Nasib Muslim Rohinga Semakin Terluka

 

Matamatanews.Com,MYANMAR—Akhirnya tragedi kemanusiaan muslim Rohinga yang selama ini ditutupi terkuak sudah. Dunia tampaknya sudah tidak  bisa lagi menutupi berbagai pederitaan dan tumpahan air mata terhadap tragedi kemanusian di Rohingya. Bertahun-tahun kelompok minoritas muslim di Myanmar itu hidup diantara mayoritas penganut Buddha, menjadi kaum yang  terisolir,terusir dari tanah kelahiran, tak diakui, dan dalam tekanan. Kini muslim Rohingya  menjadi korban genosida perlahan-lahan oleh rezim suatu negara tempat mereka bermukim lebih dari tiga generasi.

Nasib muslim Rohingya kini bukan saja terlunta dan terseok,tapi juga semakin tak berujung. Perlakuan negara terutama tentara dan kaum Buddha radikal di Myanmar  terhadap orang Rohingya dan muslim cukup memiriskan mata dunia.  Kini orang Rohingya dan muslimnya dibungkam dan perlakuan semena-mena, bukan itu saja, bicara dengan orang asing pun bisa membuat mereka masuk bui tidak jarang  berakhir dengan kematian. Untuk mencari perlindungan dari kekerasan oknum,baik tentara maupun biksu radikal di negara bagian Rakhine,Myanmar, kini para muslim Rohingya memilih menyeberang ke perbatasan Bangladesh.

Dalam kerusuhan kali ini,relawan menyebutkan sedikitnya  86 orang tewas,dan 3o ribu orang lainnya menjadi pengungsi. Sementara ,pada Selasa (22/11/2016)  pejabat dari badan migrasi PBB,IOM  seperti dilansir Reuters mengatakan  bahwa ia melihat lebih dari 500 warga muslim Rohingya memasuki kamp-kamp pengungsi di bukit dekat perbataasan,pada Senin (21/11/2016) lalu.

Hal serupa juga dilontarkan beberapa pekerja lainnya,bahwa mereka mengaku melihat sejumlah orang muslim Rohingya melarikan diri dari konflik di Rakhine. Ini merupakan pertikaian paling parah sejak bentrokan komunal tahun 2012 silam.  Sekelompok orang bersenjata menyerang tiga pos perbatasan pada 9 Oktober 2016 lalu ,menewaskan sembilan polisi adalah pertanda bahwa Myanmar bukan lagi negeri yang aman dan nyaman bagi warga muslim Rohingya.

"Aku melarikan diri dengan empat putriku dan tiga cucuku ke bukit terdekat. Kami berhasil menyeberangi perbatasan," kata Moulavi Aziz Khan (60)  asal Rakhine utara  yang mengaku terpaksa meninggalkan Myanmar karena rumahnya telah dikepung tentara ,lalu membakarnya. Meski kekerasan  terhadap muslim Rohingya telah terjadi, tapi tampaknya pemerintah Myanmar tetap  tak mau mengakui Rohingya sebagai warga negara.Bahkan ada kesan bahwa tindak kekerasan yang dilakukan para tentara dan kaum biksu radikal tersebut merupakan tindakan spontan tanpa perencanaan.

Inilah barangkali  kejahatan kemanusian paling sempurna, dimana nasib dan nyawa muslim Rohingya dijadikan tontonan tanpa kepedulian maksimal dari negaranya. Negeri yang memiliki pemenang Hadiah Nobel Perdamaian dan pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi ternyata tidak bisa berbuat maksimal untuk memberikan rasa aman bagi rakyatnya sendiri di Rakhine. Tudingan miring pun kini banyak ditujukan ke militer Myanmar,mereka dianggap ikut bertanggung jawab atas tragedi kemenusiaan yang dialami para muslim Rohingya.Akankah dunia tetap terpejam,meski penderitaan dan tragedi kemanusian Rohingya terus dipertontonkan? (samar)

 

 

sam

No comment

Leave a Response