"Mimiti", Tradisi Menjelang Panen Di Desa Sokawera, Purbalingga

 

Matamatanews.com, PADAMARA -Mimiti merupakan tradisi masyarakat desa Sokawera, Kec.Padamara, Purbalingga yang dihelat menjelang panen sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang dicapai oleh petani setempat. Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum mengungkapkan, panen padi tahun ini mencapai tiga kali dan mereka memperoleh hasil panen yang memuaskan. Einstein menambahkan, mimiti yang diselenggarakan oleh desa Sokawera telah dihadiri Dosen Fak.Pertanian Unsoed Prof.Ir.Totok Agung,DH,MP,PhD dan Dyah Susanti SP,MP. Kamis (01/10/2020) pagi.

Pakar pertanian Unsoed Prof.Totok Agung menjelaskan bahwa petani di Desa Sokawera Kecamatan  Padamara Kabupaten Purbalingga tengah  berbahagia pasalnya mereka menyelenggarakan acara tradisi yang disebut Mimiti tersebut sebagai ungkapan bahwa panen padi akan segera dimulai. 

Prof.Totok Agung memaparkan, Mimiti kalau di tempat lain disebut miwiti, adalah upacara tradisional memotong tumpeng dan makan bersama di pinggir sawah saat petani akan memulai panen. Tujuannya menurut Prof.Totok adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah atas hasil panen padi yang  melimpah dan berdoa agar panen berikutnya lebih baik dan berkah.

Dia menambahkan, bagi petani, alam bukan dianggap sebagai entitas mati. Tapi alam dianggap sebagai bagian dari kehidupan yang harus dihormati. 

"Mimiti menjadi tradisi menghormati dan menjaga kelestarian alam sebagai bentuk syukur kepada Allah Sang Pencipta, " katanya. 

Menurutnya, penduduk Desa Sokawera baik laki-laki maupun perempuan, tua muda sampai anak anak berkumpul di sana. Mereka terlihat senang sembari makan nasi tumpeng beralas daun pisang yang sudah dibacakan doa oleh ulama setempat. 

"Nasi dihidangkan memanjang diisi lauk dan sayuran, seperti kluban, tahu, tempe, teri, pete, jengkol, telor, ayam goreng, peyek, yang kesemuanya adalah hasil panen sendiri. Di sudut yang lain grup kentongan pemuda desa menyanyikan lagu-lagu rakyat, " terangnya.

Ikut hadir menyaksikan tradisi Mimiti tersebut diantaranya Kepala Dinas Pertanian Kab. Purbalingga Mukodam,SPt, Ketua MUI Kab. Purbalingga Kyai Rohib Abdurrahman,  Kepala Desa Sokawera H.Badrun, Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kec. Padamara bersama seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). 

"Tak lupa hadir Muh. Munawar,SP.MP. pengelola Teaching Industry Unsoed yang akan menampung dan membeli semua hasil panen petani dengan harga lebih tinggi dari harga pasar, " katanya bangga.

Prof.Totok Agung si penemu Padi Inpago Unsoed 1 ini menambahkan padi yang akan dipanen adalah varietas Inpago Unsoed 1 yang ditanam seluas  5 Ha untuk produksi benih dan seluas 8 Ha untuk produksi beras.

"Lahan Desa Sokawera yang padinya akan dipanen diairi irigasi setengah teknis. Air irigasi sebenarnya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air sepanjang tahun . Tapi mereka bisa mengatur pergiliran penggunaan air, sehingga petani bisa menanam padi dan panen tiga kali dalam satu tahun, " ungkapnya. 

"Dengan penggunaan varietas padi Inpago Unsoed 1, panen padi meningkat dan mutu panen lebih baik. Inpago Unsoed 1 memiliki keunggulan daya hasil tinggi, toleran kering, aroma nasi wangi dan rasanya pulen, " kata Prof.Totok Agung mengakhiri. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response