Memaknai Tradisi "Tumpeng" Dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

 

Matamatanews.com, PURWOKERTO--Seperti dikenal dalam masyarakat pada umumnya, tumpeng yang ada di keraton juga memiliki wujud dasar berupa nasi yang dibentuk kerucut dengan menggunakan kukusan atau cetakan. Kata ‘tumpeng’ konon merupakan akronim dari ‘tumapaking penguripan-tumindak lempeng-tumuju Pangeran’ yang bermakna bahwa manusia itu harus menuju jalan Tuhan Yang Maha Esa. Penyajian tumpeng menjadi salah satu simbol permohonan atas perlindungan, keselamatan, dan ridha dari Tuhan untuk setiap hajat dalam hidup.

Berbagai jenis tumpeng yang disajikan di keraton merupakan perwujudan berbagai harapan. Setiap bentuk memiliki makna tersirat. Seperti tumpeng kendit yang terbuat dari nasi putih dan dikelilingi perasan parutan kunyit di tengah tumpeng menyerupai kendit (sabuk). Lilitan kuning kunyit tersebut melambangkan kesulitan dan aneka lauk-pauk mencerminkan berbagai usaha untuk mengatasinya. Tumpeng kendit adalah wujud pengharapan jalan keluar dari berbagai kesulitan.

Selain tumpeng kendit, ada pula tumpeng jene atau punar, yaitu olahan nasi yang diberi bumbu, santan, dan kunyit hingga warnanya kuning (jene). Lauk pauk yang menyertainya berupa sambal goreng krecek daging giling atau sambal goreng krecek kentang, perkedel, capcai, bistik, acar mentimun dan wortel, tempe bacem goreng, ento-ento, asren, telur ceplok, rempeyek kacang, dan rempeyek gereh. Warna kuning terang yang menyerupai emas bermakna kemakmuran dan kekayaan, sehingga terhidangnya tumpeng ini diharapkan mampu memberi kelimpahan bagi pemilik hajat.

Selain kedua tumpeng tersebut, terdapat tumpeng gundul dan robyong yang disajikan bersamaan sebagai simbol harapan akan ridha Tuhan dan ungkapan syukur atas bantuan keluarga serta lingkungan atas tercapainya keinginan. Ada juga tumpeng urubing damar agar seseorang dapat menjadi sinar terang bagi orang-orang di sekelilingnya.

Berbeda dengan apa yang biasa disajikan oleh umum, di keraton terdapat berbagai macam tumpeng dengan bentuk dan makna yang khas. Beberapa diantaranya adalah tumpeng ropoh, duplak, megono, pungkuran, dan sangga buwana.

Tumpeng duplak terbuat dari nasi putih dan puncaknya membentuk kawah sebesar telur. Tumpeng megono dibuat dari nasi putih dan di dalamnya diletakkan sebutir telur bebek pindang serta sayur gudhangan berbumbu megono. Tumpeng ropoh dibuat dari nasi putih yang disajikan bersama aneka lauk dan selirang pisang raja, kembang sundukan, salak, sawo, dan nanas.  Tumpeng ini menjadi simbol kebersamaan yang sejati, rasa senasib sepenanggungan antara pemilik hajat dan tamu-tamu yang hadir.

Sebagian tumpeng di atas disajikan secara bersamaan, namun ada yang dihidangkan sendiri menyesuaikan makna dan tujuannya. Tumpeng sangga buwono disajikan dalam sugengan peringatan hari kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sedangkan tumpeng pungkur, dibuat ketika ada keluarga keraton yang meninggal dunia.

Pada peringatan kelahiran Ngarsa Dalem berdasarkan penanggalan Jawa, disajikan berbagai tumpeng. Beberapa di antaranya yang cukup khas antara lain: Tumpeng Sewu, Tumpeng Soko Guru, dan Tumpeng Yuswa.

Tumpeng sewu, dibuat dari nasi putih dan berukuran kecil. Lauk pauknya berupa bubuk kedelai, jangan kothok, bongko pelas, kethak kluwak, gudhangan bumbu anyep, dan telur bebek pindang yang dibelah jadi delapan bagian. Dalam sekali sajian dibuat 100 rangkaian tumpeng.  Tumpeng soko guru dibuat dari nasi putih yang disajikan dalam besek. Lauk pendampingnya ditata di atas sudi. Lauk ini berupa telur dadar, tempe bacem goreng, ento-ento, asren, perkedel, sambal goreng kentang krecek, tumis buncis, rempeyek kacang, dan rempeyek gereh.

Tumpeng yuswo, dibuat dari nasi putih yang dibentuk kerucut. Lauknya terdiri atas gudhangan bumbu anyep, jangan kothok, kethak kluwak, bubuk kedelai, dan sebutir telur bebek pindang dibelah dua. Setiap tahun tumpeng yuswo dibuat sejumlah usia masehi sultan yang tengah bertakhta.

Tumpeng juga mewarnai berbagai peringatan daur hidup. Di lingkungan keraton sejak prosesi kelahiran hingga kematian, dikenal adanya tumpeng bancakan. Tumpeng ini tidak memiliki nama khusus namun biasa disajikan untuk syukuran atau peringatan dalam beberapa prosesi daur hidup seperti selapanan atau prosesi tedhak siten.

Tumpeng bancakan dibuat dari nasi putih dengan lauk telur bebek pindang dan sayur gudhangan yang terdiri atas rebusan kacang panjang, tauge, kubis, daun bayam, kangkung, daun lembayung, dan wortel. Jika upacaranya diperuntukkan untuk anak perempuan, bumbu gudhangan dibuat anyep (tidak pedas), sedangkan untuk anak laki-laki dibuat megono (pedas).

Lazimnya, tumpeng berwarna putih atau kuning, tetapi di keraton tumpeng juga disajikan dalam warna-warna lain. Seperti tumpeng biru atau disebut juga kapuranto, yaitu tumpeng yang terbuat dari nasi putih yang diberi pewarna makanan biru. Tumpeng kapuranto biasa dihadirkan sebagai simbol atau media permintaan maaf dari pembuat kepada orang yang diberi.

Selain itu, ada juga tumpeng monco warno yang berarti aneka warna. Pawon keraton biasa menyiapkan tumpeng      kecil dalam tujuh warna. Selain putih dan kuning, dibuat juga tumpeng merah, biru, hijau, cokelat, dan hitam. Tumpeng ini disajikan di atas ancak atau wadah persegi dari tangkai daun pisang dan potongan bambu yang menyimbolkan agar berbagai keinginan terwujud dengan baik. 

Tumpeng Kapuranto biasanya disajikan bersamaan dengan jenis tumpeng lain pada saat upacara Sugengan Ageng. Tumpeng monco warna dibuat untuk acara rutin, atau disebut Sugengan Patuh setiap Kamis Wage dan Senin Wage.(Ditulis oleh Nyi Mas Hamong Yuliana GKR Anom, Murdijati Gardjito dan Lilly T. Erwin,hen)

redaksi

No comment

Leave a Response