Mengenal Lebih Jauh Penyakit Anthrax

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Beberapa waktu berbagai media memberitakan sebanyak 30 orang dilaporkan positif menderita anthrax. Kasus virus antrax sempat menyebar di Kabupaten Gunungkidul DI Yogyakarta pada kurun waktu Desember 2019 hingga awal 2020 dan menyita perhatian publik. "Penyakit anthrax adalah salah satu penyakit zoonosis penting yang saat ini banyak dibicarakan di seluruh dunia. Disebut penyakit zoonosis karena dapat menular dari hewan ke manusia, "ungkap Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum.

Saat perbincanganya antara Einstein dengan Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dr. Ismiralda Oke Putranti, Sp.KK. menjelaskan apa itu penyakit anthrax dan cara pencegahaannya.

dr.Ismiralda menjelaskan bahwa Anthrax atau lebih dikenal dengan penyakit sapi gila, merupakan penyakit akbat infeksi bakteri Bacillus anthracis yang utamanya menyerang hewan ternak seperti sapi, kambing, kuda, dan lain-lain. Hewan hewan tersebut menghirup / menelan spora yang ada di tanah, tanaman maupun air yang terkontaminasi bakteri tersebut.

"Bakteri ini dapat berpindah ke dalam tubuh manusia melalui kontak kulit, hirupan, atau menelan produk hewan yang terinfeksi anthrax atau bahkan meminum air yang terkontaminasi, " jelas Ismiralda.

dr.Ismiralda menambahkan penyakit Anthrax jarang terjadi. Di Indonesia penyakit ini masih bersifat endemik di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, dan lain-lain. 

"Biasanya muncul pada awal-awal tahun atau pada saat awal musim penghujan. Pengawasan dan program vaksinasi dari Kementerian Kesehatan secara berkala juga mencegah terjadinya penyebaran penyakit tersebut, " tambahnya.

Manusia kata dr.Ismiralda dapat terinfeksi bila spora bakteri anthrax masuk ke dalam tubuh dan mengalami aktivasi. Ketika spora bakteri tersebut teraktivasi, bakteri akan meningkat jumlahnya dan menyebar ke seluruh tubuh dan memproduksi toksin sehingga menimbukan gejala klinis yang berat. Orang-orang yang berisiko terjangkit penyakit Anthrax umumnya petani, peternak, pekerja pengolahan produk-produk ternak, dokter hewan, pemburu, pekerja laboratorium, dan lain-lain.

A. Tipe Penyakit Anthrax

Dokter Ismiralda yang praktek di Klinik Kesehatan Kulit dan Kelamin di RSUD Prof.dr.Margono Soekarjo, Purwokerto memaparkan bahwa tipe penyakit anthrax tergantung dari cara masuk bakteri tersebut ke dalam tubuh. Ada infeksi kulit, gastrointestinal (saluran pencernaan), inhalasi (saluran pernapasan), dan injeksi. Penyakit ini juga dapat meluas dan memburuk apabila tidak diobati antibiotik secara cepat dan tepat.

1. Penyakit Anthrax Kulit

Seseorang terinfeksi anthrax pada kulit bila spora masuk ke dalam kulit melalui goresan atau tusukan. Hal ini dapat terjadi pada orang-orang yang menangani/mengolah produk hewan-hewan yang terinfeksi seperti wool, kulit atau rambut. Infeksi ini umumnya terjadi di area kepala, leher, lengan bawah dan tangan, dan infeksi tersebut dapat meluas ke jaringan kulit di sekitarnya. 

Penyakit anthrax kulit ini merupakan bentuk tersering dan paling ringan dari infeksi bakteri anthrax. Infeksi biasanya terjadi 1 – 7 hari setelah paparan. Dengan penanganan yang baik umumnya pasien anthrax kulit dapat bertahan dan sembuh, namun bila tidak, 20% pasien dapat meninggal dunia.

Gejala klinis yang timbul pada penyakit anthrax kulit adalah sebagai berikut:

° Timbulnya lenting-lenting yang terasa gatal diikuti timbulnya luka tukak/ulkus kehitaman di pertengahnnya dan tidak nyeri,

◦Kadang disertai pembengkakan di sekitar tukak,

2.Penyakit Anthrax Gastrointestinal (Saluran Pencernaan)

Penyakit anthrax saluran pencernaan dapat terjadi apabila seseorang mengkonsumsi daging mentah atau kurang matang, susu yang berasal dari hewan yang terinfeksi anthrax. Setelah tertelan, spora anthrax akan menginfeksi saluran cerna bagaian atas (tenggorok), lambung dan usus halus. 

Gejala muncul setelah 1 – 7 hari pasca konsumsi makanan terinfeksi, dan tanpa pengobatan yang baik, lebih dari 50%  pasien anthrax saluran cerna meninggal dunia.

Gejala anthrax saluran cerna berupa:

◦Demam menggigil,

◦Pembesaran kelenjar getah bening leher,

◦Luka dan nyeri pada tenggorokan,

◦Nyeri telan,

◦Suara serak,

◦Mual dan muntah, kadang hingga muntah darah,

◦Diare dan diare disertai darah,

◦Nyeri kepala,

◦Wajah dan mata memerah,

◦Nyeri perut,

◦Pembengkakan perut.

3. Penyakit Anthrax Saluran pernapasan

Seseorang dapat terinfeksi anthrax pada saluran napas apabila spora bakteri terhirup. Orang-orang yang berisiko terkena adalah para peternak wool/penyamak kulit, pekerja penyembelihan ternak, dan lain-lain. Mereka umumnya akan menghirup  spora bakteri pada saat bekerja. Spora ini akan berada di kelenjar getah bening dalam paru-paru sebelum menyebar ke seluruh tubuh dan yang utama menyebabkan kesulitan bernapas.

Penyakit ini merupakan bentuk terberat dari infeksi anthrax, dan muncul dalam waktu seminggu setelah terapapar, namun juga bisa mencapai 2 bulan. Tanpa pengobatan, hanya 10 - 15% pasien yang dapat bertahan hidup, sedangkan dengan pengobatan agresif pun hanya 55% yang dapat sembuh.

Gejala klinis infeksi anthrax pada saluran napas berupa:

◦Demam dan menggigil,

◦Nyeri dada,

◦Napas pendek dan tersengal-sengal,

◦Pusing berputar,

◦Batuk,

◦Mual, muntah, dan nyeri perut,

◦Nyeri kepala,

◦Keringat dingin,

◦Badan terasa sangat lemah,

◦Badan terasa sakit.

4. Penyakit Anthrax Akibat Injeksi

Baru-baru ini bentuk baru infeksi anthrax timbul akibat penggunakan jarum suntik.  Penyakit ini ditemukan pada penderita penyalahgunaan obat-obat suntik. Penggunaan jarum suntik bersama-sama dengan pasien penderita anthrax meningkatkan risiko penularan. 

Secara umum gambaran klinis mirip dengan anthrax pada kulit, namun karena penetrasi lebih dalam di kulit maupaun hingga otot, maka penyebaran penyakit ini lebih cepat dan sulit terdeteksi.

B. Pengobatan dan Pencegahan

1. Pengobatan

Pengobatan infeksi anthrax bisa dengan antibiotik dan antitoksin. Apabila seseorang terkena infeksi anthrax segera berobat ke dokter dan mendapatkan pengobatan antibiotik segera. Antitoksin diberikan terutama pada kondisi infeksi berat, dan umumnya pasien memerlukan perawatan inap.

2. Pencegahan

a. Kebijakan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan terkait vaksinasi hewan ternak secara berkala cukup membantu menekan angka kejadian infeksi anthrax pada manusia, namun tidak menutup kemungkinan  penyebaran bakteri ini dari hewan-hewan liar mapun hewan ternak yang pakannya didapat secara bebas masih bisa terinfeksi penyakit ini dan akhirnya menular kepada manusia.

b. Tindakan pencegahan pada peternak, pekerja pengolahan produksi ternak, dokter hewan, petugas laboratorium, dan lain-lain. Yang paling utama adalah penggunaan alat pelindung diri (APD) standar minimal yang berupa masker, sarung tangan, dan sepatu boot. 

c. Pelatihan pengenalan gejala dan tanda binatang yang terinfeksi anthrax juga sebaiknya dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan.

d. Kerjasama lintas sektoral dengan pengusaha ternak dengan dinas kesehatan mutlak dilakukan agar tidak terjadi wabah.

e. Pemahaman dan kewaspadaan terhadap infeksi anthrax ini juga harus dilakukan oleh semua pihak sehingga jika ada jatuh korban infeksi dapat segera diberikan pertolongan dokter, dan penyusuran sumber infeksi juga harus dilakukan supaya tidak menjadi wabah.(hen/berbagai sumber)

 

redaksi

No comment

Leave a Response