Mengenal Lebih Dekat Sosok Yang Peduli Lingkungan Wisnu "Neo" Chandra

 

Matamatanews.com, PURWOKERTONeo, sebuah kata yang sudah tidak asing di telinga kita, dimana neo mempunyai makna "diperbaharui". Kata Neo inilah yang menggugah pribadi seorang pria kelahiran Banjarnegara 43 tahun yang lalu bernama Wisnu Chandra dalam menyikapi perjalanan hidupnya. 

Terlahir dari keluarga berada dan tinggal di lingkungan pusat kota tepatnya di sebelah timur terminal dan barat pasar Banjarnegara membentuk karakter seorang Wisnu menjadi laki laki yang bebas cenderung tidak terkendali, seolah kenakalan remaja menjadi hal biasa bagi Wisnu. 

Seiring waktu berjalan perjalanan hidupnya menemui banyak problema. Dia pernah menemukan masa kejayaan juga penderitaan. Berbagai profesi pernah dia tekuni dari Security, Teknisi maupun Debt Collecor. 

Pertengahan tahun '90 an adalah tonggak awal perjalanan Wisnu merintis kariernya. Dia bekerja sebagai Security di salah satu Bank BUMN di kotanya. Pekerjaan ini dia jalani hingga akhir tahun '90 an. Saat itulah dia mengalami goncangan hidup dimana dia gagal dalam membina rumah tangga. Kondisi ini membuat mental Wisnu goyah, dia menghabiskan sebagian waktunya di dunia malam dan jalanan hingga tragisnya pada 2005 pernah merasakan hidup menjadi gelandangan. 

Semangat hidupnya pulih kembali semenjak dia bekerja di salah satu proyek pembangunan tower di area Sumatera (kecuali Aceh) dan Indonesia bagian Timur (kecuali Papua) sejak tahun 2006 hingga 2009.  Di pekerjaan inilah dia menuai kesuksesan sehingga dia berani membangun kembali mahligai rumah tangga yang kedua. 

Namun kesuksesan pulalah yang membuat dirinya lupa hingga berimbas pada kegagalan rumah tangganya yang kedua.  Dia memutuskan kembali ke daerah asal untuk menggeluti profesi sebagai Debt Collector. Di lingkungan asalnya itulah Wisnu menemukan pasangan hidup untuk yang ketiga. Disamping bekerja dia juga membuka  warung makan bersama istri di Taman Kota (Tamkot) Banjarnegara meneruskan usaha yang pernah dijalankan kakak iparnya. Lambat laun usaha ini mengalami kemajuan hingga dirinya mengambil keputusan untuk berhenti bekerja sebagai Debt Collector. 

Wisnu beranggapan bahwa di usaha inilah dia menemukan arti kehidupan, dia memaknai warung sebagai tempat belajar dan mengaji. Warung sederhana yang menyajikan menu tempe, tahu dan telor penyet serta berbagai jenis minuman ini dijadikan Wisnu sebagai tempat menimba ilmu. Dia menganggap warung adalah tempat bertransaksi, berkomunikasi, bertukar pikiran baik dengan konsumen maupun lingkungan sekitar warung. Banyak hal yang dipelajari Wisnu di sana baik segi sosial, agama, ekonomi, maupun politik. Hal ini menggugah hati Wisnu untuk berubah dari seorang pria yang garang dan liar menjadi lebih sabar dan kritis. 

Kata Neo inilah yang akhirnya dijadikan nama warung makannya dari Tenda Biru menjadi NEO Tenda Biru. Sekarang Wisnu lebih bijak dalam melihat sebuah persoalan, dia aktif dalam kegiatan sosial, serikat pekerja, aktivis di ormas dan sebagai pemerhati pedagang kaki lima. 

Dia juga aktif dalam kegiatan komunitas yang di dalamnya terdiri dari berbagai komponen yang peduli dengan dunia pertanian, peternakan, sosial, lingkungan hidup, hutan dan lain sebagainya. 

Wisnu dan komunitasnya mempunyai cita cita untuk merubah pola pikir, pola hidup masyarakat sehingga masyarakat berubah ke arah yang lebih maju. Dia beranggapan kalau dia bisa berubah kenapa orang lain tidak. Semoga cita cita Wisnu dan komunitasnya untuk merubah kesejahteraan masyarakat di lingkungannya maupun masyarakat Banjarnegara mendapat dukungan dari pihak pihak yang terkait. Keinginan ini menjadi modal Wisnu untuk terjun di dunia politik nantinya.

"Ketika yang kosong menjadi berisi, ketika yang khayal menjadi nyata apakah semua itu bisa terjadi? Hanya Allah yang tahu karena di tangan Nya sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin".*(javi,PAP,hen)

 

sam

No comment

Leave a Response