Mantan PM Thailand Yingluck Shinawatra Dikabarkan Buron ke Singapura

 

Matamatanews.com, THAILAND—Mantan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra kemungkinan besar telah berada di luar negeri setelah dirinya tidak menghadiri sidang pada Jum’at (25/8/2017) lalu di Bangkok. Pernyataan tersebut dikeluarkan junta militer Thailand lantaran Yingluck tidak hadir dalam persidangan dirinya  sehingga dianggap buron.

Seorang pejabat partai yang tidak ingin disebut namanya mengatakan kepada kantor berita Jerman DPA, Yingluck Shinawatra kemungkinan besar sudah menginggalkan Thailand.

"Dia pasti sudah meninggalkan negara ini, kemungkinan besar hari Rabu malam. Dia sekarang ada di Singapura, tapi saya tidak tahu berapa lama dia akan tinggal di sana," kata sumber itu

Ribuan pendukung Yingluck menunggu dari sejak fajar untuk melihat PM wanita pertama Thailand itu, namun dia tidak muncul di pengadilan. Hal ini memicu spekulasi bahwa Yingluck kemungkinan sudah meninggalkan Thailand dan bergabung bersama kakaknya Thaksin yang berada dalam pengasingan.

"Pengacaranya mengatakan bahwa dia sakit dan meminta untuk agar keputusan ditunda ... pengadilan tidak percaya bahwa dia sakit ... dan memutuskan untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan," kata hakim utama Cheep Chulamon. Proses pengadilan kemudian ditunda sampai 27 September.

Thailand sejak lama terpecah antara kubu pendukung clan Shinawatra, terutama masyarakat miskin di pedesaan, dan elit militer serta lalangan atas dan menengah yang loyal keüada kerajaan. Mereka menolak klan Shinawatra dan menolak hasil pemilu yang dimenangkan Thaksin dan Yingluck. Pihak militer kemudian melakukan kudeta tidak berdarah tahun 2014 dan mengambil alih pemerintahan di Thailand.

Di pengadilan, Yingluck Shinawatra digugat karena kelalaian atas kebijakan subsidi beras unggulan. Dia menghadapi hukuman 10 tahun penjara dan larangan berpolitik seumur hidup.

"Saya baru mengetahui bahwa dia tidak hadir (di pengadilan)," kata kepala junta militer mantan Jendral Prayut Chan-O-Cha kepada wartawan. "Saya telah memerintahkan pos pemeriksaan perbatasan untuk ditingkatkan," katanya, termasuk rute lokal dan utama di luar negeri.

Tapi pengacara Yingluck membantah dia telah melarikan diri. "Saya diberitahu pada jam 8 pagi bahwa dia sakit karena penyakit Meniere dan merasakan vertigo, jadi dia meminta pengadilan untuk menunda," kata pengacaranya Norawit Larleng di luar gedung pengadilan. Saat ditanya apakah Yingluck masih di Thailand, dia menjawab  "Saya tidak tahu."

Saudara laki-laki Yingluck, Thaksin Shinawatra juga mantan perdana menteri, melarikan diri dari Thailand pada tahun 2008 sebelum dia dihukum karena tuduhan korupsi dan harus menjalani hukuman dua tahun penjara.

Dia belum kembali sejak itu dan paspor Thailandnya telah dicabut. Dia diyakini menggunakan paspor Montenegro untuk bepergian di antara rumahnya di Dubai, London, Hong Kong dan Singapura.

Klan Shinawatra memang tetap kuat dalam panggung politik di Thailand meski ada dua kudeta, demonstrasi berdarah dan serangkaian kasus hukum serta perampasan aset.

Menurut seorang pengamat, tahanan penjara untuk Yingluck, 50 tahun, adalah upaya untuk menghantam pengaruh dinasti Shinawatra dalam politik Thailand.

Yingluck Shinawatra sendiri bersikeras dia tidak bersalah atas tuduhan yang disangkakan kepadanya dan mengatakan bahwa dia adalah korban sebuah "permainan politik yang halus."

Tapi tiga tahun pemerintahan junta militer yang represif berhasil meredam perlawanan, namun masih banyak resistensi terhadap kekuasaan militer saat ini. Masa depan demokrasi di Thailand tampak suram, dengan sebuah undang-undang dasar baru yang dibuat junta militer untuk membatasi pengruh kubu politik lain. Thailand dijadwalkan melakukan pemilu tahun depan, namun jadwalnya sudah beberapa kali digeser. (cam/dw/hp/ap (dpa, afp,rtr)

 

sam

No comment

Leave a Response