Mengamati Awal Ramadhan dan Idul Fitri 1445 H/2024 M

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Ramadhan Tahun 1445 H / 2024 M kurang dari satu pekan lagi. Berdasarkan kebiasaan dan informasi berbagai media bahwa awal Ramadhan akan ditentukan melalui sidang isbat di Kementerian Agama Republik Indonesia yang kemungkinan akan digelar pada tanggal 10 Maret 2024.

Ketua Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unsoed Jamrud Aminuddin, SSi.,MSi.,Ph.D. memaparkan, 

biasanya, pada sidang isbat tersebut, awal Ramadhan selalu ditentukan dengan menggabungkan metode hisab dan rukyah. 

Selain sidang isbat katanya ada juga organisasi besar yang sudah turun temurun mengamalkan metode hisab.

"Metode hisab adalah penentuan awal bulan pada kalender Hijriyah berdasarkan perhitungan astronomi. Metode rukyah adalah penentuan awal bulan dengan cara melihat bulan. Metode hisab sendiri diperoleh berdasarkan data-data pengamatan dengan metode rukyah yang sudah berlangsung lama, sebaliknya rukyah sering digunakan untuk memverifikasi hasil hisab," kata Jamrud,PhD. dipandu Ir.Alief Einstein,M.Hum. dari kafapet-unsoed.com.

Dikatakan, dalam ilmu fisika, kita sering mendengar istilah teori dibuktikan dengan eksperimen, namun terkadang hasil eksperimen menghasilkan teori baru. Kedua metode ini saling mendukung.

"Awal Ramadhan tahun ini sebentar lagi akan ditentukan melalui sidang isbat, kemungkinan akan berbeda antara pengamal hisab dan rukyah. Penjelasannya berdasarkan hasil perhitungan pada perangkat lunak pengolah data astronomi yang dikembangkan oleh Islamic Astronomical Center (IAC)," ujar Jamrud yang sudah menerbitkan 7 judul buku ini.

Pada saat maghrib 10 Maret 2024 (hari Ahad), berdasarkan perhitungan astronomi menggunakan perangkat lunak IAC, konjungsi (ijtima’) akan terjadi pada pukul 16.00 WIB, dimana posisi matahari bumi dan bulan berada pada satu garis lurus. 

Sedangkan pada titik referensi Gedung C Fakultas MIPA Unsoed, Purwokerto, Jawa Tengah, dengan letak astronomi 109:15:15,0 BT dan  07:24:37,6 LS, matahari akan berada di bawah ufuk pada Pukul 17.59 WIB dengan posisi azimuth +265°:57':37" (ufuk barat) dan altitude -01°:26':43" (di bawah ufuk). 

Pada saat itu hilal berada pada posisi azimuth +264°:43':12" dan altitude +00°:40':41". Dengan menggunakan formula segitiga bola bumi, maka sudut elongasi (jarak lengkung antara matahari dan bulan) adalah +02°:27':32". Pada saat itu juga, umur bulan baru sekitar 2 Jam di atas ufuk karena konjungsi (ijtima’) terjadi pada pukul 16.00 WIB.

"Pada kondisi seperti ini, pengamal hisab akan berkesimpulan bahwa 1 Ramadhan 1445 H akan jatuh pada magrib 10 Maret 2024. Artinya pada malam itu (Ahad malam) pengamal hisab akan melaksanakan Sholat Taraweh pertama dan Puasa Hari Pertama pada tanggal 11 Maret 2024 keesokan harinya (Senin),"ujar Jamrud yang mempunyai Hak Kekayaan Intelektual dalam bentuk paten Konverter Energi PLTA.

Dilain pihak, pemerintah menurut Jamrud yang biasanya menerapkan perpaduan antara metode hisab dan rukyah kemungkinan akan memutuskan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada tanggal 11 Maret 2024 selepas magrib. Artinya, sholat taraweh pertama akan dimulai pada malam tersebut (Senin malam) dan puasa pertama akan dimulai pada hari Selasa (keesokan harinya), pada tanggal 12 Maret 2024 M.

Selanjutnya Jamrud yang sudah menerbitkan 20 artikel terindeks Scopus ini menjelaskan bahwa berdasarkan kesepakatan MABIMS (Menteri Agama Brunei Indonesia Malaysia Singapura) terbaru dimana kriteria terlihatnya hilal adalah altitude bulan baru minimal 3 derajat, dengan sudut elongasi 6,4 derajat, sedangkan kriteria umur bulan sudah ditiadakan pada kriteria baru MABIMS berdasarkan RJ2017 (RJ: Rekomendasi Jakarta). 

Berdasarkan kriteria MABIMS tersebut, hilal tidak mungkin terlihat pada hari Ahad selepas magrib pada tanggal 11 Maret 2024 karena tingginya baru +00°:40':41 dengan sudut elongasi +02°:27':32". Sehingga pengamal rukyah akan mencukupkan hitungan bulan Sya’ban menjadi 30. 

"Pada panel A: 10 Maret 2024, hilal tidak mungkin terlihat. Pada hari berikutnya, pada Panel B: 11 Maret 2024 kemungkinan hilal akan terlihat di seluruh wilayah Indonesia bahkan tanpa bantuan teleskop, "katanya.

 Selanjutnya, Idul Fitri 1 Syawal 1445 H berpotensi sama antara pengamal hisab dan rukyah, diperkirakan jatuh pada Hari Rabu, 10 April 2024. Penjelasannya adalah pada tanggal 9 April 2024 M dengan titik referensi yang sama, yaitu gedung C Fakultas MIPA Unsoed, Purwokerto, Jawa Tengah, dengan letak astronomi 109:15:15,0 BT dan  07:24:37,6 LS, matahari akan berada di bawah ufuk pada pukul 17.44 WIB dengan posisi azimuth +277°:24':12" (ufuk barat) dan altitude -04°:02':59" (di bawah ufuk). 

Pada saat itu hilal berada pada posisi azimuth +283°:13':22" dan altitude +03°:45':19". Berdasarkan hasil simulasi dengan perangkat lunak International Astronomical Center, sudut elongasi antara bulan dan matahari sebesar +09°:43':59". 

"Pada saat itu umur bulan sudah 16 Jam di atas ufuk karena konjungsi (ijtima’) terjadi pada pukul 01.21 WIB dini hari tanggal 9 April 2024 M (Hari Selasa). Berdasarkan kriteria MABIMS, hilal diyakini akan terlihat pada saat itu," jelas Jamrud yang punya Hak Cipta pada Pompa Air dengan Kincir sebagai Tenaga Penggerak.

Jamrud menambahkan hasil simulasi potensi terlihatnya hilal 1 Syawal 1445 H pada saat matahari terbenam pada tanggal 9 April 2024 (hari Selasa). Pada saat itu, hilal akan terlihat di seluruh Indonesia hanya dengan menggunakan bantuan teleskop, kecuali bagian utara Pulau Sumatera ada kemungkinan hilal terlihat tanpa bantuan teleskop.

 Dari hasil simulasi yang dilakukan di Jurusan Fisika FMIPA Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah, maka disimpulkan bahwa kemungkinan pengamal hisab akan melaksanakan puasa selama 30 hari dan pengamal rukyah selama 29 hari. 

"Awal Ramadhan kemungkinan dimulai di hari yang berbeda tetapi Idul Fitri kemungkinan dilaksanakan di hari yang sama, "ujarnya.

Semua pendapat Jamrud,PhD. di atas bukan merupakan rujukan utama, silakan menunggu hasil sidang isbat. Dia hanya menyajikan informasi ilmiah. 

"Keputusan ada di tangan pihak yang punya otoritas dalam hal ini Pemerintah RI," ungkap alumni Program S3 Remote Sensing, Chiba University, Jepang, ini mengakhiri.(hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response