Menakar Angka Kasus COVID-19 Di Asia Tenggara, India Dan Cina

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO -Salah satu strategi mengendalikan pandemi adalah vaksinasi. Vaksinasi memang bukan senjata pamungkas untuk mengatasi penularan COVID-19. Namun, cara ini patut diupayakan agar tingkat terpapar dan kematian akibat virus SARS-CoV-2 bisa ditekan. Penanganan COVID-19 tak hanya bergantung pada upaya kesehatan (vaksinasi dan pengobatan) saja. Masyarakat pun harus merespons COVID-19 dengan tepat, melalui perilaku yang kita kenal sebagai 3M (memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir). 

"Perilaku ini secara ilmiah terbukti efektif menekan resiko penularan hingga 99 %," ungkap Koordinator Sistem Informasi Unsoed, Ir.Alief Einstein,M.Hum kepada Matamatanews.com.

Sementara, Dosen Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Yudhi Wibowo, MPH memaparkan bahwa terkait data COVID-19 menurut ourworldindata.org di Asia Tenggara meliputi negara Indonesia, Singapore, Malaysia, Thailand, Brunei, Filipina, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Timor Leste, terdapat 3 negara yang tidak tercatat lengkap yaitu Kamboja, Laos, dan Timor Leste. 

Menurutnya, Data COVID-19 di Asia Tenggara menarik untuk dikupas dan mencoba membandingkan dengan negara India dan Cina. Penduduk negara India tercatat 1,38 milyar dan Cina tercatat 1,44 milyar dengan kepadatan penduduk 450 penduduk/1 km2 (India) dan 148 penduduk/1 km2 (Cina).   

1. Kasus Terkonfirmasi COVID-19 Harian dan Kumulatif

Ahli Epidemiologi Lapangan (Field Epidemiology) Fakultas Kedokteran Unsoed ini menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara dengan jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 harian dan kumulatif tertinggi per 17 Februari 2021 sebanyak 9.687 orang (Kasus Harian) dan 1.243.646 orang (Kasus Kumulatif).

Sedangkan kasus harian di Malaysia 2.988 orang dan Filipina 1.178 orang. Kasus total secara berurutan adalah Filipina 553.424 orang, Malaysia 272.163 orang dan Myanmar 141.690 orang. Kasus harian dan kumulatif ini tentunya masih di bawah jumlah kasus harian dan kumulatif di Negara India sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. 

Di India tercatat penambahan kasus harian 12.881 orang dan kasus total 10.950.000 orang. Sementara negara Cina dimana kasus pertama kali ditemukan, saat ini justru sudah mampu mengendalikan pandemi cukup baik sehingga jumlah kasus harian tercatat 27 orang dan kasus kumulatif tercatat 100.666 orang. 

2. Kasus Kematian COVID-19 Harian, Kumulatif dan CFR

dr.Yudhi Wibowo mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara tertinggi di Asia Tenggara dengan jumlah kasus kematian harian 192 orang dan kematian kumulatif mencapai 33.788 orang dengan Case Fatality Rate (CFR) tercatat 2,7 persen. CFR Indonesia telah melampaui CFR global yang tercatat 2,21 persen per tanggal 17 Februari 2021. 

Negara selanjutnya Myanmar CFR 2,3 persen, Filipina 2,1 persen (Filipina) dan paling rendah adalah negara Singapura yaitu  0,1 persen. 

"CFR Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan CFR India yang hanya sebesar 1,4%, padahal jumlah kasus harian di India jauh lebih besar dibandingkan Indonesia," kata dr.Yudhi. 

3. Positivity Rate dan Rasio Kasus-Lacak

Angka laju positif (Positivity Rate/PR) negara Indonesia kata dr.Yudhi tertinggi yaitu mencapai 38,8 persen,jauh lebih tinggi dibandingkan dengan India yang hanya 2 persen. Sementara rasio kasus-lacak, Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara lain yaitu hanya 1:4 orang yang diperiksa, jauh sekali dibandingkan negara Vietnam (1:698,2), Myanmar (1:103,5), India (1:62) dan tertinggi rasio kasus-lacak adalah negara Singapura yaitu 1:1.555,7. 

Tren rasio kasus lacak di Indonesia fluktuatif cenderung tetap yaitu 1:4 orang (11 Januari 2021) dan 14 Februari 2021, namun pernah turun pada tanggal 15-16 Januari 2021 hanya 1:3,1 orang. Tes harian per 1.000 penduduk juga terus menurun yaitu pada tanggal 19 Januari 2021 tercatat 0,18/1.000 penduduk menjadi 0,12/1.000 penduduk per tanggal 14 Februari 2021. 

4. Vaksinasi

Dari sisi vaksinasi, dr.Yudhi mengungkapkan bahwa Indonesia jauh lebih baik dibandingkan negara lainnya, tercatat 79.390 orang yang baru divaksin dengan total 1.660.000 orang telah divaksin. Sementara jumlah total orang yang telah divaksin di Myanmar 103.142 orang dan Singapura 250.000 orang. India telah mencapai 9.000.000 orang yang telah divaksin padahal Indonesia lebih dulu melaksanakan vaksinasi dibandingkan India.  

5. Catatan Untuk Perbaikan

dr.Yudhi menambahkan berdasarkan data tersebut, maka ada beberapa catatan serius dan urgen untuk segera dilakukan upaya perbaikan di Indonesia dalam rangka mengendalikan pandemi COVID-19 yaitu:

a. Penguatan kapasitas 3T meliputi Tracing, Testing, dan Treatment,

b. Sejalan dengan kebijkan PPKM Mikro, maka seharusnya ada akselerasi untuk meningkatkan jumlah tracing dan testing. Diikuti dengan treatment atau tindak lanjut bagi masyarakat yang dinyatakan kontak erat dengan karantina mandiri dan pemeriksaan Rapid Anti Gen (RAT)/ PCR bagi yang bergejala serta melakukan isolasi mandiri/terpusat secara benar bagi OTG dan gejala ringan dan merujuk ke RS bagi yang bergejala sedang, berat/kritis,

c. PPKM Mikro harus diimplementasikan secara konsisten dan tegas di lapangan,

d. Evaluasi dan peningkatan perbaikan pada upaya Treatment khususnya di RS,

e. Evaluasi terkait kapasitas fasyankes yaitu meliputi ketersediaan sarana prasarana berupa ketersediaan jumlah TT, Ruangan ICU, Ventilator, HFNC/NIV, obat-obatan, terapi lainnya. Termasuk kapasitas sumber daya manusia (SDM) baik secara kuantitas maupun kualitas. Perlu dilakukan audit medis/klinik di Rumah Sakit yang merawat pasien COVID-19 sebagai bentuk penjaminan mutu layanan secara internal,

f. Perlunya sinkronisasi data antara data di daerah dan pusat serta keterbukaan informasi terkait data-data yang relevan sebagai indikator keberhasilan pengendalian pandemi. Setiap daerah mulai dari pemkab/pemkot, pemprov serta pusat sebaiknya menginformasikan secara terbuka data-data tersebut baik melalui media situs resmi atau media lain. Hal ini penting sebagai upaya transparasi dan membangun kepercayaan publik. Selama ini banyak daerah yang belum menyajikan data jumlah orang yang diperiksa, ketersedian TT, ruangan ICU, jumlah ventilator dan jumlah HFNC/NIV. Data tersebut seharusnya real time di-update setiap hari,

g. System surveilans juga harus dievaluasi dan diperbaiki, agar tidak ada data yang under-reported atau under-recorded,

h. Peningkatan keterlibatan masyarakat dalam upaya mengendalikan pandemi, terutama tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan lain sebagainya untuk membantu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya disiplin protokol kesehatan 5M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan/keramaian, dan membatasi mobilitas) dan sangat penting adalah role model,

i. Kemudian kelompok risiko tinggi harus dilindungi,

j. Perlunya akselerasi proses vaksinasi agar segera tercapai herd immunity sebagai upaya pencegahan spesifik. 

Dari uraian di atas dr.Yudhi Wibowo menyimpulkan bahwa :

a. Pandemi COVID-19 di Indonesia masih belum terkendali meskipun berbagai upaya telah dilakukan,

b. Diperlukan upaya yang lebih serius, masif, agresif, serta diimplementasikan secara konsisten dan tegas dengan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam upaya mengendalikan pandemi,

c. Peningkatan kedisiplinan masyarakat terhadap protokol kesehatan melalui 5M,

d. Optimasisasi upaya 3T dan Isolasi serta secara simultan diperlukan akselerasi vaksinasi. (Hen)

 

redaksi

No comment

Leave a Response