Menguak Skandal Privatisasi Saham Indosat

 

Matamatanews.com-JAKARTASurat penandatangan kontrak jual beli saham Indosat, yang menandatangani justru sebuah perusahaan asal Mauritius bernama Indonesiaan Communication Limited (ICL). Anehnya, menurut pejabat BUMN, praktik itu lumrah ilakukan alam sebuah praktik bisnis internasional.

Tahun 2001 menandai sebuah skandal proyek privatisasi membabi buta pemerintah Indonesia yang di nakhodai oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Versi pemerintah mengatakan bahwa calon pembeli Indosat adalah sebuah perusahaan Singapura bernama Singapore Technologies Telemedia (STT). Tetapi faktanya, pada saat penanda tanganan kontrak jual beli, yang menandatangani justru sebuah perusahaan asal Mauritius bernama Indonesia Communication Limited (ICL).

Anehnya, menurut pejabat Kementerian BUMN,praktik seperti itu lumrah dilakukan dalam sebuah praktik bisnis internasional. Banyakl ekonom yang secara kritis menduga ini sebagai sebuah bentuk kebohongan publik yang dilakukan oleh negara. Belum lagi biaya penjualan Indosat yang harus ditanggung pemerintah sebesar Rp 171 miliar. Itu hanya untuk melepas satu perusahaan.Oleh sebab itu, diduga terjadi mark up (dilebih-lebihkan)  pada nilai tersebut.

Kejanggalan lain yang tidak kalah menggelisahkan ialah jika divestasi (penjualan saham) Indosat dimaksudkan untuk melakukan privatisasi (praktik pengelolaan oleh perusahaan swasta) , justru sebenarnya tidak demikian yang terjadi. Kenapa? Karena, STT bukanlah perusahaan swasta, tetapi ia merupakan milik pemerintah Singapura seratus persen. Apalagi penjualan Telkomsel pun dibeli oleh BUMN yang sahamnya dimiliki oleh pemerintah Singapura.

Para ekonom jusru mengatakan ini bukan privatisasi, tetapi Singapuranisasi. Alhasil,pejabat-pejabat baru di Indosat pun kemudian diduduki oleh para mantan pejabat pemerintahan dan militer Singapura!. Fenomena inilah kemudian yang mendorong timbulnya kecurigaan bahwa telekomunikasi Indonesia telah dikuasai Singapura. Betapa tidak? Dengan menguasai Indosat dan telkomsel, Singapura bisa’memata-matai’ arus informasi melalui satelit kedua operator telekomunikasi terbesar di negara ini.

Tetapi syukurlah kesadaran itu akhirny datang pada era pemerintahan yang baru. Melalui Putusan Mahkamah Agung No.Reg.128 PK/PDT.SUS/2009 tanggal 5 Mei 2010, akhirnya konsorsium STT,Temasek, dan ICL harus melepaskan kepemilikan silangnya pada salah satu dari Indosat atau Telkomsel. Namun demikian, kini banyak pihak berharap kita bisa merebut kembali industri yang sensitif terhadap keamanan dan rahasia negara itu ke tangan ibu pertiwi.Kapan ya? **(Samar/berbagai sumber/Konspirasi Dunia)

 

sam

No comment

Leave a Response