Mengenal Istilah Terapi Plasma

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Kenaikan jumlah positif Covid-19 nampaknya sulit dilepaskan dari perilaku masyarakat yang seolah olah merasa aman ketika berkumpul disuatu tempat tanpa jaga jarak dan tidak menggunakan masker dengan benar. Penyakit merupakan musibah yang sebenarnya bisa dicegah. Pencegahan bisa dilakukan dengan mengubah perilaku dan menjaga gaya hidup sehat. Saat ini, upaya terbaik adalah memutus rantai penularan melalui tes lacak, dan isolasi. Di level individu, tentu saja dengan mematuhi protokol kesehatan, memakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan.

Sementara Dosen Fakultas Kedokteran Unsped dr.Yudhi Wibowo,MPH, menjelaskan bahwa beberapa minggu terakhir kasus kematian akibat Covid-19 Di Jawa Tengah mengalami peningkatan terlebih di Kab. Banyumas. Sejak pertama kali ditemukan kasus konfirmasi Covid-19 tanggal 16 Maret 2020, per tangal 11 Desember 2020 tercatat 135 kasus kematian di Kab. Banyumas.

Di bulan Desember (sampai tanggal 11) menurutnya, sudah tercatat 57 kasus kematian dengan CFR 3,88 di atas CFR global dan nasional. Sebagian besar kasus yang meninggal berusia lanjut ditambah dengan adanya penyakit penyerta atau komorbid. 

"Hanya 2 kasus kematian yang diketahui tanpa komorbid. Jumlah kematian yang terus bertambah, tentunya harus menjadi perhatian kita bersama. Selain kondisi pasien saat datang sudah dalam kondisi buruk, tentunya perlu disikapi agar siapapun yang memiliki gejala sedang Covid-19 untuk segera ke RS," katanya. 

Selain itu lanjut Yudhi Wibowo, bagaimana system layanan kesehatan di RS yang menjadi tempat perawatan pasien bergejala sedang, berat/kritis dapat diupayakan perawatan pasiennya secara maksimal. 

"Manajemen klinis sebagai standar operasional telah ditetapkan di dalam buku pedoman pencegahan dan penanggulangan Covid-19 dari Kemenkes RI yang dirilis tanggal 13 Juli 2020. Untuk menekan angka kematian, maka fokusnya adalah bagaimana merawat pasien Covid-19 dengan gejala sedang, berat/kritis secara maksimal," ungkapnya.

A. Catatan Harus Disikapi Dengan Cepat

Terapi standar untuk kasus tersebut telah tersedia di sebagain besar Rumah Sakit di Kab. Banyumas. Namun ada beberapa catatan yang harus disikapi dengan cepat yaitu :

1. Ketersedian sarpras di RS terutama terkait ketersediaan ruangan ICU, ventilator, dan Hight Flow Nasal Canul (HFNC)/Non Invasive Ventilator (NIV).

2. Perlu diupayakan ketersediaan obat Tocilizumab (Actemra) merupakan obat arthritis rheumatoid yang punya manfaat mengurangi kematian pada pasien Covid-19 dengan ventilator. Meskipun harus diberikan secara hati-hati.

3. Untuk memberikan obat Tocilizumab, diperlukan pemeriksaan kadar Inter Leukin 6 (IL-6), oleh karena itu perlu disiapkan laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan kadar IL-6 tersebut.

4. Perlunya perpaduan terapi antara pemberian terapi stadndar/Tocilizumab dengan terapi plasma konvalesen (meskipun masih dalam tahap penelitian) sebagaimana dilakukan diberbagai senter pendidikan atau RS Pendidikan.

B. Plasma Konvalesen

Lalu apa yang dimaksud dengan terapi plasma konvalesen itu sendiri? 

Ahli Epidemiologi Lapangan (Field Epidemiology) dr.Yudhi Wibowo,MPH, menjelaskan bahwa Plasma Konvalesen adalah plasma darah yang diambil dari pasien yang terdiagnosa Covid 19 dan sudah 14 hari dinyatakan sembuh dari infeksi Covid-19. Hal ini ditandai dengan pemeriksaan Swab menggunakan RT-PCR sebanyak 1 kali dengan hasil negative. Terapi plasma konvalesen adalah pemberian plasma dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh yang kaya dengan Antibodi poliklonal, yang ditransfusikan kepada pasien Covid-19, sebagai salah satu upaya pemberian terapi imun pasif dengan segera.

Kapan plasma konvalesen diberikan? Plasma konvalesen diberikan kepada pasien Covid-19 dengan gejala berat dan mengancam jiwa. Hasil akan baik jika diberikan < 14 hari dari onset (saat timbulnya gejala) dan diharapkan antibody dari pasien yang sudah sembuh bekerja sebagai imunisasi pasif bagi pasien tersebut. 

 "Karena terapi plasma dikatakan bermafaat untuk menolong nyawa pasien Covid-19 dengan gejala berat dan mengancam jiwa, maka sangat bagus jika dilakukan sosialisasi massif terkait pentingnya pendonor paska sembuh dari infeksi Covid-19. Oleh karena itu perlu dibentuk perkumpulan penyintas Covid-19, yaitu mereka yang telah sembuh dari penyakit Covid-19," terangnya.

C. Donor Penyitas Covid-19

Lalu siapa donor penyintas Covid-19 ini? Tim ahli satgas Covid-19 Banyumas ini menjelaskan bahwa donor penyintas Covid-19 adalah orang yang sudah sembuh dari Covid-19, dengan ketentuan sebagai berikut :1. Pernah swab RT-PCR positif,

2. Diutamakan:

a. Laki-laki, karena perempuan jika telah menikah dan melahirkan perlu diperiksa anti Human Leucocyt Antigen (HLA), Human Neutrofil Antigen (HNA), dan Human Platelet Antigen (HPA),b. Pernah menjadi donor (tidak mutlak),

c. Tidak pernah ditransfusi.

D. Proses Untuk Menjadi Donor Plasma Konvalen

Proses untuk menjadi donor plasma konvalesen kata dr.Yudhi Wibowo meliputi:

1. Rekruitmen dan seleksi:

a. Donor adalah pasien yang telah sembuh dari Covid-19

b. Bekerjasama dengan dinkes dan rumah sakit rujukan Covid-19

c. Melalui upaya sosialisasi donor darah secara sukarela

d. Usia 18 - 60 tahun

e. Berat badan ≥ 55 kg

f.  Pemeriksaan tekanan darah 160/100 s/d 110-70 mmhg

g. Denyut nadi teratur 50 – 100 x/menit

h. Suhu tubuh < 37°c

i. Kadar hemoglobin ≥12,5 s/d ≤17 gr/dl

j. Tidak mengkonsumsi obat – obatan tertentu

k. Tidak sedang hamil atau menyusui bagi donor wanita

l.  Tidak mempunyai riwayat penyakit jantung

m. Tidak menderita epilepsi atau sering mengalami kejang

n. Tidak mengidap penyakit infeksi menular seperti HIV, hepatitis B dan C

o. Pernah didiagnosis positif Covid-19 melalui hasil pemeriksaan laboratorium dengan test diagnostik (naso/oro-pharyngeal swab) pada saat sakit

p. Tidak menunjukkan gejala klinis Covid-19 selama minimal 14 hari sebelum donasi disertai dengan hasil negatif sars-cov-2 melalui naso/oro pharyngeal swab

q. Donor tidak memiliki riwayat transfusi sebelumnya, untuk donor wanita dipersyaratkan tidak hamil. jika donor wanita pernah hamil, maka harus dibuktikan hasil tes antibodi anti –hla/hpa/hna dinyatakan negatif.

r. Memiliki titer antibodi netralisasi sars-cov-2 setidaknya 1:160. titer antibody netralisasi 1:80 dapat dipertimbangkan jika tidak tersedia pilihan lain yang sesuai

s. Non reaktif terhadap uji saring infeksi menular lewat transfusi darah.

2. Pengujian:

Donor yang telah memenuhi kriteria pada pre skrining akan dilakukan pengambilan sampel untuk pemeriksaan sebagai berikut :

a. Pemeriksaan golongan darah abo dan rhesus

b. Pemeriksaan skrining antibodi

c. Pemeriksaan uji saring infeksi menular lewat transfusi darah terhadap HIV, sifilis, hepatitis B dan C

d. Titer antibodi dan netralisasi antibodi

e. Pemeriksaan hematologi (pengambilan metode apheresis)

f. Pemeriksaan total protein dan albumin (pengambilan metode apheresis).

"Oleh karena terapi plasma sangat bermafaat untuk menyelematkan pasien Covid-19, maka marilah bagi penyintas Covid-19 untuk secara sukarela mendonorkan plasmanya. Sekali lagi plasmamu dapat menyelamatkan orang lain," pungkasnya. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response