Masihkah Keadilan Berpihak Pada Septian Mantan Pegawai PT .ASA Pekan Baru?

 

Matamatanews.com, TANGERANG—Sedikitpun tidak terpikirkan dalam benak Septian Ade Saputra, mantan pegawai PT.Alatama Surya Agung Cabang Pekan Baru untuk menjadi tersangka atas dugaan penggelapan uang perusahaan tempatnya bekerja hingga berujung bui. Dalam rilis yang diterima media ini dari Kuasa Hukum, Septian, Jon Hendry, SH, MH dari LBH Pelopor Keadilan, menerangkan bahwa kliennya ditangkap berdasarkan pemeriksaan internal  terdapat selisih uang sebesar Rp 4 juta yang tidak diketahui tersangka.

Disebutkan, bahwa tersangka telah bekerja selama 9 tahun lebih sebagai tenaga kontrak yang selalu diperpanjang dengan jenis pekerjaan beragam seperti tekhnisi merangkap administrasi, stok gudang, kirim barang, tim demo, kebersihan, menjaga keamana plus service center. Meski menyandang pekerja rangkap, tersangka hanya bergaji  Rp 4.500.000 per bulan.

Karena ketidaktahuan dan kesibukannya, kemungkinan selisih uang Rp. 4 juta itu terjadi hingga berbuntut pelaporan dan ditangkap.Padahal, Septian seperti  diceritakan kuasa hukumnya, pernah mengajukan kepada perusahaannya untuk menambah karyawan, namun tidak pernah direalisasi.Meski permintaan penambahan karyawan tidak pernah direalisasi, Septian tetap melaksanakan pekerjaannya seperti biasa bahkan siap mutasi kapan pun.

Disebutkan, tersangka sebenarnya sudah berupaya melakukan damai hingga menemui pimpinan perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta, namun gagal, dan terkesan memang harus menjalani proses hukum.Akhirnya tersangka mengikuti saran untuk membuat surat pengunduran diri sebagai karyawan, yang dalam benaknya bila surat pengunduran diri diajukan maka masalahnya akan selesai.

Singkat cerita, Septian diminta untuk mengambil ijazah sekolahnya di kantor pusat, diluar dugaan sejumlah polisi dari Polsek Senapelan Pekan Baru telah menunggunya dan langsung membawanya dengan status sebagai tersangka. Penangkapan itu terkesan bahwa pihak kepolisian  terlalu tergesa-gesa dalam melakukan tugasnya, hingga  sejak laporan dibuat sampai  keluarnya surat perintah penyidikan dan penangkapan. Padahal, seperti diceritakan dalam rilis,sejak laporan dibuat hingga keluarnya surat perintah penyidikan dan penangkapan yang singkat tersebut, tersangka tidak pernah mendapat surat panggilan sepotong pun.

"Kami akan mengadukan ke Propam Mabes POLRI dan KompolNas ". "Tujuan kami untuk meminta perlindungan hukum klien kami, "tambah Jon. Bentuk nya seperti apa  ya?. " Lihat saja nanti,bang,"pungkasnya dengan nada serius.  (togun/cam).

 

redaksi

No comment

Leave a Response