Mengenal Istilah Angka Reprodusi, Herd Immunity Dan Vaksin Covid-19

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Sejak penyakit Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan China 8 Bulan lalu, berbagai berita ramai membicarakan angka reproduksi, imunitas kelompok (herd immunity) dan vaksin. Istilah angka reproduksi ini banyak dibicarakan oleh kalangan akademisi, pimpinan pemerintah, bahkan masyarakat awam. 

"Seolah-olah istilah tersebut terdengar hal yang biasa bahkan mulai hilang sejak kemunculan istilah herd immunity dan vaksin, "ungkap Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum.

Bagi masyarakat awam, mungkin belum sepenuhnya memahami secara benar istilah-istilah tersebut. Untuk itu, akan dibahas satu persatu oleh Dosen Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Yudhi Wibowo, MPH.

1. Angka Reproduksi

A. Macam Angka Reproduksi :

Ahli Epidemiologi Lapangan (Field Epidemiology) dr.Yudhi Winowo, MPH, menjelaskan bahwa angka reproduksi (reproductive number) ada 2 yaitu :

1) Angka Reproduksi Dasar (Basic Reproductive Number atau R0)

R0 (R naught, R zero, R nol) adalah rata-rata jumlah kasus sekunder yang ditularkan dari kasus infeksi primer pada suatu populasi yang seluruhnya rentan alias seluruhnya tidak imun (entirely susceptible=S) atau homogen. Jadi R0 adalah zero atau nol imunitas di populasi dan dihitung pada saat awal pandemi atau wabah. Rerata R0 Covid-19 diperkirakan sekitar 3,28 dari berbagai penelitian, artinya bahwa 1 kasus infeksi primer Covid-19, rata-rata menularkan 3 kasus infeksi sekunder baru. Dibandingkan penyakit lain, misal R0 flue biasa sebesar 1,3 dan campak (measles) sebesar 15-18, sementara polio, rhinovirus, smallpox sebesar 6.

2) Angka Reproduksi Efektif (Effective Reproductive Number atau Rt)

Angka reproduksi efektif (Rt atau Re) adalah rata-rata jumlah kasus sekunder baru yang ditularkan oleh 1 kasus infeksi pada suatu populasi yang sebagian rentan (partially susceptible=S) alias heterogen. Atau, setelah ada intervensi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyakit menular.

Hubungan antara R0 dengan Re secara matematis adalah Re = R0 x S. Sebagai contoh jika R0=3 dan seluruh populasi rentan (S=100%) maka Re=3 x 100%= 3, disini Re=R0. Sementara jika sebagian populasi rentan (misal S= 33,3%) maka Re= 3 x 33,3%= 0,99 (ketika kondisi herd immunity sebesar 66,7%).

b. Manfaat Angka Reproduksi :

Manfaat angka reproduksi menurut dr.Yudhi :

1). Memperkirakan potensi penularan, semakin tinggi R0 maka semakin besar kemungkinan kasus infeksi menularkan agen infeksi (penyebab infeksi) kepada orang lain,

2). Memperkirakan potensi epidemi dan kurva epidemi, semakin tinggi R0 maka kurva epidemi akan curam dan tinggi

3). Menunjukkan infektifitas dari penyebab penyakit tersebut, infektifitas adalah kemampuan penyebab infeksi menimbulkan infeksi pada manusia,

4). Menentukan berapa proporsi dari populasi yang harus diimunisasi untuk menciptakan herd immunity.

B. Pengaruh Angka Reproduksi

dr.Yudhi menambahkan bahwa angka reproduksi dipengaruhi oleh faktor penyebab penyakit (agent), faktor manusia atau penjamu (host) dan faktor lingkungan dan layanan kesehatan.

1) Faktor Agent

Faktor agen atau penyebab penyakit meliputi laju infeksi atau daya tular oleh penyebab penyakit (misal SARS-CoV2), cara penularan (mode of transmission) dan riwayat alamiah penyakit, yaitu semakin pendek masa laten semakin cepat kasus infeksi dapat menularkan ke host rentan lainnya. Semakin panjang masa infeksi maka semakin banyak  host rentan yang terinfeksi oleh kasus infeksi.

2) Faktor Host

Faktor manusia atau penjamu (host) meliputi kekebalan tubuh dan faktor risiko lainnya misalnya usia, jenis kelamin, penyakit komorbid dan kehamilan.

3) Faktor Lingkungan dan Layanan Kesehatan

Faktor lingkungan dan layanan kesehatan terkait dengan densitas penduduk, mobilitas penduduk dan upaya pencegahan dan penangulangan meliputi upaya Testing, Tracing, Treatment, dan Isolating.  

Kapan pandemi atau wabah dikatakan terkendali? Menurut WHO, dikatakan terkendali jika dalam kurun waktu 2 minggu terakhir berturut-turut nilai Rt <1. Angka Rt ini sangat dipengaruhi oleh jumlah testing dan tracing.

2. Herd Immunity

Herd immunity (imunitas kelompok) kata dr.Yudhi adalah suatu bentuk proteksi secara tidak langsung terhadap suatu penyakit infeksi yang diperoleh orang-orang yang tidak imun, ketika cukup banyak orang dalam populasi telah menjadi imun (misal karena vaksinasi atau sudah terinfeksi dan sembuh). 

Konsep herd immunity sempat ramai dibicarakan sebagai cara menghadapi pandemi. Akan tetapi hal ini tidak manusiawi jika tidak dibantu dengan upaya vaksinasi karena akan banyak korban jiwa. Oleh karena itu, untuk menciptakan herd immunity harus dilakukan upaya vaksinasi. 

Terdapat herd immunity threshold (HIT) yaitu persentase minimal dari populasi yang imun agar dapat memberikan proteksi tidak langsung kepada seluruh anggota populasi. HIT dapat dicapai melalui vaksinasi dan orang yang sembuh paska terinfeksi. Rumusnya HIT = 1 - 1/R0. Jika R0 covid-19 = 3 maka HIT = 1 – 1/3 = 66,7%. Dengan demikian paling tidak sebesar minimal 70% penduduk Indonesia yang harus divaksinasi untuk mendapatkan herd immunity.

3. Vaksin

Tim Ahli Satgas Covid-19 PemKab Banyumas ini mengatakan bahwa vaksin yaitu bibit penyakit yang sudah dilemahkan, digunakan untuk vaksinasi (menurut KBBI). Vaksinasi merupakan cara menciptakan kekebalan atau imunitas didapat secara aktif artifisial. Imunitas adalah kemampuan tubuh manusia untuk mentoleransi keberadaan materi alami dalam tubuh dan menyingkirkan (mengeliminasi) bahan (substansi) asing tersebut. 

Strategi pengembangan vaksin Covid-19 meliputi vaksin dari virus inaktivasi, vector virus, virus dilemahkan, vaksin DNA, partikel menyerupai virus, dan subunit protein virus. Pengembangan vaksin membutuhkan waktu lama sekitar 12-15 tahun dan khusus vaksin Covid-19 ini dipersingkat menjadi 18-24 bulan. 

Saat ini, menurut WHO terdapat 44 kandidat vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan dan sebagian kandidat baru dalam tahap uji klinis fase 3. Seluruh dunia sedang berlomba mempersiapkan terwujudnya vaksin Covid-19 termasuk penelitian fase 3 yang sedang dilakukan di Universitas Padjajaran. 

"Semoga vaksin segera dapat tersedia dan aman untuk membantu mempercepat pengendalian pandemi Covid-19 ini, " kata dr.Yudhi berharap. (hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response