Militer Irak Mengaku Gunakan Kekuatan Berlebihan menghadapi Pengunjuk Rasa

 

Matamatanews.com, BAGHDAD—Sedikitnya lebih dari seratus orang dinyatakan tewas sejak bentrokan meletus antara pasukan keamanan dan pengunjuk rasa pada pekan lalu di Irak. Seperti dilansir The National, Senin (7/10/2019) kemarin, pejabat militer Irak mengakui bahwa pihaknya menggunakan kekuatan yang berlebihan untuk menghadapi para pengunjuk rasa anti-pemerintah pada Minggu (6/10/2019) malam lalu hingga sedikitnya 15 nyawa melayang.

Kini korban tewas kabarnya telah mencapai lebih dari seratus orang, dan 6.000 lainnya mengalami luka-luka sejak bentrokan terjadi antara pasukan keamanan dengan pengunjuk rasa pada pekan lalu.

“"Kekuatan berlebihan di luar aturan telah digunakan dan kami telah meminta pertanggungjawaban para perwira komandan yang melakukan tindakan salah ini,"kata otoritas militer Irak dengan menuding adanya penyabot alias penembak jitu yang tidak dikenal yang menarget para pengunjuk rasa.

Media pemerintah melaporkan, 15 orang tewas dalam bentrokan pada Minggu malam di Kota Sadr, Baghdad  timur.Dalam video yang di distribusikan di media sosial, para pengunjuk rasa terlihat merunduk di jalan-jalan yang berserakan dengan ban terbakar, ketika sebuah tembakan senjata yang diduga senjata berat terdengar dilepaskan oleh aparat keamanan.

Dengan terus jatuhnya korban jiwa dalam aksi massa di Irak telah menimbulkan kekhawatiran banyak pihak, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pemerintah Irak diminta untuk tidak menggunkan kekuatan berlebihan dalam mengatasi aksi demonstrasi, apalagi hingga menimbulkan korban jiwa.

Senin (7/10/2019) lalu Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi memerintahkan penarikan  militer dari Kota Sadr.Polisi federal akan menggantikan unit tentara di kota selatan karena adanya kekuatan yang berlebihan, kata sebuah sumber militer  lokal.

"Semua pasukan keamanan harus mematuhi aturan  untuk melindungi pengunjuk rasa dan memerangi kerusuhan."

Kekerasan selama seminggu terakhir memperdalam krisis politik dan ekonomi yang dihadapi Irak sejak invasi Amerika Serikat pada tahun 2003. Abdul Mahdi melakukan pembicaraan via telepon dengan Sekretaris Negara Mike Pompeo dan membahas pengunjuk rasa yang telah mencengkram negara kaya minyak tersebut.

"Perdana menteri meninjau perkembangan situasi keamanan yang kembali normal setelah jam malam dicabut, dan mengkonfirmasi bahwa keamanan mulai terkendali dan stabilitas telah dipulihkan," kata Abdul Mahdi di kantornya.

Abdul Mahdi mengatakan bahwa Baghdad telah mengajukan paket reformasi dan akan terus memberikan lebih banyak untuk memenuhi tuntutan para pengunjuk rasa. Penasihat keamanan nasional Irak Falah Al- Fayyad berjanji untuk memerangi korupsi dan membuka penyelidikan atas kematian para demonstran."Kami tidak akan membiarkan siapa pun merusak keamanan negara kami," katanya .

Al Fayyadh mengatakan, bahwa ia tahu siapa aktor dibalik kekerasan terhadap pengunjuk rasa dan penyelidikan akan membuktikan itu.Setelah kerusuhan yang mematikan itu, dalam cuitannya di twitter, Senin (7/10/2019) pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan bahwa musuh-musuh sedang berusaha mendorong pertikaian antara Teheran dan Baghdad.

"Iran dan Irak adalah dua negara yang hati dan jiwanya saling terkait ... Musuh berusaha menabur perselisihan tetapi mereka gagal dan konspirasi mereka tidak akan efektif," kata Khamenei dalam tweetnya.

Dalam perkembangan lain, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, tiba di Baghdad pada hari Senin dan bertemu dengan timpalannya dari Irak,Mohamed Al Hakim.Bulan lalu, juru bicara kementerian luar negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan pembicaraan akan fokus pada situasi di Irak, Suriah, Iran dan di wilayah Palestina " .(cam/ the national)

 

redaksi

No comment

Leave a Response