Negeri Gaduh Para Koruptor dan Hilangnya Akal Sehat

 

Matamatanews.com, JAKARTA—KINI,hampir  tidak ada perkara yang tidak mengundang keributan.Kekerasan, kebrutalan dan kerusuhan itu tanda paling nyata masyarakat telah kehilangan kesabaran dan akal sehatnya.Kini bangsa dan  masyarakat kita,bagaikan belum pernah beranjak dari masa silamnya , dari bakat amarah dan amuknya yang sewaktu-waktu bisa meledak.Masyarakat kita seperti mengidap temporary insinity yang menakutkan.

Kini yang banyak dipamerkan adalah emosi dan senjata. Yang diagungkan ialah kehendak dan ego menang sendiri bahkan terkadang dengan cara membunuh.Kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Abepura,Jayapura , Yalimo, dan kini di Pegunungan Bintang Papua, merupakan otret masyarakat dan bangsa ini. Kini bangsa ini menjadi bangsa pemberang dan anarkis. Setiap kejadian, sekecil apa pun, selalu menyimpan misterinya sendiri yang belum tentu akan biwa kita ungkapkan.

Apa yang terjadi di Papua, di Sulawesi Selatan,  Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Kalimantyan Timur, Kalimantan tengah , dan Sumatera Selatan tidak benar-benar kita ketahui apa dan bagaimana persisnya.Kerusuhan Wamena, Abepura, Yalimo, dan Pegunungan Bintang Papua adalah potret minimnya peran masing-masing dalam mengatur tensi emosi. Padahal, bukan kali pertama peristiwa bentrokan mencuat ke permukaan. Banyak pengalaman konflik antar etnik, tetapi kita seolah tidak tidak belajar dari pengalaman itu.

Banyak yang menyalahkan ke hiruk-pikukan ini. Demokrasi dan kebebasan yang kebablasan dianggap sebagai biang kerok yang mengakibatkan semua orang bisa berbicara dan memperdebatkan apa saja sesuka hatinya. Tetapi,terkadang kita lupa bahwa riuh rendah perdebatan di alam demokrasi harus berpedoman pada nilai dan prinsip kedaulatan hukum.Artinya,peraturan hukum, selama itu ada,harus menjadi acuan dan harus dibela dan ditegakkan.

Kejahatan yang bersumber dari kebodohan, biasanya sangat menjengkelkan hati dan menghimpit perasaan. Akan tetapi yang membuat darah mendidih dan membangunkan daya juang tertinggi adalah kejahatan yang diselenggarakan oleh kepandaian atai kecerdikan. Kini kita dikepung oleh terlalu banyak kejahatan, baik dalam sentuhan sehari-hari di lingkaran kecil pergaulan kita, maupun dalam skala besar kenegaraan.

Kita sudah tidak terkejut oleh banyaknya kriminalitas, keanehan kejadian dalam masyarakat, hancurnya logika dalam politik dan birokrasi atau mentradisinya korupsi atau kolektif dan ‘jama’ah’ kolusi. Itu semua membengkak dan semakin menumpuk dari hari ke hari, sehingga kita tenggelam di dalamnya. Wajah masa depan negeri ini untuk sebagian sungguh ditentukan oleh kemampuan negara mengatasi persoalan besar yang kita hadapi hari ini. Kegagalan mengatasi persoalan hari ini akan membawa persoalan yang jauh lebih besar lagi di masa mendatang.

“Kita memiliki wewenang penuh dalam mempertahankan kedaulatan wilayah negara, apalagi untuk memisahkan diri, itu sudah keterlaluan dan harus ditangani serius. Begitu pun dengan kerusuhan yang  terus terjadi di Papua harus diselesaikan dengan  tegas,lugas dan bermartabat.Siapa pun yang terlibat dalam  aksi kerusuhan, hukum harus tetap ditegakkan meski kadang menyakitkan,” papar pengamat politik dunia Islam dan pegiat ekonomi untuk Timur Tengah dan Eropa, Imbang Djaja kepada Matamatanews.com.

Kasus kerusuhan di Papua yang awalnya berupa aksi protes damai yang kemudian berubah menjadi konflik ketidaksukaan warga lokal terhadap pendatang adalah potret buram dari minimnya para pemegang kekuasaan dalam membaca situasi dan aspirasi warga. Dan celakanya, kata Imbang dalam setiap kerusuhan maupun konflik, pihak keamanan  yang semestinya melayani dan melindungi rakyat selalu gagal dalam membaca tanda-tanda ketidakberesan hingga  aksi yang dibungkus kata damai berubah menjadi rusuh.

Kini emosi publik semakin tercabik dan diaduk oleh sikap pemerintah dan para politisi di DPR. Kini publik seolah dipaksakan dengan berbagai kegaduhan yang menggelikan, ke kanak-kanakkan dan berlebihan seakan para petinggi hukum telah keok oleh akal bulus para garong uang negara.(cam)

 

 

redaksi

No comment

Leave a Response