Memaknai Kode Langit

 

Matamatanews.com, JAKARTA— "Ego“ tak hanya dikukuhkan oleh Descartes, di sebilah kota kecil di Negeri Belanda, di abad ke-17 yang dingin. Percakapan ego-autentik justru mekar dari pesan kudus langit. Alquran surah Al-Thariq/86 : 1-7 adalah salah satu variannya, “Demi Langit dan Misteri Malam! Dan tahukah kamu apa yang terkadung dalam misteri malam? Bintang yang berpendar cahayanya. Setiap ego pasti ada penjaganya. Maka hendaklah setiap ego mengkaji dari apa dia dicipta. Dia dicipta dari air yang terpancar, yang keluar dari tulang punggung dan tulang dada.“

Jejak surah dan semiosis dari langit tersebut mengandaikan jika ego-autentik akan tersingkap justru ketika kita mampu memecahkan tiga kode Tuhan perihal “langit“ (al-sama'), “misteri malam“ (al-thariq) dan “bintang yang berpendar“ (al-najm al-staqib). 

“Langit“ adalah lambang ketinggian, jejak kemuliaan, alegori transenden. Hal ini menjadi pengandai jika ego-autentik, sejatinya bagian dari elemen langit, bukannya bumi. Itu sebabnya, dalam kajian spiritualisme Islam, manusia modern diandaikan sebagai ego-ego yang tersandra pada simulakrum “aku-bumi,“ serba bendawi, profan, dan telah kehilangan narasi-narasi langit, cenderung panik serta acapkali disorientasi ketika dikerkah masalah-masalah hidup yang kompleks. Teosof-penyair Jalaluddin Rumi, di titik ini bersenandung, "Duhai, ego! Mengapa engkau musti melata dan meratapi hidupmu di bumi, bukankah di bawah kakimu ada tujuh lapis langit"?

Sementara “malam“ identik dengan jagat rahasia. Ego-autentik, sebab itu adalah juga sehelai misteri, sebagai jejak napas Sang Maha Misteri di dalam setiap ego. Sejatinya, misteri-ego-autentik, dikukuhkan di kegelapan malam. Ibarat  “bintang berpendar cahayanya“ justeru ketika ia dikepung kegelapan malam. Itu pula sebabnya mengapa pesan moral Alquran meletakkan malam sebagai medium paling senyap untuk mengkaji ego, merenungkan hakikat diri-autentik dan menemukenali aku-yang-fitri:“Dan pada sebagian malam, tegakkanlah tahajjud, (di sana) amat banyak kebajikan tak tepermaknai, Dan Tuhanmu akan mengangkatmu pada level orang-orang yang istimewa" (Qs.Al-Isra'/17:79).

Ketika dunia modern cenderung memposisikan malam sebagai detak waktu yang identik dengan kejahatan, dunia  durjana dan demoralisasi, Alquran justeru meneguhkan sebaliknya, malam adalah masa di mana pintu-pintu langit terbuka luas untuk mencurahkan berbagai perkabaran kudus-Nya dan melimpahkan samudra Maha Cinta-Nya.

Manusia modern, setidaknya pendakuan Seyyed Hossein Nasr dalam Islamic Art and Spirituality (1987) adalah manusia yang terlempar pada lingkar-lingkar luar eksistensinya (mundis), dan kehilangan pusat spiritual ego-autentiknya (axis).

Pada ladang kearifan dan samudera tradisi antik Bugis-Makassar, tempat dimana visun kebudayaan merekah konsep ego-autentik dikenal sebagai “tau“ untuk membedakannya dengan “rupa-tau“ (paras), “tau-tau“ (simulasi diri, citra) dan “taung-taung“ (bayangan atau cermin diri).

Dalam tradisi para Karaeng dan Puang ini tiga konsep terakhir, bersifat nisbi dan tidak autentik. Sebab itu, relasi yang dihadirkannya pun dengan sendirinya palsu dan guyah. Kehidupan  kita kini tengah dikepung oleh hiperialitas semesta realitas “palsu” yang kerap mengancam kita jatuh pada relasi diri tak autentik.

Di titik ini, menarik membentangkan permenungan Schlairmacher yang meletakkan relasi-relasi manusia modern ke dalam tiga kategori, “subyek-predikat”, “predikat-predikat” dan “inter-subyek”. 

Dalam pendakuan Schlairmacher, dua relasi pertama rentan, instan dan guyah karena dibangun diatas relasi diri tak autentik yang meniscayakan aneka predikat politik, kultural, profesional, sosial, struktral, dan seterusnya. Sementara relasi “inter-subyek” adalah hubungan sublim antara aku-autentik.

Seyyed Hossein Nasr, dalam Knowledge and Sacred (1992) melukiskan, aku-autentik sebagai sebuah “lingkaran” yang meliputi axis (pusat lingkaran center) dan mundis (tepi luar lingkaran). Ego-autentik, karena itu adalah axis sepadan dengan anggitan “tau“ (Bugis-Makassar) yang  dalam pendakuan Frithjof Schuon pada karya monumentalnya "The Transcendent Unity of Religions" (1976) disebut sebagai “sesuatu yang identik dengan kenyataan ilahi”. Dengan begitu Ego-autentik adalah “citra ilahi” yang terhunjam kukuh dalam diri setiap orang.

Di aras kesadaran ini, mungkin kita bisa merekonstruksi makna hermeneutis sebilah nubuah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam    , “Barangsiapa menegakkan malam-malam ramadhan yang bertumpu pada nafas iman yang sublim dan mengkaji ego autentik secara sungguh-sungguh, Allah akan meluruhkan dosa-dosanya yang silam". 

Itu sebabnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala  memilih tonggak waktu penuh limpahan nafas cinta-Nya justru di malam “qadar“, di setiap penghujung bulan penuh cahaya yaitu "Ramadhan".

Pada ladang subur kerohanian Islam, ego-autentik selalu mengalami kerinduan primordial untuk memenuhi panggilan suci jiwanya. Diksi Al-Qur’an menyuratkannya, min al-Zhulumati ila al-nur: dari “kegelapan menuju cahaya.“

Di titik inilah pesan-pesan langit hadir sebagai sebuah kesaksian, momentum ramadhan adalah medan spiritual yang lapang, di mana ego-autentik hanya bisa eksis ketika seseorang mampu melepaskan selubung ego-tak-autentiknya, lalu bergegas dari mundis ke axis, atau dari rupa-tau ke tau, yang sejauh ini terjerat sangkar-sangkar simulakrum.*( Penulis: Dr.Mohammad Sabri M.Ag- Direktur Pengkajian dan Materi BPIP/wisnu)

 

redaksi

No comment

Leave a Response