Minimnya Sosialisasi Pencegahan Penyakit di Indonesia

 

Matamatanews.com,JAKARTA—Kementerian Kesehatan dinilai belum optimal untuk melakukan promosi preventif (pencegahan) penyakit pada masyarakat. Akibatnya, penyakit tidak menular (PTM) menjadi salah satu masalah besar dari tingginya biaya pengeluaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Direktur Yayasan Pemberdayaan Kesehatan Konsumen Indonesia, Marius Wijaya mengatakan, pemerintah cenderung melakukan pendekatan secara kuratif, ketika ada yang sakit baru diberi pengobatan secara gratis. “Program pencegahan yang ada sifatnya angin-anginan, kita lihat saja promosi pencegahan DB (deman berdarah) tidak ada lagi 3M dan kalaupun ada hanya musiman”, lanjut Marius.

Marius menambahkan, masyarakat seharusnya diberi edukasi secara komprehensif dan berkesinambungan, bukan hanya dijejali berbagai program pemerintah yang tidak terstruktur. Ia menjadi lebih prihatin setelah melihat kondisi Indonesia yang menduduki peringkat dua dengan penderita tuberkulosis (TB) terbanyak setelah Tiongkok.

Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tidak Menular Kemenkes Lily S Sulistyowati, menegaskan pihaknya telah berkomitmen untuk terus melakukan upaya pencegahan penyakit tidak menular untuk menekan beban biaya BPJS Kesehatan.

Kemudian melalui program Nusantara sehat dengan cara meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, diharapkan berbagai keluhan penyakit yang dialami masyarakat dapat diselesaikan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas).

Lily menambahkan, masyarakat sudah diberi informasi untuk melakukan screening test sederhana di posbindu, hal ini bertujuan untuk melihat berat badan normal dan lingkar perut ideal agar dapat mendeteksi kemungkinan terkena masalah hipertensi atau kadar gula tinggi yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular (PTM). (Atep/berbagai sumber)

sam

No comment

Leave a Response