Mewaspadai Kekuatan Asing di Belakang Ahmadiyah

 

Matamatanews.com, JAKARTAMeski pemerintah belum sepenuh melarang aliran Ahmadiyah seperti lazimnya aliran sesat, namun keberadaan Ahmadiyah perlu diwaspadai sepak terjangnya. Dalam salah satu situs resmi, disebutkan bahwa Ahmadiyah adalah Mujaddid (pembaru) dalam islam.

Pembaruan atau Tajdid adalah dinaminasi atau iman, purifikasi yaitu akidah dan ibadah, dan reinterpretasi atau penafsiran ulang Al-Qur’an sesuai dengan tuntutan zaman.

Menurut mereka, berkat tajdid, Islam selaras dengan fitrah manusia sebagaimana diajarkan  Alqur’an dan sunnah nabi. Pembaruan para mujaddid itulah yang disebut gerakan pembaruan dalam Islam. Pada akhir zaman ini gerakan itu bernama Ahmadiyah. Seperti itulah klaim yang dilakukan  mereka yang mengaku-ngaku sebagai Pembaru Islam.

Akidah Ahmadiyah telah dirumuskan oleh Maulana Muhammad Ali, M.A,LL.B, secara terinci dalam Albayanu Fir-ruju’ilal Qur’an (1930: 33 – 35) . salah satunya Ahmadiya mengakui hadits Nuzulul Masih atau turunnya Al Masih. Mereka yakin bahwa Nabi Isa telah wafat dan yang akan turun pada akhir zaman bukanlah Nabi Isa AS, melainkan seorang Mujaddid yang sifat-sifatnya ada persamaannya dengan Nabi Isa AS. Dia adalah Mirza Ghulam Ahmad.

Dalam pertemuan pembahasan seputar Ahmadiya yang diadakan  Komisi VII DPR RI dengan mengundang sejumlah pemuka agama, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH.Ma’ruf Amin menegaskan bahwa Ahmadiyah adalah ajaran sesat dan menyesatkan karena mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Bahkan, aliran Ahmadiyah ini telah dinyatakan sebagai aliran kafir di luar Islam oleh Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) di Mekkah. Kegamangan pemerintah dan pembelaan tokoh Islam Liberal membuat publik bertanya, siapa di belakang Ahmadiyah ?

Kekuatan Asing di Balik Ahmadiyah

Dari beberapa literatur disebutkan bahwa sosok tokoh Mirza Ghulam Ahmad seorang ‘penjilat’ pemerintah Inggris. Dia rela menjadi pengkhianat bangsa dan lebih patuh kepada penjajah demi mencapai ambisi pribadi. Di dalam buku Tabligh i Risalah (Vol. VII, Halaman 17), Mirza menulis:

“ Aku yakin bahwa setelah pengikut-pengikutku bertambah maka mereka yang percaya pada doktrin jihad akan makin berkurang. Karena menerima aku sebagai Messiah dan Mahdi maka sekaligus berarti taat kepada perintahku, yaitu dilarang berjihad terhadap Inggris. Bahkan, wajib atas mereka berterima kasih dan berbakti pada kerajaan itu.”

Seperti yang diungkapkan dalam sebuah tanya jawab mengenai kekuatan asing di balik Ahmadiyah, dituliskan bahwa Ahmadiyah didukung sepenuhnya oleh pemerintahan Inggris yang pada waktu itu menjajah India. Ahmadiyah dijadikan alat untuk meredam jihad dan perlawanan umat Islam India. Hingga sekarang, Inggris merupakan pendukung kuat Ahmadiyah dan London adalah lokasi markas Ahmadiyah.

Meskipun secara nyata Ahmaadiyah memutar balikkan kebenaran Alqur’an dan hadits, namun sayangnya pemerintah Indonesia belum berani mengambil tindakan tegas. Diduga hal ini karena ada tekanan pihak asing, seperti dikatakan oleh Dirjen Bimas Islam Departemen Agama yang menyebutkan ada empat negara asing yang mengimbau agar Ahmadiyah tidak dibubarkan.

Keempat negara sing itu terdiri Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, satu negara lagi tidak disebutkan ketika itu mengaku lupa. Mereka mengirimkan surat yang ditujukan ke Menteri Agama dan intinya mengimbau agar Ahmadiya tidak dibubarkan.

Mengutip pendapat mantan ketua MPR RI ketika itu, Dr.Hidayat Nur Wahid, MA, dalam salah satu kesempatan ia mengatakan bahwa,"Manuver beragam yang dilakukan oleh pihak tertentu yang menganggap ahmadiyah sebagai pelanggaran HAM dalam beragama perlu dicurigai. Sebab, dikhawatirkan itu salah satu cara yang dilakukan pihak asing untuk merusak kedaulatan Indonesia.”. (samar/konspirasi dunia/berbagai sumber)

 

sam

No comment

Leave a Response