling yang memang disediakan oleh pemerintah guna melayani masyarakat membayar pajak kendaraan bermotor sambil menikmati HBKB. Mumtaz yang datang didampingi putrinya Amira mendapatkan kemudahan adanya "galeri samsat" di sekitar Bundaran Hotel Indonesia tersebut.

Sementara HBKB juga menjadi salah satu momen menyenangkan bagi keluarga Labib Y Wardiman (62 th) dan Aisyah (57 th) untuk berolahraga di tengah kesibukan sehar-harinya. Labib dan Melok (panggilan sehari-hari Aisyah) memilih kenyamanan HBKB sepanjang jalan MH. Thamrin - Sudirman untuk berolahraga "jalan nordic" yang merupakan jenis olahraga terbaru di tanah air. 

Seperti diketahui olahraga jalan nordic berasal dari negara-negara Scandinavia seperti Findland, Swedia, Norwegia, dan Denmark. Beberapa tahun terakhir, olahraga ini mulai merambah ke Indonesia dan berkembang di Jakarta maupun Yogyakarta. Komunitas Jalan Nordic Indonesia (KJNI) telah terbentuk dan terus mensosialisasikan olahraga baru ini. Contohnya pada hari Sabtu (23/11), KJNI sukses menggelar jalan nordic di Borobudur Magelang dan Malioboro Yogyakarta.Berbeda dengan jalan kaki biasa, jalan nordic dibekali sepasang tongkat ski selama berolahraga. Keunggulan dari olahraga ini adalah dapat membakar lebih banyak kalori karena otot punggung dan tangan ikut bergerak saat berjalan.

Labib yang Alumni S1 akuntansi FEB UGM dan Melok alumni S1 IPB ini telah menikmati olahraga jalan nordic selama 3 bulan. Bahkan mereka dengan penuh semangat bergabung dengan warga Jakarta lainnya berolahraga jalan nordic di sepanjang Sudirman-Thamrin. Mengambil start di Patung Pemuda hingga ke Bundaran Hotel Indonesia dan kembali "finish" di Patung Pemuda Senayan. Jarak yang ditempuh kurang lebih 10 kilometer memakan waktu sekitar 2 jam dijalani dengan santai. Manfaat olahraga jalan nordic yang dirasakan oleh alumni S2 MM UI ini antara lain berat badan turun hingga 5 kg.

"Bentuk badan menjadi lebih tegap, tangan lebih berotot, dan saat berjalan beban di lutut menjadi berkurang, " kata Labib. Sementara Melok menambahkan olahraga jalan nordic sangat cocok untuk usia lanjut karena mengurangi kekhawatiran dengan masalah beban di lutut.*(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response