Menguak di Balik Skandal Citibank Tahun 2011

 

Matamatanews.com, JAKARTA—Tahun 2011 tampaknya menjadi gerbang  pembuka segala masalah yang selama ini tersembunyi di bank swasta asing Amerika bernama Citibank. Tewasnya Irzen Octa , seorang nasabah kartu kredit yang mempertanyakan kejanggalan jumlah tagihannya, membuka borok praktik debt collector (penagih utang)  yang terjadi dengan sangat telanjang di sana.

Sekretaris Jenderal Partai pemersatu Bangsa itu tewas di lantai 5 Menara Jamsostek, tempat di mana Citibak berkantor. Akibat kekerasan yang dilakukan oleh oknum penagih utang kartu kredit yang diakui Octa hanya berjumlah Rp 48 juta menjadi Rp 100 juta.

Kejadiannya ini sebenarnya sangat sering terjadi pada pemegang kartu kredit pada hampir seluruh bank. Hanya kebetulan saja kasus Citibank mencuat begitu dahsyat ke publik. Octa pun harus meregang nyawa karena di duga terjadi pemukulan yang menyebabkan pembuluh darah otaknya pecah. Bukti percikan darah di gorden dan lantai menjadi penguat dugaan bahwa telah terjadi praktikkekerasan biadab.

Bersamaan dengan hal tersebut, Citibank ditimpa lagi dengan persoalan mantan Senior Relationship Manager, Inong Melinda, alias Malinda Dee. Malinda telah menggelapkan dana nasabah sekitar

Rp 17 miliar. Namun banyak yang menduga bahwa nilai tersebut hanya berada di permukaan. Karena banyak nasabah lain yang diam dan tak ingin melaporkan kejahatan yang dilakukan wanita cantik berusia 47 tahun itu ke polisi. Lalu kenapa, bukankah nilai dana yang digelapkan itu biosa mencapai miliaran rupiah?

Alasannya,, ketika menjabat ia nenangani nasabah prioritas yang minimal memiliki simpanan Rp 1 miliar.Di sinilah letak aroma konspiratifnya.  Dari pengakuan terbuka Malinda kepada pengacaranya, Indra Sahnun Lubi, ternyata sudah selama 10 tahun ia melakukan praktik pencucian uang nasabah Citibank. Ia juga mengklaim bahwa para manajemennnya mengetahui persis apa yang dilakukannya.

“ Malinda mengaku itu (menampung pencucian uang nasabah). Citibank tahu karena untung,” kata Indra sahnun Lubi ketika itu di Mabes Polri, Selasa (26/4/2011).

Modus yang dilakukan di antaranya mengalihkan dana nasabah yang disimpan di Citibank cabang landmark, Jakarta , disalurkan ke perusahaan Malinda, PT Sarwahita Global management. Lalu, dialirkan lagi ke Bank Mega. Kabarnya, Malinda bertugas untuk mengelola simpanan nasabah ke dalam berbagai bentuk investasi keuangan sehingga akhirnya dana-dana yang sebagian mungkin diperoleh dari berbagai praktik haram itu menjadi bersih.

Inilah yang menjadi kecurigaan bahwa Malinda telah bersekongkol dengan nasabah nakal untuk melakukan money loundry (pencucian uang). Hal tersebut sangat dimungkinkan mengingat para nasabah yang berstatus prioritas atau premium mendapatkan hak-hak istimewa dalam pelayanan dan kemudahan administrasi.

Diduga banyak nasabah yang ditangani Malinda tidak perlu repot harus menjelaskan darimana sumber dana mereka, sebagaimana yang wajib dilakukan oleh para nasabah reguler, sesuai dengan peraturan dari bank Indonesia. Celakanya, dana-danan tersebut disalahgunakan Malinda untuk menunjang hidup supermewahnya. Akibatnya, miliaran uang tersebut menjelma menjadi mobil Ferrari, Hummer, Mercedez, dan sejumlah apartemen mewah.

Segelintir dari nasabah yang dirampok Malinda melapor, tapi diyakini masih ada miliaran dana lagi yang tidak dilaporkan karena takut polisi dan pihak lain yang memiliki otoritas keuangan akan mempertanyakan sumber dana mereka yang sebenarnya.

Banyak yang percaya dan banyak juga yang tidak, bahwa Citibank sangat bernyali melakukan kejahatan perbankan pencucian uang. Lembaga keuangan besar sekelas Citibank mempertaruhkan reputasi internasionalnya dengan kejadian memalukan seperti ini. Seandainya itu benar, apa alasan yang paling mungkin terjadi sehingga Citibank seakan gelap mata membiarkan kejahatan terjadi di dalam rumah tangganya?

Masih ingat kebangkrutan lembaga jasa investasi keuangan lehnan brothers yang andil dalam krisis moneter di Amerika Serikat pada 2008 lalu? Lehman Brothers pada 15 September 2008 dinyatakan pailit dan merugikan sistem keuangan Amerika sebesar US$ 691 miliar. Di luar Amerika Serikat, bisnis produk investasi keuangan Lehman Brothers ternyata juga dipasarkan melalui Citibank. Ada kekhawatiran, kepanikan global karena kebangkrutan Lehman Brothers  dapat memicu arus modal ke luar atau capital out flow dari sistem keuangan nasional.

Ada dugaan, kasus pembobolan yang dilakukan malinda itu terkait dengan capital out flow. Terlebih wali amanat yang mengawasi lehman Brothers menggugat Citibank US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 11, 3 triliun saat itu untuk layanan valuta asing dan penyelesaian lebih dari US$ 300 juta deposito yang dibekukan Citibank. Jika analisis ini benar, maka hal ini patut dianggap bahwa telah terjadi skenario pihak asing untuk mengeruk uang rakyat Indonesia sebanyak-banyaknya, tidak peduli apakah itu uang halal atau haram. (akhtar/berbagai sumber/konspirasi dunia).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sam

No comment

Leave a Response